Angklung dan Egrang Hebohkan Pembukaan Indonesia-Japan Festa 2019

oleh -222 views

JAKARTA– Pembukaan Indonesia-Japan Festa 2019 berlangsung meriah, Sabtu (5/10) pagi. Panitia berhasil menorehkan kesan terbaik lantaran pengunjung diajak serta bermain angklung. Semua tampak antusias membunyikan alat musik tradisional tersebut. Selain itu,

Egrang dengan kostum Carnaval berbentuk burung Garuda juga jadi pisah perhatian.

Selain Konjen RI di Osaka Mirza Nurhidayat, pembukaan dihadiri pula oleh Director of Internasional Osaka City Gov, Aya Wada; dan Executive Director of International Relations Osaka Prefectural Government, Harimoto dan
Kepala Bidang Pemasaran Area I Taufik Nurhidayat.Semuanya memainkan angklung dengan nada yang berbeda.

Konjen RI di Osaka Mirza Nurhidayat mengatakan, permainan angklung menjadi bentuk konsistensi, bahwa Indonesia-Japan Festa 2019 merupakan wadah untuk menampilkan beragam pertunjukan budaya. Termasuk produk-produk ekonomi kreatif.

Seperti diketahui, Indonesia-Japan Festa 2019 berlangsung selama dua hari, tanggal 5-6 Oktober. Kegiatan dipusatkan di Minato-Machi Riverplace Plaza Namba Hatch, Osaka.

“Selain angklung, ada banyak pertunjukan seni budaya lain yang ditampilkan. Kita berharap semua dapat menarik masyarakat Jepang, yang akhirnya membuat mereka tergugah untuk berkunjung ke Indonesia. Kemenpar juga mempersembahkan dukungan kepada kami dengan menghadirkan tim kesenian, penampilannya pun sangat apik. Ada Egrang perkusi lagu moshimo mata Otsuka, Tari Ofalangga (NTT), Tari perkusi Nusantara
Gemufamire,”kata Konjen semringah.

Mirza menambahkan, Indonesia-Japan Festa sudah memasuki tahun kedua. Ia berharap event ini akan selalu digelar dan menjadi besar dari tahun ke tahun. Menurutnya, masyarakat Jepang memang harus disentuh secara personal. Dengan cara itu, mereka akan cinta pada Indonesia dan selalu ingat dengan turun temurun.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya menjelaskan, angklung adalah alat musik tradisional dari Jawa Barat. Alat musik ini terbuat dari bambu, dan dibunyikan dengan cara digoyangkan dengan tangan. Setelah digoyang, maka bunyi akan keluar yang disebabkan oleh benturan badan pipa bambu.

“Bunyi yang bergetar menghasilkan susunan nada 2, 3, sampai 4 dalam setiap ukuran. Angklung sendiri memiliki beragam ukuran, dari kecil hingga besar. Saat ini, alat musik angklung sudah cukup mendunia. Banyak warga asing yang tertarik dan belajar memainkannya,” ungkap Nia.

Yang membanggakan, angklung merupakan alat musik yang diakui menjadi ‘Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia’ oleh UNESCO. Meskipun berasal dari Jawa Barat, tetapi ada banyak jenis angklung di Indonesia. Seperti Angklung Bali, Angklung Banyuwangi, Angklung Gubrag, dan lain-lain.

“Ini sangat bagus. Mengangkat kembali angklung sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Semakin menyadarkan kita semua akan kekayaan budaya Indonesia. Juga mampu menumbuhkan rasa bangga dan cinta pada budaya bangsa Indonesia terutama angklung,” kata Nia yang juga diamini Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Regional II Kemenpar, Ardi Hermawan.

Ardi menambahkan, dengan menggunakan angklung sebagai pembukaan acara sama saja melestarikan dan meregenerasikan angklung di dunia.

” Ini semakin menyadarkan kita akan kekayaan budaya dan daya tarik pariwisata yang kita miliki. Disamping itu menaikkan nama angklung. Sehingga makin mendunia,” kata Ardi. Menteri Pariwisata Arief Yahya juga mengapresiasi acara pembukaan yang sangat Indonesia banget.

“Kegiatan ini dapat dijadikan sarana untuk lebih memasyarakatkan angklung. Dengan makin berkembangnya budaya, maka akan semakin berkembang juga pariwisata. Karena budaya merupakan sarana yang baik dalam menjaring wisatawan. Saya yakin gaung angklung makin menggema di dunia. Imbasnya budaya Indonesia makin dikenal dan dapat menjaring wisatawan untuk datang,” kata Menpar Arief.

Menurut Arief Yahya, budaya semakin dilestarikan semakin mensejahterakan, hal itu menjadi salah satu alasan wisatawan mau liburan ke suatu daerah. Karena itu budaya harus dilestarikan mengingat memiliki nilai ekonomis. “Laku dijual untuk turis mancanegara,” pungkasnya.
(*)