Lewat Program Magang, Kementan Tingkatkan Kemampuan SDM Pertanian

oleh -38 views

LEMBANG – Sektor pertanian diyakini akan turut menentukan kemajuan sebuah negara. Menyadari hal tersebut, Kementerian Pertanian akan meningkatkan sektor pertanian dengan menyiapkan SDM berkualitas melalui program magang ke Jepang.

Kementan mewujudkan program magang tersebut dengan menggandeng Komunitas Penyedia Tenaga Kerja Internasional Indonesia (Kapten).

Kerjasama tertuang dalam penandatanganan MoU saat Pertemuan Koordinasi Peningkatan Kompetensi Petani Muda Melalui Program Magang Jepang dan Specified Skilled Worker (SSW) di BBPP Lembang, 28 – 30 Januari 2021.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, peran SDM dalam pertanian sangat penting.

“Peran SDM dalam pembangunan pertanian sangat vital. Oleh karena itu, kita terus menggenjot kemampuan, pengetahuan dan skill SDM pertanian, salah satunya dengan program magang ke Jepang,” ujarnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, kemajuan suatu negara diawali dari kemajuan pertanian.

“Kita bisa lihat negara-negara maju di dunia ini, seperti Amerika, China, Jepang, Korea, Australia, negara negara Eropa seperti Belanda, Swedia dan lainnya, mereka maju karena diawali majunya sektor pertanian. Jadi jika ingin negara kita maju, harus maju dulu sektor pertaniannya,” ujarnya.

Yang digarisbawahi Dedi Nursyamsi, yang memegang peran dalam kemajuan sektor pertanian adalah SDM.

“Dan ternyata, negara maju itu yang menonjol bukan teknologinya, bukan prasarana atau alsintannya. Tapi ternyata yang paling menonjol sumber daya manusia nya (SDM). Berarti kalo sektor pertanian ingin maju, harus dimulai dari kemajuan sumber daya manusia. Di Australia itu yang namanya sapi sangat unggul, di Jepang hortikulturanya luar biasa bagus. Hal itu bisa terjadi karena SDM-nya lebih unggul,” ujarnya.

Lebih spesifik lagi, Dedi Nursyamsi menyebut negara-negara maju memiliki banyak petani milenial. Bahkan, petani milenial berdiri paling depan membangun pertanian.

Menurutnya petani kita di Indonesia ada 33 juta orang lebih. Tapi, hanya 29% saja yang umurnya dibawah 40 tahun atau petani milenial, sisanya berusia 45 sampai 70 tahun atau petani lanjut usia.

“Tidak mungkin dengan usia di atas 45 tahun bisa menghasilkan produksi yang begitu banyak. Apalagi kalau untuk ekspor, tidak akan pernah mencukupi. Oleh karena itu, regenarasi harus dilakukan, pertanian harus dialihkan kepada petani milenial,” ujarnya.

Kenapa petani milenial? Karena Dedi menilai petani milenial itu cerdas, inovatif sangat mengerti dengan teknologi saat ini ini.

“Bahkan petani milenial itu bertanya-tanya ada teknologi apa saat ini, kalau menanam jagung kualitas terbaik apa biar menghasilkan pendapatan yang lebih banyak, ada inovasi yang menggunakan 4.0 dan lainnya,” katanya.