Diguyur Hujan, Pembukaan JAFF 2018 tetap Diserbu Penonton

oleh -968 views

KAHYANGAN.NET– Pembukaan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018, Selasa (27/11), berlangsung penuh warna. Hujan yang mengguyur sejak sore,tak menyurutkan ratusan pencinta sinema untuk memenuhi Jogja Nasional Museum (JNM). Semua tampak antusias menyaksikan pemutaran film Umi O Kakeru (The Man from the Sea) yang menjadi film pembuka di festival tersebut.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, JAFF sebuah festival yang memantik semangat para sineas Indonesia untuk lebih berkembang.

“Ini merupakan festival yang bagus untuk para sineas muda Indonesia. Terlebih festival ini banyak menampilkan film-film berkualitas dari 27 negara-negara di Asia. Kemenpar akan terus mendukung perhelatan JAFF,” ujar Menpar Arief Yahya, Selasa (27/11).

Menteri asal Banyuwangi itu menambahkan, JAFF mengerti betul bagaimana memaksimalkan program. Ada program Asian Feature, Light of Asia, Asian Perspective, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema. Semua disuguhkan untuk memastikan kemeriahan festival yang akan berlangsung hingga 4 Desember 2018 itu.

Hadirnya Kemenpar mendukung JAFF tentunya dengan dasar yang kuat. Pasalnya, film dan pariwisata sangat dekat. Industri perfilman dinilai memiliki peran strategis sebagai sarana promosi dalam mendongkrak sektor pariwisata.

Menpar Arief mencontohkan Film Laskar Pelangi yang berhasil mempromosikan Bangka Belitung. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu mampu mendatangkan wisatawan yang penasaran dengan keindahan Belitung. Contoh lainnya bisa dilihat dari betapa boomingnya Bali di mata pelancong dunia setelah Film ‘Eat, Pray, Love’ hadir. Atau boomingnya destinasi Jogja setelah film Ada Apa Dengan Cinta 2 dirilis.

“Ini menjadi fenomena, kunjungan wisata meningkat karena pengunjung ingin melihat tempat pengambilan gambar video, televisi atau film. Film menjadi cara yang cerdas tanpa harus kita bersusah payang berpromosi,” ungkap Menpar.

Hal ini juga diamini Ketua Tim Calendar of Even Kemenpar Esthy Reko Astuty. Menurutnya, Laskar Pelangi menjadi contoh sukses. Contoh bagaimana produk budaya populer, seperti buku dan film, dapat mendorong gairah pariwisata di suatu daerah.

“Stefan Roesch konsultan film tourism asal Jerman menggambarkan jika film menjadi salah satu faktor dalam mempengaruhi keputusan untuk berwisata. Dimana film mempengaruhi orang untuk merasakan secara langsung tempat-tempat yang terlihat di layar lebar. Ini harus kita maksimalkan,” ucap wanita berkerudung itu.

Bukan itu saja. Indonesia pun mempunyai modal kekayaan alam yang kuat untuk dijual sebagai latar pengambilan gambar. Dengan itu keuntungan yang didapat pun berlipat ganda.

“Film-film yang telah menjadi ikon suatu destinasi diciptakan bukan sebagai alat industri pariwisata dalam mendatangkan turis semata. Tetapi film tersebut benar-benar sebagai sebuah kesenian visual. Untuk itu festival seperti JAFF kita terus dukung. Sehingga, menjadi wadah para sineas muda Indonesia saat mereka berproses. Sekaligus memajukan industri kreatif dan menjadi atraksi bagi pariwisata,” ujar Esthy yang juga Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar itu.