LFH ala Mahasiswa Vokasi Pertanian, Kawal dan Dampingi Petani!

oleh -19,773 views
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

KAHYANGAN.NET// JAKARTA – Untuk tetap memastikan ketersediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanian harus tetap produktif. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tak hentinya menyerukan aktivitas pertanian tidak boleh berhenti.

Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan pendekatan pangan bisa menjadi solusi melawan Covid-19, selain pendekatan kesehatan. “Pendekatan pangan tidak kalah penting dari kesehatan. Karena dalam situasi dan kondisi apa pun, pangan tidak boleh bersoal. Apalagi dalam kondisi seperti pandemi Covid-19 sekarang. Oleh karena itu, seluruh insan pertanian di mana pun berada, Kementerian Pertanian punya tugas menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) sebagai salah satu institusi pendidikan vokasi dibawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) pun turut mengambil bagiannya dengan menggerakkan mahasiswanya.

Kembali ke daerah asal dan melaksanakan Learn From Home (LFH) sebagai imbas dari pandemi tidak mengurangi produktifitas seluruh mahasiswa. Mahasiswa dituntut untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan dengan membantu memecahkan masalah yang ada di kelompok tani dengan tetap mengawal dan mendampingi petani yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Kegiatan ini telah berlangsung sejak Mei 2020 dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Politeknik lingkup Kementan selama masa LFH.

Monitoring dan evaluasi pun tak luput dilakukan oleh Polbangtan dan PEPI. Secara virtual melalui video conference pun secara rutin dilaksanakan. Salah satunya adalah Direktur Polbangtan Medan Yuliana Kansrini, melalui aplikasi zoom ia memberikan arahan dan mengatakan tujuan kegiatan pendampingan ini adalah menjamin kualitas mahasiswa Polbangtan Medan untuk menghasilkan job creator dan job seeker , serta membantu petani selama penyebaran wabah Covid-19. “Ada 606 orang mahasiswa dengan rencana waktu pelaksanaan selama 2 bulan yakni tanggal 13 Mei sampai 30 Juni 2020,” kata Yulia.

Distribusi lokasi pendampingan tidak hanya pada provinsi Sumatera Utara tetapi juga provinsi lainnya seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, dan lainnya bahkan hingga Sulawesi Selatan.

Dalam kegiatan evaluasi tersebut Yulia juga menyajikan video-video yang menunjukkan kegiatan yang dilakukan mahasiswa di lapangan. Video menampilkan kegiatan mahasiswa melakukan pendampingan pembibitan sawi, cabai merah, tomat di pekarangan rumah.

Beberapa mahasiswa menyampaikan kegiatan yang telah mereka lakukan, Dendi salah satunya. Mahasiswa asal Desa Lalang Sembawa, Banyuasin ini menyampaikan salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mendampingi ibu-ibu rumah tangga dalam pemanfaatan pekarangan rumah. Ia pun menyampaikan keluhan petani karet di daerah tempat tinggalnya karena harga jual yang rendah sebagai imbas dari pandemi Covid-19.

Tak hanya Dendi, Nia yang berlokasi di Desa Serba Jadi, Kabupaten Deli Serdang turut menyampaikan kegiatan pendampingan yang dilakukan diantaranya adalah membuat media hidroponik sederhana dari barang-barang bekas yang ada di rumah.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti mengatakan untuk memecahkan masalah di lapangan harus dilakukan melalui sinergi, tidak bisa dilakukan mahasiswa sendiri ataupun petani sendiri. “Kita semua harus tetap mendorong para pelaku utama pertanian terutama petani untuk tetap melakukan aktivitas produksi di lapangan tentu saja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan di lapangan,” ujar Idha.

No More Posts Available.

No more pages to load.