Kementan Bangun Irigasi Perpipaan untuk Peternakan di Bandung Barat

oleh -43 views

BANDUNG – Kementerian Pertanian (Kementan) kembali menggencarkan optimalisasi irigasi perpompaan dan perpipaan, termasuk untuk peternakan. Salah satunya di Desa Pasir Halang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Luas layanan irigasi Perpipaan di Cisarua ini seluas 2 Ha dengan 200 ekor ternak sapi perah. Sumber airnya berasal dari mata air Tugu Mukti.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, tujuan dari kegiatan Irigasi Perpompaan dan Perpipaan adalah memanfaatkan potensi sumber air permukaan sebagai suplesi air irigasi bagi komoditas tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan serta budidaya ternak.

“Meningkatkan intensitas pertanaman dan atau luas areal tanam, meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani, memanfaatkan potensi sumber air permukaan sebagai air irigasi, baik di daerah irigasi maupun non daerah irigasi,” jelas Mentan SYL, Selada (24/11).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menambahkan, Irigasi Perpompaan tahun ini dialokasikan sebanyak 1.000 unit di 32 provinsi dan 285 Kabupaten/Kota.

“Untuk Irigasi Perpipaan alokasi sebanyak 138 unit di 25 Provinsi dan 59 Kabupaten/Kota,” ujar Sarwo Edhy.

Dia mengatakan, irigasi Perpipaan memanfaatkan sumber air permukaan yang berasal dari sungai, mata air, danau, dan sumber air lainnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan masing-masing daerah.

“Komponen irigasi perpipaan antara lain meliputi bangunan sadap, bak penampung, dan saluran distribusi berupa saluran tertutup berupa pipa (PVC, besi),” sebut Sarwo Edhy.

Dijelaskannya, kriteria lokasi untuk kegiatan pengembangan irigasi perpipaan antara lain, lokasi kegiatan pengembangan irigasi perpipaan adalah lokasi area pengembangan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan dengan letak sumber air berada lebih tinggi dari lahan yang akan diairi.

“Lokasi diprioritaskan pada lahan yang sering mengalami kekurangan air terutama pada musim kemarau. Selain itu, lokasi dekat dengan sumber air,” tambah Sarwo Edhy.

Output dari kegiatan ini adalah adalah terlaksananya kegiatan Kegiatan Irigasi Perpompaan dan Perpipaan, sehingga tersedia sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh petani, baik sebagai suplesi atau conjunctive use di daerah irigasi maupun sebagai irigasi utama di non daerah irigasi (tail end).

“Program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi atau produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya.(*)