Perkuat Produk Pariwisata, Kemenparekraf Gelar FGD Penyusunan Roadmap Produk Wisata

oleh -47 views

JAKARTA – Merespon fase New Normal, Kemenparekraf memperkuat produk pariwisata melalui Focus Group Discussion (FGD). Detailnya adalah FGD Penyusunan Roadmap Produk Wisata Alam, Budaya, dan Buatan, Sabtu (4/6). Lokasinya berada di Hotel Mason Pine, Bandung Barat. Jumlah pesertanya ada 35 orang dengan narasumber kapabel.

“Setelah melewati masa social distancing krisis Covid-19, Kemenparekraf kini fokus mengembalikan atmosfer industri pariwisata di tanah air. FGD ini penting untuk memetakan kembali seluruh potensi pariwisata sekaligus marketnya,” ungkap Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani, Kamis (2/7).

Digelar sehari, FGD ini diikuti 35 orang dari 4 instansi. Sebut saja, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandung Barat, Kemenparekraf, hingga Media. Sebagai narasumbernya ada Hery Sigit Cahyadi dan Pindi Setiawan. Bergabung juga Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan.

FGD juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandung Barat Sri Dustirawati. Ada juga Basuki Antariksa dan Danang Rahadian yang bertugas sebagai pembahas. Secara khusus, FGD akan menyasar beberapa tujuan strategis seperti, menetapkan portofolio 3 produk wisata alam, budaya, dan buatan beserta tujuannya.

Dari FGD juga diharapkan tersedianya scenario planning lengkap dengan peta pengembangannya. Ada juga kebijakan hingga pentahapan pengembangan 3 tipe produk wisata dan turunannya. Jangka waktu pengaplikasiannya menengah atau 5 tahun. Lebih lanjut, FGD ini juga bisa menetapkan model kerjasama dan framework antar stakeholder.

“Melalui FGD tentu diharapkan adanya output potensial untuk pengembangan 3 produk wisata beserta turunannya. Di sini ada banyak informasi yang bisa dieksplorasi menjadi sebuah kebijakan. Sebab, ada program strategis yang akan dituju. Program strategisnya berupa analisis pasar, strategi product market match, juga strategi diversifikasi produk wisata,” terang Rizki.

Sama seperti destinasi lainnya, diversifikasi produk wisata memang potensial dimiliki Bandung Barat. Teritorialnya memiliki luasan sekitar 13 Juta Kilometer Persegi dengan potensi pasar lokal 1,49 Juta Jiwa. Kawasan ini terbagi dalam 16 kecamatan yang memiliki potensi produk wisata beragam. Sebut saja, Goa Pawon yang berada di Cipatat, Padalarang, yang menawarkan beragam experience.

Goa Pawon memiliki koleksi fosil manusia purba. Ada juga situs buatan, lereng batu alami, hingga hijau hutan alami. Koleksi wisata airnya ada Situ Ciburuy yang berada di Padalarang. Selain Pulau Ciburuy, wisatawan bisa menikmati wisata perahu, restoran pulau, area jajanan, hingga area oleh-oleh. Bandung Barat juga memiliki eksotisnya Curug Malela di Rongga yang dilengkapi infrastruktur terbaik.

“Kami berterima kasih kepada Kemenparekraf karena menggelar FGD di Bandung Barat. Potensi dari Bandung Barat sangat besar. Selain alam, kami memiliki produk budaya dan buatan. Variannya sangat beragam. Mendukung kenyamanan wisatawan, Bandung Barat itu memiliki amenitas dan aksesibilitas luar biasa,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandung Barat Sri Dustirawati.

Dengan beragam sisi eksotisnya, Bandung Barat kompetitif menggerakkan arus kunjungan wisman. Pada 2019, pergerakan wisman mencapai 144.372 orang. Jumlah tersebut naik signifkan karena pada 2018 arus wisman berjumlah 35.948 orang. Adapun pergerakan wisnus berada pada angka 6.386.654 orang. Sri lalu menambahkan, pariwisata Bandung Barat akan cepat pulih sepanjang masa New Normal.

“Industri pariwisata di Bandung Barat sebenarnya kompetitif sebelum pandemi Covid-19. Namun, kami optimistis bisa mengembalikan hegemoninya dalam waktu cepat. Dengan begitu, perekonomian rakyat bisa bergerak dan menghadirkan kesejahteraan keluarga. Apalagi, kami mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kemenparekraf,” lanjutnya.(***)