Poktan di Cirebon Kendalikan Hama Tikus dengan Cara Ramah Lingkungan

oleh -79 views
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

KAHYANGAN.NET//JAWA BARAT – Untuk turut menjaga ketahanan pangan, Kementerian Pertanian mendukung upaya Kelompok Tani Mugi Rahayu I di Desa Ciledug Tengah, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat melakukan kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tikus yang ramah lingkungan, Selasa (14/07/2020).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang mendorong peningkatan produktivitas pertanian.

“Kita akan mendukung kegiatan yang berdampak pada peningkatan produktivitas, termasuk penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) yang merupakan bagian dari SIMURP,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menambahkan pentingnya kegiatan pertanian yang ramah lingkungan.

“Lingkungan menjadi alasan utama dalam bertani organik, karena bertani organik dianggap bertani yang ramah lingkungan sebab menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, khususnya pupuk dan pestisida, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,” tegas Dedi.

Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT di Daerah Irigasi (DI) Cikeusik ini dilakukan tanpa menggunakan pestisida sintetik seperti rodentisida yang dapat mengurangi kesuburan tanah.

Sebagai salah satu lokasi proyek Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) yang menitikberatkan pada budidaya pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) yang ramah lingkungan, petani di DI Cikeusik turut memperhatikan aspek pelestarian lingkungan.

Menjaga kesuburan tanah pertanian merupakan salah satu upaya memastikan pengelolaan tanah pertanian yang berkelanjutan. Tanah yang terus-menerus digempur pestisida sintetik tanpa dibarengi pengelolaan yang tepat akan mengurangi tingkat kesuburan tanah yang akhirnya mengakibatkan penurunan produksi pertanian.

Gerdal OPT tikus oleh Kelompok Tani Mugi Rahayu I dilakukan secara fisik/mekanis, artinya menggunakan perangkap dan menghancurkan sarang tikus di sawah.

“Gerdal tikus ini kami lakukan dengan memasang perangkap dan goropyokan atau menghancurkan sarang-sarang tikus,” ujar Juanda, ketua Kelompok Tani Mugi Rahayu I yang beranggotakan 27 orang petani.

Kegiatan pertanian Kelompok Tani Mugi Rahayu I tidak berhenti kendati pandemi Covid-19. Petani tetap bersemangat meningkatkan produksi pertanian dengan meminimalisir pertumbuhan OPT melalui gerdal yang ramah lingkungan sambil tetap berpedoman pada protokol pencegahan Covid-19 seperti menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan rajin mencuci tangan. (NF/EZ)