Lewat READSI, Kementan Tingkatkan Nilai Pare Organik Luwu

oleh -23 views

LUWU – Program Rural Empowerment Agricultural and Development Scalling Up Initiative (READSI) Kementan selalu menaikkan value ekonomi pertanian. Buktinya, Pare (Paria) yang dibudidayakan petani Luwu, Sulawesi Selatan, mampu mendatangkan pundi-pundi uang hingga Rp23 Juta sebulan. Mau?

“Pertanian menjadi sektor yang sangat menjanjikan. Nilai ekonomi yang dihasilkannya sangatlah tinggi. Sektor ini tangguh sepanjang masa pandemi Covid-19. Pertanian selalu memastikan ketersediaan pangan, termasuk pengganti nasi seperti jagung,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Menjadi sektor yang tidak terdampak pandemi Covid-19, pertanian saat ini memang semakin seksi. Sebab, ada jaminan pendapatan besar dari usaha pertanian yang dijalankan. Apalagi, READSI Kementan selalu memberikan support. Bentuknya diantaranya, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), bantuan saprodi, hingga akses modal melalui KUR.

“READSI membuat sektor pertanian semakin berdaya saing. Dengan inovasi yang diterapkannya, usaha pertanian semakin berdaya saing. Memberikan kesejahteraan bagi petani melalui pertanian komoditas yang dijalankannya. Untuk itu, kami himbau agar masyarakat mulai mengusahakan kegiatan pertanian meski dengan lahan sempit pekarangan,” terang SYL.

Kegiatan usahatani milik Kelompok Tani Maindo di Luwu layak menjadi rujukan. Mengusahakan budidaya Pare organik di lahan sendiri, Kelompok Tani Maindo merasakan manfaat ganda. Secara ekonomi, budidaya Pare mendatangkan pendapatan sekitar Rp14 Juta hingga Rp23 Juta sebulan. Harganya melambung karena pengusahaannya dilakukan secara organik, alias tanpa pestisida kimiawi.

“READSI selaku menawarkan solusi dalam kegiatan pertanian. Dengan implementasi teknologi dan peningkatan kompetensi SDM petani, komoditi yang diusahakan bernilai tinggi. Lahan yang digunakannya pun tidak terlalu luas. Kami senang karena petani sejahtera dengan pendapatan besarnya,” jelas Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi.

Potret komersial pertanian Pare organik tersebut diantaranya dari lahan milik Ketua Kelompok Tani Maindo Ulang. Hanya menggunakan lahan seluas 10×12 Meter Persegi per Hektar, panen yang dihasilkannya sekitar 2 Ton dalam sebulan. Kalkulasinya adalah 2-3 kali panem dalam satu Minggu. Adapun berat produksi Pare yang dihasilkan mencapai 200 Kg dengan harga Rp6 Ribu/Kg.

“Pertanian akan terus memberikan manfaat secara ekonomi kepada petani. Produktivitas dan kualitasnya masih bisa ditingkatkan lagi. Dengan strategi khusus yang diberikan, petani akan mendapatkan limpahan hasil luar biasa,” tegas Dedi lagi.

Dalam mengembangkan komoditas, tetap ada beberapa strategi yang diterapkan. Untuk komoditas Pare, harus memperhatikan cuaca. Sebab, Pare sangat rentan bila diusahakan di musim penghujan. Artinya, budidayanya dilakukan pada masa bulan kering. Dedi menambahkan, READSI akan melakukan pendampingan petani untuk memberikan solusi.

“Usahakan saja pertanian, nanti READSI akan bantu semuanya. READSI selalu memberikan pendampingan kepada petani. Selain untuk transformasi informasi dan wawasan, pendampingan juga dimaksudkan sebagai solusi atas persoalan yang berpotensi muncul,” lanjut Dedi.

Lebih lanjut, budidaya Pare organik juga memberikan manfaat secara kesehatan. Seperti diketahui bahwa Pare mengandung manfaat seperti dapat membantu mengendalikan gula darah. Pare juga meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan mata, meredakan asma, gangguan pernapasan lainnya, serta dipercaya mampu membantu merawat dan mengobati masalah kulit.

“Kami ucapkan terima kasih kepada READSI Kementan. Petani di Luwu bisa merasakan besar manfaatnya. Secara ekonomi memang luar biasa. Kami mendapatkan pendapatan yang besar. Kami berharap program READSI terus diterapkan di sini,” tutup Ketua Kelompok Tani Maindo Ulang.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.