Negara Tidak Boleh Kalah

oleh -93 views

JAKARTA – Berberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh aksi tembak-menembak antara polisi dengan pengawal Habib Riziqe Sihab, di daerah Cikampe Jawa Barat, peristiwa tersebut tentunya mengejutkan kita semua, bahwa rangkaian kontroversi berita yang mengikuti kedatangan Habib Riziqe Sihab ke tanah air paska pelarianya ke Arab Saudi selama hampir tiga tahun lebih tidak pernah surut, dari kemacetan yang terjadi di bandara ketika kedatangan beliau, kerumunan yang terjadi ketika peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan, permasalahan tes usap dan yang terakhir adalah aksi tembak menembak anatar pengawal Habib Riziqe Sihab dengan aparat kepolisian.

Selogan-selogan atas kedatangan Habib Riziqe Sihab ke tanah air adalah “ Revolusi Ahlaq”, menurut klaim yang di utarakan oleh Front Pembela Islam (FPI) bahwa keadaan Indonesia yang menurut mereka sudah jauh dari praktek-praktek sariat Islam, dan mereka menyuarakan revolusi ahlaq dibawah pimpinan Imam Besar Habib Riziqe Sihab. Karena menjamurnya praktek Komunisme, Kapitalisme, korupis yang sudah merajalela dan masih banyak lagi perlu direvolusi.

Namun revolusi ahlaq yang di suarakan oleh Front Pembela Islam (FPI) dan Habib Riziqe Sihab seperti pangga jauh dari api, dalam beberapa pidato dan orasi yang disampaikan Habib Riziqe Sihab tidak mencontoh kan sebagai seorang Imam besar dan Panutan, ada beberapa ujaran beliau yang tidak pantai disampaikan didepan umum.

Pada saat wabah Covid-19 dan suasana polarisasi yang sangat besar yang ada ditengah-tengah bangsa ini, seharusnya adanya sebuah contoh-contoh kedamaian yang disuarakan oleh Imam Besar Habib Riziqe Sihab, bangsa ini butuh telada dan contoh-contoh yang damai tentang melihat kondisi kebangsaan.

Revolusi Ahlaq HRS Berbeda Dengan Revolusi Islam Siah Imam Khomaini
Ketika kedatangan Habib Riziqe Sihab ke tanah air, adanya sebuah narasi yang coba menyamakan Habib Riziqe Sihab seperti Imam Khomaini yang datang dari pelariannya di paris Perancis untuk memimpin revolusi Islam Siah di Iran.

Jika kita melihat sejarang yang ada didunia ini ada beberapa revolusi yang telah terjadi dan menjadi referensi kita, seperti revolusi Industri yang terjadi di Inggris, Revolusi Kaum borjuis yang terjadi di Prancis, Revolusi Kaum Bolsevic di Rusia dan Revolusi Islam Siah di Iran di bawah pimpinan imam Khomaini, revolusi tersebut merubah kondisi keadaan yang memang ada pada sebuah bangsa dan daerah tersebut.

Dari beberapa revolusi yang dicontohkan mungkin, revolusi Islam Siah di Iran yang bias menjadi contoh referensi kita seperti yang di suarakan oleh Habib Riziqe Sihab, revolusi yang berbasis keagamaan, dimana Imam Khomaini Menjadi Simbol perlawanan dan Imam Besar mereka yang menjadi komado revolusi jihad.

Membandingkan Revolusi Islam Siah dengan Revolusi Ahlaq yang disuarakan oleh Habib Riziqe Sihab sangat jauh berbeda dari situasi dan kondisi yang ada, Revolusi Siah Islam yang terjadi di Iran merupakan akumulasi perlawanan rakyat Islam Iran terhadap penguasa otoriter Raja Mohammad Reza Pahlevi, dimana Reza Pahlevi sangat otoriter dalam menjalankan pemerintahan Iran ketika itu, ketimpangan terjadi dimana-mana dan tidak terjadinya sirlulasi demokrasi.

Bangsa Iran merupakan bangsa yang memiliki satu suku mayoritas (suku aria) dan agama Islam Siah yang menjadi identitas mereka, sehingga revolusi yang berbasi agama Islam Siah yang digelorakan oleh Imam Khomaini mendapat dukungan seluruh rakyat Iran. Secara sekilas saja kita bisa melihat sebuah perbedaan yang sangat jauh.

Perbedaan-perbedaan yang mendasar saja ini cukup menjadi bottle neck yang menjadi penghalang atas ide revolusi ahlaq yang digelorakan oleh Habib Riziqe Sihab dan para pengikutnya (FPI), bahwa bangsa yang sangat besar ini dilahirkan oleh perbedaan (diversity) dan menjadi sebuah konsensu bersama para pendiri (founding Father) bangsa ini.

Aparat Keamanan Harus Tegas
Pancasila adalah jalan tengah, titik, temu dan merupakan perekat atas perbedaan-perbedaan mendasar yang ada pada bangsa ini, kita ketahui bersama bangsa yang baru merdeka selama 75 (tujuhpuluh lima) tahun ini masih memiliki banyak kekuranan-keurangannya, dari berbagai sisi dan aspek.
Dari hukum, sosial, politik, keamana dan lain sebagainya, disini kita memerlukan adanya kritik yang membangun sehingga tujuan dari merdekanya bangsa ini tercapai yakni tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun kritik tersebut harus sesuai dengan koridor dan aturan-aturan yang menjadi konsensu bersama.

Saya memandang bahwa Pancasila dan NKRI bersifat hidup, dia memerlukan sebuah kritik dan dia selalu bermetamorposa dengan kondisi zaman yang ada, namun ada yang menjadi sebuah catatan dan garis besar disini bahwa ideologi yang menjadi perekat bangsa ini tidak begitu saja diganti.

Gerakan yang dilakukan oleh Habib Riziqe Sihab ini sangat seporadis dan jauh dari koridor yang dimiliki oleh bangsa ini, hal ini menjadi permasalahan dan harus menjadi atensi bagi kita semua, dilain sisi permasalahan-permasalahan hukum yang menjerat Habib Riziqe Sihab juga harus segera diproses oleh aparat keamanan, sehingga ada sebuah kepastian hukum atas perkara yang menimpa Habib Riziqe Sihab.

Aparat Harsu bertindak tegas terhadap kaus Habib Riziqe Sihab “Fiat Justitia Ruat Caelum” (***)(Oleh S.Habib, Democracy Watch)