Kemenparekraf Gelar FGD Pola Perjalanan Wisata Heart of Borneo

oleh -85 views

PALANGKARAYA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pola Perjalanan Wisata Heart of Borneo. Koordinator Wisata Alam Direktorat Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf, Itok Parikesit menjelaskan, pola perjalanan yang disusun nantinya akan menjadi paket wisata yang akan jadi pilihan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata.

“Pola perjalanan yang telah disusun selanjutnya akan menjadi sebuah paket wisata. Semakin banyak paket wisata, akan semakin bagus. Wisatawan asing contohnya, ketika datang ke Indonesia misalnya ke Palangkaraya, tentu yang ditanya oleh mereka adalah paket perjalanan wisata yang ada di sini,” kata Itok, Kamis (19/11/2020).

Paket-paket yang nantinya disusun harus memenuhi kebutuhan perjalanan wisatawan selama mereka berlibur. Artinya, paket wisata itu harus dibuat dengan limit waktu hingga yang paling maksimal. “Misalnya kalau paket wisata tiga hari seperti apa. Lalu paket wisata satu minggu seperti apa dan paket wisata satu bulan seperti apa pola perjalanannya. Semakin banyak semakin baik, karena akan mempermudah pilihan wisatawan berkunjung ke Indonesia,” ujar dia.

Direktur Indonesia Ecotourism Network (INDECON), Ary Suhandi mengatakan, penyusunan pola perjalanan wisata Borneo ini amat tepat, mengingat Kalimantan dalam lima tahun terakhir belum masuk dalam prioritas nasional. “Tapi di RPJMD 2020-2024 Kalimantan sudah ditengok. Pertama Kaltim ada di Berau, juga di Kalbar itu sudah masuk di Sambas dan Sampit itu jalur yang menjadi bagian yang mereka sebut kalau di RPJMN itu bukan prioritas, tapi prioritas pengembangan. Jadi selevel di bawah destinasi prioritas 10 nasional,” kata dia.

Menurutnya, Kemenparekraf/Baparekraf hanya berperan memfasilitasi. Tonggak utamanya ada pada pelaku pariwasata di Kalimantan, dalam hal ini Palangkaraya. “Kita akan kembangkan jalur-jalur wisata yang mesti dikembangkan. Kita semua perlu sadari untuk meyakinkan kembali minat wisatawan asing untuk melakukan perjalanan wisata. Perlu kerja keras. Penyusunan pola perjalanan ini salah satu pemantik saja,” ujarnya.

Rifki Sungkar, perwakilan dari INDECON menambahkan, pola perjalanan wisata merupakan jalur perjalanan wisata dari satu destinasi ke destinasi lainnya yang saling terkait. “Pola perjalanan wisata ini berisi informasi tentang aktivitas, akses, fasilitas dan pelayanan yang memberikan berbagai pilihan perjalanan wisata untuk wisatawan,” papar dia. Pemerintah, Rifki melanjutkan, mendesain pola perjalanan dengan tujuan mendorong distribusi kunjungan secara merata dan menciptakan destinasi pariwisata baru. “Selain itu juga membangun infrastruktur untuk mendorong iklim usaha, mendorong partisipasi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani menuturkan, pola perjalanan ini akan menjadi panduan bagi wisatawan untuk menentukan pilihan wisata yang mereka suka berdasarkan minat mereka. Nantinya, panduan pola perjalanan ini juga akan memuat berbagai informasi mengenai destinasi wisata secara menyeluruh. “Panduan pola perjalanan wisata ini saling menguatkan antara satu destinasi dengan destinasi yang lainnya. Sehingga pola perjalanan wisata ini komprehensif dan terkoneksi dari berbagai aspek,” papar dia.

Ia melanjutkan, penyusunan pedoman pola perjalanan ini merupakan konektivitas dari daya tarik pariwisata yang dihubungkan satu dengan lainnya. “Untuk menghubungkannya perlu kecermatan. Dalam hal ini, aksesibilitas adalah hal yang utama,” terang Rizki.

Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Alexander Reyaan memaparkan, pedoman pola perjalanan wisata ini akan dijadikan pilihan bagi penyelenggara jasa wisata dalam membuat paket-paket destinasi wisata di Indonesia. “Nantinya pedoman pola perjalanan ini akan dijadikan dasar bagi tour operator, travel agent dan online travel agent dalam menyusun paket wisata, ujarnya.

Berkaitan dengan penyusunan pedoman pola perjalanan, Alex juga menyebut jika pihaknya sedang mempersiapkan story telling sebagai pendukungnya. “Tentu saja semua ini akan melengkapi kepariwisataan kita. Tahun ini kami sedang mengerjakan 12 topik pola perjalanan,” harap Alex.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Guntur Talajan menyambut baik penyusunan pola perjalanan wisata Heart of Borneo. “Kami sangat menyambut baik pelaksanaan kegiatan FGD pola perjalanan wisata Heart Of Borneo (HoB) di wilayah Kalimantan Tengah. Kegiatan FGD ini sangat penting dalam rangka pengembangan pariwisata. Kegiatan ini diharapkan dapat menggali pemikiran dan ide-ide kreatif para wisatawan minat khusus dengan kecintaannya terhadap alam, budaya, serta wisata buatan. Hasil FGD berupa pola perjalanan yang terintegrasi menjadi referensi bagi wisatawan dan operator, perjalanan wisata yang berorientasi pada keunikan dan lama tinggal, kualitas dan pengalaman serta berkelanjutan,” demikian Guntur. (***)