Hilirisasi Kakao Diakselerasi Melalui E-Learning READSI Kementan

oleh -22 views

JAMBI – Hilirisasi komoditas pertanian terus dilakukan program Rural Empowerment Agricultural and Development Scaling Up Initiative (READSI). Mata rantai penguatannya menyasar komoditas pertanian Kakao. Implementasinya mengutamakan stakeholder Kakao di zonasi READSI.

Sedangkan metodologinya melalui e-lerning Pengolahan Kakao Menjadi Coklat.

“Hilirisasi produk-produk pertanian terus menjadi fokus Kementan. Sebab, value ekonomi yang dihasilkannya lebih besar bagi petani. Potensi dan serapan marketnya jauh lebih bagus. Untuk itu, sudah seharusnya SDM (sumber daya manusia) diperkuat agar produk turunannya berkualitas,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Menguatkan kompetensi SDM dalam mata rantai Kakao, sinergi besar pun digalang lintas zonasi READSI. Sebab, e-learning Pengolahan Kakao Menjadi Coklat diinisiasi oleh National Program Management Office (NPMO). Digelar di Balai Pelatihan Jambi selaku UPT pelatihan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), tanggal 22-24 Juli 2021.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menyatakan pelatihan yang digulirkan ini akan memberikan impact positif bagi para pesertanya. Dengan pengetahuan baru yang dimilikinya, perubahan pasti akan dihadirkan oleh para peserta.

‚ÄúSebab, mereka memiliki keinginan kuat untuk maju. Berinovasi demi mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar,” terangnya.

Menjadi bagian sistem dalam penguatan READSI, peserta e-learning yang berjumlah 27 orang berasal dari zonasi implementasi READSI. Saat ini, program READSI difokuskan pada 6 provinsi dan 18 kabupaten. Sebarannya berada di Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

“SDM pertanian menjadi kunci untuk memaksimalkan peningkatan produktivitas secara menyeluruh. Sebab, komoditas yang ada harus memberikan keuntungan maksimal. Caranya tentu dengan hilirisasi komoditasnya. Kualitas harus diperhatikan, selain inovasi produknya,” tambah Dedi.

Untuk mendukung optimalisasi program e-learning, mentor-mentor handal pun disiapkan. Mereka adalah para Widyaiswara dan fasilitator yang kompeten pada bidang pengolahan coklat tersebut. Mereka siap membagikan wawasannya kepada 27 peserta pelatihan yang didominasi penyuluh dan Fasilitator Desa pada zonasi implementasi READSI.

Lebih detail, peserta berasal dari zonasi READSI di wilayah Sulawesi. Ada peserta dari Konawe, Kolaka, Kolaka Utara, Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara. Bergabung juga perwakilan dari Banggai, Poso, Parigi, hingga Moutong. Dedi mengatakan, pelaku usaha berbasis Kakao bisa menguatkan pangsa pasar penjualannya secara online.

“Strategi harus diberikan agar pendapatan dari usaha Kakao semakin besar. Branding harua diperkuat. Pemasaran produk bisa mengoptimalkan teknologi online. Bisa memakai seluruh platform media sosial yang ada. Yang pasti, kemasannya harus menarik dan nomor telepon yang bisa dihubungi jelas,” kata Dedi lagi.

Terpisah, Kepala Balai Pelatihan Jambi Zahron Helmy memaparkan, komitmen diberikan untuk meningkatkan kompetensi pelaku usaha Kakao. Sebab, potensi besar on farm dan off farm dimiliki zonasi implementasi READSI. Wilayah ini bisa menghasilkan produktivitas besar berkualitas sekaligus mendatangkan keuntungan ekonominya.

“Bapeltan Jambi akan menyiapkan segala sesuatunya secara maksimal. Proses pelatihan ini harus menghasilkan manfaat besar. Teknis pelaksanaan, LMS, serta Widyaiswara harus maksimal. SDM pertanian harus bisa bersaing dan terus mengasah skill,” papar Zahron.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.