Program CHSE Bikin Samosir Makin Hijau Covid-19

oleh -251 views

SAMOSIR – Program CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, Environment Sustainability) membuat destinasi Samosir semakin hijau Covid-19. Menerapkan regulasi CHSE secara ketat dan menyeluruh, Samosir pun menjadi destinasi rekomendasi kunjungan di Kawasan Danau Toba. Apalagi, Sosialisasi CHSE Destinasi Super Prioritas Danau Toba digulirkan masif di sana, Rabu (2/12).

Program Sosialisasi CHSE Destinasi Super Prioritas Danau Toba sudah digelar di Warung Kopi Synergy, Pangururan, Samosir, Sumatera Utara (Sumut). Jumlah pesertanya ada 100 orang. Backgroundnya terdiri dari pelaku usaha pariwisata, pelaku ekonomi kreatif, pemandu wisata, asosiasi usaha/profesi pariwisata, pengelola destinasi, Polsek, dan Babinsa.

“Samosir masuk zona hijau Covid-19. Destinasi ini sangat aman dikunjungi. Kini jaminannya semakin besar, apalagi ada program CHSE. Bergulirnya program CHSE tentu memberikan jaminan kepada para wisatawan yang berkunjung ke sini,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Samosir Dumosch Pandiangan, Rabu (2/12).

Samosir memang menjadi daerah ramah bagi Covid-19. Statusnya berubah menjadi hijau sejak Jumat (13/11). Perubahan status dari zona oranye menuju hijau juga disertai 31 wilayah lainnya di Sumut. Dan, revisi status jadi aman tentu membawa angin segar. Artinya, aktivitas pariwisata sebagai sektor utama pendorong perekonomian bisa bergulir kembali secara optimal.

“Destinasi harus didorong melalui program CHSE agar pemulihannya cepat. CHSE menjamin semuanya aman. Sebab, destinasi menjalankan regulasi CHSE secara ketat. Artinya, ada jaminan keamanan hingga keselamatan bagi wisatawan. Sekarang tinggal wisatawan juga mematuhi regulasi yang berlaku di sana,” terang Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Memberikan jaminan dan perlindungan optimal, destinasi harus memiliki sertifikasi CHSE. Regulasi ini menjadi syarat utama aktivasi unit bisnis pariwisata di masa transisi New Normal. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui destinasi untuk aktivasi. Sebagai awalan ada sosialisasi, penilaian mandiri, dan deklarasi mandiri. Pada fase penilaian, dilakukan pendaftaran secara online hingga diraih status kelayakan penilaiannya. Bila minor, ada potensi untuk perbaikan.

Usai melewati fase deklarasi mandiri, dilakukan verifikasi oleh Kemenparekraf/Baparekraf dan lembaga sertifikasi. Bila dinyatakan layak, destinasi baru mengajukan permohonan sertifikasi dan assessment oleh tim auditor. Untuk menjamin semuanya, lalu dilakukan visitasi tim. Bila semua aspek terpenuhi, baru sertifikasi diterbitkan dan dilanjutkan dengan labelling.

“Pariwisata itu bisnis kepercayaan. Jadi, kepercayaan wisatawan harus dipulihkan dan dijaga. Samosir ini sangat aman dikunjungi, apalagi atraksi alam dan budayanya sangat eksotis. Selain pengembangan fisik, sumber daya manusianya juga harus ditingkatkan. Kami optimistis, destinasi Samosir akan cepat pulih dan memberi manfaat ekonomi besar,” jelas Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Oni Yulfian.

Menguatkan sumber daya manusia dan memahami posisi CHSE, beberapa narasumber pun dihadirkan. Selain Kemenparekraf/Baparekraf dan Dinas Pariwisata Samosir, transformasi pengetahuan diberikan oleh praktisi pariwisata. Sebut saja, Direktur Politeknik Pariwisata Medan yang diwakili Ketua Pasca Sarjana Politeknik Pariwisata Medan dan Ketua Komunitas Ekraf Samosir. Koordinator Area I Pengembangan Destinasi Regional I Wijonarko mengatakan, semua stakeholder bersatu.

“Dengan berubahnya status dari zona oranye menjadi hijau sebenarnya bisa jadi parameter kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan. Apalagi, kini ada CHSE, jadi kawasan Samosir semakin aman dan nyaman dikunjungi. Hal ini tidak lepas dari soliditas para stakeholdernya,” kata Wijonarko didampingi Sub Koordinator Area I A Pengembangan Destinasi Regional I Andhy Marpaung.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.