Hantar Petani ke Tanah Suci, READSI Kementan Lesatkan Kakao

oleh -53 views

LUWU – Seluruh penduduk desa sepi. Situasi desa yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk warganya, tiba-tiba hening. Senyap. Tak ada canda anak-anak sepulang mengaji yang menjadi rutinitas sebelum mereka kembali ke peraduan. Ya, kala itu penduduk desa benar-benar sepi, bak ditelan bumi. Rupanya, mereka ramai-ramai pergi ke Mekah, tanah suci bagi umat Muslim.

Ya, panen raya kakao dengan harga yang cukup tinggi membuat penduduk berlimpah rejeki. Sebagai masyarakat religius, mereka memutuskan untuk pergi beribadah haji. Peristiwa itu terjadi pada medio tahun 2000-an.

Sekitar 81 petani kakao di Desa Saluparemang Selatan, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan berangkat ke tanah suci. Dahulu, satu hektar lahan kakao menghasilkan dua ton per tahun.

Kondisi itu tak berlangsung lama. Hama PBK mulai muncul beberapa waktu kemudian dan menggerogoti lahan petani sedikit demi sedikit. Lahan yang dulunya bisa menghasilkan 2 ton kakao per tahun kini hanya bisa sampai 400 kilogram saja. Banyak petani yang frustrasi dan mulai meninggalkan lahannya. Banyak petani mengonversi lahannya untuk komoditas pertanian lain yang dianggap menjanjikan. Di tengah kondisi tersebut, masih ada beberapa petani yang tetap bertahan dengan komoditas kakao.

Saat ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) tengah menggalakkan program Rural Empowerment Agricultural Development Scaling Up Initiative (READSI) untuk bisa memaksimalkan sejumlah komoditas di Luwu, termasuk kakao.

Melalui program READSI Kementan mendorong kembali produktivitas pertanian di Luwu, utamanya kakao agar dapat berjaya kembali.

Koordinator Fungsional Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Abdul Kahar tak menampik jika kakao sempat mencapai kejayaannya dan membuat masyarakat sejahtera. Pria ini juga menjabat sebagai Asisten Penyuluhan dan Pelatihan READSI Kabupaten Luwu ini bertekad agar kakao kembali menjadi komoditas unggulan di wilayahnya. “Sekarang kita ingin bangkitkan kembali kejayaan seperti tahun 2000 lalu,” kata Kahar.

Progra. READSI, Kahar melanjutkan, mendorong kembali petani di Luwu untuk meningkatkan produktivitas kakao. Petani pun menanam kembali. Pengolahan dengan teknologi dan pengetahuan yang baik didapat oleh petani melalui program READSI.

 

Abdul Kahar menjelaskan, produksi pertahun kakao saat ini mencapai 1,4 ton per hektar. Ia berharap setelah tersentuh program READSI produktivitas kakao di wilayahnya meningkat menjadi dua ton per hektar. “Harapan kami seperti itu. Untuk meningkatkan produktivitas, lahan dan tanamannya harus diperbaiki. Melalui program READSI ini petani mendapat pengetahuan akan hal tersebut,” katanya.

Salah satu yang digenjot juga adalah peningkatan kapasitas SDM penyuluh. Mereka harus memahami dengan baik secara keseluruhan tentang kakao.

“Prospek kakao di sini bagus, bahkan pernah jaya dan menjadi sentra. Hanya memang belakangan ada persoalan dengan sangat kompleks. Seperti gangguan tanah atau hama, sehingga dari bahan tanaman kita itu rawan sekali,” kata Kahar.

Cocoa Academy Trainer Coordinator MARS, Agus Salim menjelaskan, ada sejumlah materi yang disampaikan ke peserta, khususnya untuk peserta READSI.

Pertama, materi adopsi observasi (AO). Peserta diajarkan bagaimana cara praktik di lapangan untuk mengobservasi lahan terkait dengan bahan yang diadopsi oleh petani, di antaranya adalah bahan tanam. “Kedua, kita mengajarkan teman-teman untuk nursery management atau melakukan pembiakan tanaman kakao dengan metode yang baik dan benar. Setelah pemberian materi ini, kami langsung terjun ke lapangan,” katanya.

Materi ketiga adalah *_replanting_* atau metode penanaman ulang yang di dalamnya terdapat konsep *monokultur* yang atau seluruhnya tanaman kakao konsep *deservikasi* atau *agroforestry*.

“Keempat, peserta juga sudah mendapatkan materi GEF, atau agrikultur praktis di antaranya kita mengajarkan bagaimana cara pemangkasan yang baik, pemupukan, panen teratur, sanitasi dan penyemprotan,” katanya.

Menurut Agus Salim, inti dari materi yang disampaikan adalah mengajak peserta untuk melakukan coaching ke petani.

“Jadi bagaimana implementasi dari treevity dari kita rangkum di satu paket agronomi yaitu, bagaimana pengenalan bahan tanam, dan menyalurkan ke petani untuk bisa menanam tanaman tanaman yang sudah standar sertifikasi,yang kedua bagaimana menerapkan teknologi yang terbaru dari kakao, bagaimana pemupukannya, pemangkasannya,dan bagaimana panen teraturnya, sanitasi dan penyemprotannya,” katanya.

Yang terakhir, dan yang paling penting, yaitu bagaimana petani bisa diarahkan untuk menggunakan pupuk-pupuk rekomendasi yang tidak mengandung bahan amoniak yang tinggi.

“Kalau untuk antusias, sampai saat ini peserta sangat antusias. Sebelum kita mulai training mereka sudah hadir untuk freepart, dan brefing setelah itu kita menuju lapangan, peserta di lapangan itu secara kegiatan mereka sangat semangat, secara pemahaman mereka cukup  memahami walaupun masih perlu kegiatan praktik yang lebih untuk dapat istilahnya intisari dari materi yang disampaikan,” katanya.

Agus Salim menambahkan, kerja sama antara READSI dan MARS ini sudah berlangsung untuk program ke depannya itu lima tahun. Sekadar informasi, MARS merupakan perusahaan salah satu pengolahan kakao.

“Jadi kita berusaha bagaimana meretas akses daripada petani-petani yang dulunya mungkin otodidak dalam berkebun kita berusaha untuk mengubah mainsite petani itu sendiri dengan mengajari petani dengan konsep-konsep yang memang sudah diteliti dan itu akan dilakukan pemanjangan tangan dari coaching ke petani lainnya. Saya kira untuk kegiatan READSI sendiri sangat baik dan bisa mendevelopment petani terkait dengan bagaimana pengetahuannya terkait dengan kakao, keterampilannya bisa merubah atitude atau sikap dan cara pandang daripada peserta dan petani di sekitarnya itu nanti bisa berubah,” ujarnya.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, Rural Empowerment Agricultural Development Scaling Up Initiative (READSI) dilakukan untuk mendukung pertanian.

“READSI bukan hanya mendukung peningkatan produktivitas untuk mencapai ketahanan pangan, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas SDM pertanian. Hal ini sangat penting, karena SDM ada faktor pengungkit utama dalam peningkatan produktivitas. Semakin pintar petaninya, maka hasilnya juga semakin berlimpah,” katanya.

Sementara Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, mengatakan READSI merupakan program dari International Fund for Food and Agriculture (IFAD) yang telah lama bekerja sama dengan Kementerian Pertanian.

“Dukungan inilah yang akan kita maksimalkan untuk membangun pertanian Indonesia. Kita harapkan Petani dan penyuluh yang mendapat program ini bisa menyerap ilmu dengan maksimal,” ujarnya.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.