AUTP Jadi Perisai Petani Bogor Hadapi Gagal Panen

oleh -40 views

JAKARTA –┬áPetani Desa Bojong, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berdiri ditengah sawahnya yang mengalami kekeringan. Sejak tiga bulan lalu desa tersebut mengalami kekeringan mengakibatkan ratusan hektar sawah dipastikan gagal panen.

Agar tak terus merugi ketika terjadi gagal panen, Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan kepada petani di Kabupaten Bogor agar mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) atau asuransi pertanian sebagai perisai dalam menghadapi gagal panen.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menuturkan, AUTP merupakan program yang dirancang untuk melindungi petani dari kerugian. Pertanian, kata Mentan SYL, merupakan sektor yang rentan, utamanya terhadap perubahan iklim dan serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).

“Agar petani tetap tenang dalam menjalankan budidaya pertaniannya, AUTP ini menjadi pelindung mereka. Ada pertanggungan yang didapat ketika petani mengalami kerugian karena gagal panen,” kata Mentan SYL.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menambahkan, AUTP bukan hanya sekadar program proteksi budidaya pertanian petani, tetapi juga menjaga tingkat produktivitas pertanian. Dengan AUTP, petani akan tetap dapat berproduksi meski telah mengalami gagal panen.

“Ada pertanggungan yang didapat sebesar Rp6 juta per hektar per musim ketika petani mengalami gagal panen. Jadi, mereka tetap memiliki modal untuk dapat berproduksi dan meningkatkan produktivitasnya,” tutur Ali.

Di sisi lain, AUTP juga menjaga tingkat kesejahteraan petani agar tetap stabil. Meski mengalami gagal panen, petani tak khawatir akan terganggu kesejahteraan mereka. “Program AUTP ini sejalan dengan program pembangunan pertanian nasional yakni menyediakan pangan untuk seluruh rakyat, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggenjot ekspor,” ujarnya.

Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Indah Megahwati menjelaskan teknis jika petani mengikuti program AUTP ini. Pertama, petani harus terlebih dahulu tergabung dalam kelompok tani. “Lalu mendaftarkan lahan yang akan mereka asuransikan sebelum berusia 30 hari,” papar Indah.

Mengenai pembiayaan, Indah menyebut petani cukup membayar premi sebesar Rp36 ribu per hektar per musim tanam dari premi AUTP sebesar Rp180 ribu per hektar per musim tanam. “Sisanya sebesar Rp144 ribu disubsidi pemerintah melalui APBN. Ada banyak manfaat dari program AUTP ini yang tentunya dengan biaya ringan,” kata dia.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.