Poles Literasi Keuangan Widyaiswara, Kementan Perkuat Basis Petani READSI

oleh -38 views

JAKARTA – Kemampuan literasi keuangan petani di zonasi program Rural Empowerment Agricultural and Development Scaling Up Initiative (READSI) dijamin semakin matang. Sebab, READSI sudah menyiapkan mentor-mentor terbaiknya. Mereka terdiri para Widyaiswara yang dilatih secara khusus di Ciawi, Jawa Barat, beberapa waktu silam.

“Penguasaan kemampuan keuangan menjadi kebutuhan penting petani. Sebab, usahatani pertanian menggunakan modal berupa uang. Jadi, kalkulasi harus detail guna meminimalkan potensi risiko yang muncul,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Menguatkan literasi keuangan petani, program pelatihan digelar di PPMKP Ciawi, 21-25 Juni 2021. Pesertanya para Widyaiswara dan Calon Widyaiswara dari 10 UPT Pelatihan pada lingkup Puslatan BPPSDMP Kementan. Salah satunya adalah para Widyaiswara BBPKH Cinagara. Komposisinya ada Dayat Hermawan yang merupakan Widyaiswara Madya dan Calon Widyaiswara Adi Rakhman.

“READSI menjawab kebutuhan petani terkait kemampuan literasi keuangan. Sebab, ada modal yang harus diberikan petani dalam kegiatan pertanian dengan jumlah tidak sedikit. Strategi tentu diperlukan agar modal berupa uang tersebut semakin efisien dan memberikan produktivitas tinggi,” terang SYL lagi.

Menguatkan pemahaman manajemen keuangan petani, para Widyaiswara tersebut mendapatkan materi pelatihan lengkap. Apalagi, formatnya melalui pelatihan Master of Trainer (MoT). Dengan pokok seputar pemahaman literasi keuangan, nantinya materi tersebut didesiminasikan kepada petani selaku garda terdepan pertanian.

Pertanian modern memang membutuhkan ‘pencatatan’ keuangan yang tersusun rapi. Tujuannya untuk memudahkan petani dalam melakukan evaluasi. Sebab, usaha pertanian memiliki fluktuasi dari waktu ke waktu. Hasil evaluasi tersebut sangat berguna untuk menentukan strategi usaha pada periode tanam di musim berikutnya.

“Pertanian Indonesia terus berkembang positif. Usahanya juga berkembang pesat baik secara on farm maupun off farm. Dengan nilai bisnis besar, maka penguatan literasi keuangan petani harus diperkuat. Widyaiswara ini punya posisi strategis sebagai mentor,” jelas Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi.

Kegiatan kompleks memang dialami para petani di zonasi implementasi READSI. Mereka membutuhkan kemampuan manajerial keuangan untuk mendukung usahanya. Mengacu usahatani milik Kelompok Tani Maindo di Luwu, Sulawesi Selatan, mereka mengelola bisnis pertanian dengan nilai Rp14 Juta hingga Rp23 Juta sebulan. Komoditi yang diusahakannya adalah Pare dengan sistem organik.

“Membangun sistem sebagai korporasi, para petani tentu dituntut mahir dan menguasai literasi keuangan. Mereka juga harus detail mengelola keuangan kelompok taninya. Sebab, di situ ada simpanan wajib dan simpanan alsintan yang harus dikelola dengan baik,” tegas Dedi lagi.

Memberikan pemahaman literasi keuangan, para Widyaiswara yang sudah menjalani pelatihan akan membagikan pengetahuannya di seluruh zonasi READSI. Saat ini program READSI diterapkan pada 6 provinsi dan 18 kabupaten. Sebarannya ada di Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

“Setelah literasi keuangan petani diberikan, para petani semakin sehat dalam mengelola aset dan modalnya. Mereka bisa menciptakan ekosistem keuangan yang positif dan sangat sehat. Berstrategi untuk menciptakan banyak peluang dengan value ekonomi tinggi,” tutup Dedi.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.