Antisipasi Kebutuhan Air, Kementan Bangun Embung di Kota Samarinda

oleh -47 views

SAMARINDA – Kementerian Pertanian (Kementan) membangun embung di Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda. Pembangunan embung ini untuk mengatasi kekurangan pengairan sepanjang musim pertanian di Kota Samarinda.

Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, Pemerintah harus melakukan upaya antisipasi permasalahan kebutuhan air. Karena memang manfaat infrastruktur air seperti embung, dam parit maupun long storage akan terasa ketika kemarau datang.

“Bangunan air seperti embung akan bermanfaat meskipun debit air kecil, air masih bisa teralirkan ke sawah-sawah petani. Sehingga petani bisa menambah pertanaman dalam setahun, dari satu kali menjadi dua kali,” jelas Mentan SYL, Rabu (23/12).

Mentan SYL menjelaskan, insfrastruktur air ini juga sangat berguna dalam pengelolaan air lahan kering maupun tadah hujan. Dirinya berharap masyarakat dan para petani bisa menjaga dan merawat apa yang telah dibangun oleh pemerintah.

“Saya pesan kepada petani dan masyarakat agar menjaga dan memelihara embung dengan baik. Jangan sampai rusak atau terbengkalai karena ini kan manfaatnya selain buat petani juga masyarakat bisa menggunakan air di sini saat kekeringan,” tuturnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan, pembangunan embung itu diharapkan bisa menampung air hujan dan mengairi sawah, sehingga mampu meminimalisir kerugian petani.

“Program pembangunan embung itu merupakan program strategis untuk penampungan air hujan atau sumber-sumber mata air di tempat lain. Sehingga, ke depan, program embung mampu mengantisipasi kekeringan di lahan pertanian kita,” kata Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, pembuatan embung sangat diperlukan. Jika musim hujan lahan tidak terendam air, di musim kemarau saat air dari irigasi tidak mencukupi maka embung bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk mengairi lahan padi atau tanaman pertanian lainnya.

“Kami meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan pertanian yang lebih baik. Proyek konservasi lahan juga diharapkan menyelamatkan lahan kritis dengan menanamkan tanaman konservasi produktif,” pungkas Sarwo Edhy.

Pembangunan embung ini dilakukan secara Swakelola oleh Kelompok Tani Pada Elo. Dana bantuan ini berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tugas Pembantuan (APBN-TP) dengan Program Bantuan Pemerintah (BAPEM) Tahun Anggaran (2020).

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertanian, khususnya Ditjen PSP, yang telah mengalokasikan Dana Bantuan Pembangunan Embung dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tugas Pembantuan (APBN-TP) dengan Program Bantuan Pemerintah (BAPEM) Tahun Anggaran (2020),” ujar Ketua Kelompok Tani Pada Elo, Syaiful Hakim.

Luas areal yang terairi 25 Ha, sumber air dari mata air dan tadah hujan serta aliran anak sungai. Produktivitas sebelum memiliki embung sebanyak 3,85 ton/ha. Namun saat sesudah memiliki embung menjadi 5 ton/ha.

“Kenaikan ini dikarenakan adanya tampungan air berupa embung sehingga air untuk irigasi persawahan selalu terpenuhi,” ujarnya.

Pembangunan embung ini, tentunya menambah tersedianya sumber air dan cadangan air untuk mengairi lahan pertanian baik sawah, hortikultura dan perkebunan pada saat musim kemarau.

“Pembangunan Embung yang merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan,” jelasnya.

Air yang ditampung tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budidaya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi (high added value crops) di musim kemarau atau di saat curah hujan makin jarang dan supply air irigasi menurun.

“Bersama-sama kita bergandengan tangan untuk berswasembada pangan membangun bangsa dan negara,” pungkasnya.