Implementasi Protokol CHSE, Kemenparekraf Gulirkan Program We Love Bali

oleh -54 views

BALI – Sebagai pintu gerbang utama Indonesia yang telah memberikan kontribusi tertinggi terhadap pariwisata nasional, Pulau Bali mendapatkan pukulan telak akibat pandemi COVID-19. Bukan tanpa dasar, sebab pariwisata merupakan sektor yang paling pertama terdampak imbas pandemi COVID-19. Terbatasnya mobilitas masyarakat, ditutupnya penerbangan internasional serta ditutupnya tempat-tempat rekreasi dan hiburan memberikan dampak ekonomi sangat besar terhadap sektor pariwisata.

Dalam upaya memperbaiki kondisi ekonomi yang terpuruk selama pandemi COVID-19 dan dalam rangka membangkitkan pariwisata Bali, Pemerintah Daerah Bali melalui Tim Percepatan Pemulihan Pariwisata Bali yang didukung dan dibiayai penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan program ‘We Love Bali’, di mana masyarakat lokal diundang dan dibiayai untuk berlibur dan menikmati daya tarik wisata Bali sekaligus diperkenalkan dan mendapatkan edukasi terkait penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan) dan environment friendly (ramah lingkungan).

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani menerangkan, implementasi penerapan CHSE melalui program ‘We Love Bali’ ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk hotel, usaha perjalanan wisata, usaha transport, pemandu wisata, restoran, daerah tujuan wisata, UMKM dan lain sebagainya.

Program ini melibatkan 13 Professional Conference Organizers (PCO) dan 26 Biro Perjalanan Wisata yang bernaung di bawah ASITA Bali (Association of Indonesian Travel Agents/ Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia), 30 guide yang bernaung di bawah HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), sejumlah hotel dan restoran yang bernaung di bawah PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), sejumlah perusahaan transportasi yang bernaung di bawah PAWIBA (Persatuan Angkutan Pariwisata Bali) dan daya tarik wisata yang bernaung di bawah PUTRI (Asosiasi Pengelola Obyek Wisata).

“Program ini juga melibatkan sekitar 4.750 peserta untuk melakukan trip keliling Bali selama 3 hari 2 malam dan menginap secara bergiliran di kawasan-kawasan pariwisata yang ada di Bali. Seluruh biaya perjalanan seperti akomodasi, transportasi, atraksi wisata, makan dan minum selama mengikuti program ditanggung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” kata Rizki di sela kegiatan, Minggu (7/12/2020).

Para peserta, Rizki melanjutkan, direkrut oleh Tim Percepatan Pemulihan Pariwisata Provinsi Bali dengan menyebarkan undangan ke berbagai instansi baik pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan sekolah tinggi. Adapun syarat menjadi peserta program ini adalah berusia antara 18-50 tahun dan hanya dapat mengikuti satu kali kegiatan, aktif sebagai pengguna media sosial minimal salah satu dari platform Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, ataupun Tiktok, memiliki kegemaran aktivitas di luar ruangan seperti berenang, snorkeling, trekking, hiking, bersepeda dan lain sebagainya, memahami dan mampu menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu peserta juga sanggup mempublikasikan aktivitas yang dilakukan selama mengikuti kegiatan dalam bentuk foto, video, ataupun artikel yang mengedepankan norma kesopanan dan menerapkan protokol kesehatan dan bersedia apabila digunakan oleh Kemenparekraf untuk materi promosi pariwisata.

Para peserta juga diwajibkan menunjukkan hasil rapid test non reaktif yang dilakukan 1-3 hari sebelum kegiatan, menyertakan surat pernyataan/rekomendasi dari instansi maupun perusahaan, peserta wajib mengikuti semua akun sosial media Kemenparekraf, wajib menandatangani pakta integritas akan menerapkan protokol kesehatan dan wajib menjaga dan mentaati tata tertib dan kearifan lokal.

Setelah hasil seleksi didapatkan, peserta dibagi menjadi kelompok perjalanan di mana setiap kelompok terdiri dari 40 orang. “Ada sebanyak 17 program perjalanan yang telah dilaksanakan selama bulan Oktober dan November. 10 program di antaranya dilaksanakan sebanyak masing-masing 10 kali dan yang lain dilaksanakan bervariasi antara 1 hingga 3 kali. Jumlah total perjalanan (trip) yang telah diselenggarakan adalah sebanyak 117 kali,” tutur Rizki. Program 10 We Love Bali ini ditangani oleh PT Melali MICE, satu dari tiga belas PCO yang dipercaya oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk sukses terselenggaranya kegiatan ini.

Adapun destinasi wisata yang dikunjungi adalah destinasi wisata yang sudah populer maupun destinasi baru di seluruh penjuru Bali. “Program We Love Bali ini bertujuan untuk memberikan edukasi penerapan protokol CHSE kepada peserta, pelaku usaha pariwisata dan masyarakat di destinasi wisata, sebagai sarana memperkenalkan destinasi/atraksi wisata baru yang tersebar di seluruh Pulau Bali, mempromosikan pariwisata Bali Era Baru melalui media sosial peserta, menyiapkan pariwisata Bali untuk menyambut wisatawan mancanegara sejalan dengan Pergub Nomor 46 Tahun 2020 dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di destinasi wisata yang dikunjungi.

“Pelaksanaan protokol kesehatan dilakukan dengan ketat di setiap daya tarik wisata yang dikunjungi, seperti wajib mengikuti pengecekan suhu tubuh, mencuci tangan sebelum memasuki daya tarik wisata, menggunakan handsanitizer, mengenakan masker dan menjaga jarak saat berkunjung ke destinasi wisata,” tuturnya.

Rizki melanjutkan, program 10 trip 11 akan mengambil rute perjalanan ke kawasan Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Program ini akan dilaksanakan pada 6-8 Desember 2020. Pada hari pertama, peserta akan diberangkatkan dengan menggunakan fastboat dari Pantai Matahari Terbit Sanur menuju Nusa Penida dan diajak mengunjungi destinasi wisata di Nusa Penida yaitu Pantai Kelingking yang merupakan pantai yang memiliki spot yang cukup dikenal untuk diving karena menyajikan pemandangan bawah laut yang sangat indah. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke kawasan Angel’s Billabong, Broken Beach, Crystal Bay dan menginap di Hotel Kawasan Nusa Penida.

Pada hari kedua, peserta diajak mengunjungi destinasi wisata seperti Diamond Beach yang merupakan pantai yang menawarkan pemandangan tebing-tebing karst dengan bentuk meruncing menyerupai permata. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke destinasi Atuh Beach dan Raja Lima. Setelah makan siang, perjalanan akan dilanjutkan menuju Nusa Lembongan, di mana peserta akan diajak mengunjungi Jembatan Kuning, tempat budidaya rumput laut, Dream Beach dan Devil’s Tears serta menginap di Hotel kawasan Nusa Lembongan.

Pada hari terakhir, peserta akan diajak melakukan wisata bahari berupa snorkeling dan berkunjung ke wisata konservasi mangrove. Di hutan bakau ini pengunjung dapat masuk ke tengah-tengah hutan mangrove menggunakan perahu tradisional tanpa mesin.

“Selama perjalanan peserta akan diberikan pengertian dan diingatkan untuk mentaati protokol kesehatan dan juga sekaligus diajak untuk peduli terhadap lingkungan dan menjaga pelestarian alam pada setiap destinasi wisata yang dikunjungi,” ujar Rizki.

“Peserta nantinya diharapkan menjadi duta pariwisata yang dapat menggaungkan bahwa Bali siap menerima kunjungan wisatawan dengan penerapan protokol kesehatan yang baik, sekaligus memberi contoh pada masyarakat bagaimana cara berwisata yang aman dan bertanggungjawab untuk mencegah penularan Covid-19,” tambahnya.(***)