We Love Bali, Cerita Cinta Langka Sang Curik di Bali Barat

oleh -54 views

JEMBRANA – We Love Bali karena destinasi ini menawarkan cerita cinta klasiknya sendiri. Cerita ini jadi sangat langka karena melibatkan Sang Curik Bali. Jalak Bali yang terkenal dengan kesetiaan cintanya. Mirip Romeo dan Juliet, tapi endingnya sangat indah. Meski demikian kondisinya rumit. Sang Curik populasinya langka, meski terus dikonservasi oleh Sanctuari Curik Bali Tegal Bunder.

Harmoni terjadi di Sanctuari Curik Bali Tegal Bunder, Kawasan Taman Nasional Bali Barat, Jembrana-Buleleng, Bali. Hubungan antara manusia, fauna, dan alam terjalin sempurna. Sangat seimbang. Kondisi ini pun sangat menginspirasi para peserta Familiarization Trip (Famtrip) Kemenparekraf/Baparekraf, 5-9 November 2020. Mereka belajar banyak mengenai Curik Bali yang langka dan sempat mendekati punah.

“Curik Bali sempat mau punah, tapi kini populasinya terus membaik. Jumlahnya cukup banyak baik di alam maupun di sanctuari ini. Kami terus mengembalikan populasi mereka. Sejauh ini hasilnya sangat baik. Kami optimistis jumlah mereka akan bertambah,” ungkap Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bali Barat Hery Kusumanegara, Senin (7/12).

Menjalankan CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability) masif, Santuari Curik Bali Teal Bunder memiliki beberapa zonasi. Ada kawasan pembiakan, penyapihan, habimasi, release, dan monitoring. Pembiakan dilakukan dalam 40 kandang. Curik Bali bertelur selama 2 pekan, setelah telur menetas maka langsung dilakukan pemasangan cincin pengenal. Pemasangan dilakukan sebelum anak Si Curik Bali berumur 3 hari.

Didekatkan dan dirawat oleh induknya, Curik Bali bisa terbang saat berumur 30 hari hingga 40 hari. Saat berusia 7 bulan mereka memaski masa produktif dan mulai berkembang biak. Umur Curik Bali ini bisa memanjang hingga 15 tahun. Setelah melewati masa penyapihan, Curik Bali memasuki fase habimasi atau masa adaptasi peralihan menuju pelepasliarannya. Fase ini, Curik Bali diajari pakan alami, iklim, dan predatornya. Predator Curik Bali seperti, musang, biawak, elang brontok, dan alang-alang.

“Curik Bali jadi burung langka. Burung ini endemik Bali. Tidak dijumpai di tempat lain. Populasinya itu sempat turun, meski kini mulai pulih. Di masa New Normal, Santuari Curik Bali Tegal Bunder sangat layak dikunjungi. Di sana menerapkan CHSE. Wisatawan bisa belajar tentang Curik Bali dengan tenang. Semuanya aman dan sehat,” terang Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa.

Usai menjalani masa habimasi, Curik lalu di release. Metode perreleasannya ada 2, yaitu hard release dan soft release. Untuk hard release, Curik Bali langsung dilepas ke alam. Adapun soft release, Curik Bali masih disupply makanannya di tempat khusus meski posisinya sudah berada di alam liar. Jenisnya buah-buahan seperti pepaya dan pisang.

Metode soft release memiliki potensi angka hidup lebih tinggi hingga 95%. meski berada di alam liar, monitoring terus dilakukan secara rutin. Saat ini, Sanctuari Curik Bali Tegal Bunder memiliki koleksi burung 408 ekor. Populasinya di alam liar sekitar 331 ekor, asumsi ini diambil monitoring terbau. Kali terakhir melakukan release pada awal Desember 2020 dengan jumlah 24 ekor.

“Santuari Curik Bali ini sangat menarik. Menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke area Bali Barat. Sebab, ada banyak fauna yang bisa dilihat. Sebut saja, Sapi Bali yang juga jadi endemik di sana. Dengan keunikannya, kawasan ini juga menjadi rujukan wisman khususnya pengamat burung,” tutup Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Rizki Handayani.(*)