We Love Bali Kemenparekraf Sambangi The Blooms Garden Bedugul

oleh -196 views

BEDUGUL – Era New Normal telah dimulai di Indonesia. Bila tidak sempat berwisata di akhir tahun 2020, maka awal tahun 2021 bisa jadi momen bagi Anda untuk kembali jalan-jalan liburan bersama keluarga, rekan kerja, hingga teman-teman. Pulau Bali dapat menjadi salah satu pilihan destinasi yang layak dikunjungi.

Itu karena berwisata ke Bali juga asyik kok dilakukan bersama keluarga. Pilihan destinasi yang dapat dikunjungi untuk segala usia pun melimpah. Bila Anda dan keluarga sedang ingin menjelajahi kawasan utara Bali, The Blooms Garden Bedugul bisa jadi salah satu destinasi pilihan yang wajib dikunjungi.
Kemungkinan, para wisatawan dalam negeri maupun mancanegara masih banyak yang belum mengunjungi The Blooms Garden Bedugul. Pasalnya, kawasan wisata ini baru dibuka pada pertengahan 2019. Dari segi lokasi pun sangat strategis.

Karena setelah dari The Blooms Garden Bedugul, Anda bersama bisa berkunjung ke objek wisata popupler terdekat di sekitar kawasan Bedugul dan Kabupaten Tabanan, seperti Pura Ulun Danu, Danau Beratan, Kebun Raya Bedugul, hingga The Sila’s Agrotourism.

Konsep wisata taman bunga yang luas di dukung dengan ornament spot selfie, membuat The Blooms Garden Bedugul benar-benar dibangun untuk wisata kekinian. Bersantai bersama keluarga berada ditengah taman bunga yang ditata begitu indah dan dikelilingi pemandangan pegunungan yang sejuk, jadi salah satu yang ditawarkan oleh destinasi ini.

Taman bunga yang berada di Banjar Batusesa, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti ini berada di atas lahan seluas 5 hektar, tidak hanya berupa tanaman bunga saja atau berbagai spot selfie yang instagramable, tetapi terdapat juga kebun kopi sebagai ciri kas perkebunan di dataran tinggi pegunungan. Di sini juga disediakan berbagai wahana menarik seperti wisata naik sepeda, ATV ke hutan, trekking, swing dan juga wahana spiritual. Kawasan ini sangat ideal untuk kegiatan outbound.
Bagi Anda yang suka sesuatu yang unik, sekitar 500 meter dari kawasan wisata yang terinspirasi The Miracle Garden Dubai ini, ada sebuah pohon yang mengeluarkan air. Bila berkunjung ke The Blooms Garden by Ulun Danu Beratan Bedugul, Anda akan menemukan berbagai hal baru yang membuat liburan bersama lebih berharga, karena ada juga taman dengan suasana seperti taman Belanda.

Ya, The Blooms Garden Bedugul menjadi salah satu kawasan wisata yang masuk dalam program percepatan pemulihan pariwisata di Indonesia, khususnya di Bali dalam kampanye We Love Bali. Program ini merupakan kerjasama antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekrarf/Baparekraf) dengan Pemerintah Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Bali dan segenap unsur yang terlibat dalam pariwisata Bali.

“Pariwisata jadi salah satu sektor yang paling terdampak dari pandemi Covid-19. Dan Bali sebagai destinasi utama di Indonesia mendapatkan pukulan paling telak akibat terbatasnya mobilitas masyarakat. Untuk memulihkan kondisi ini, sekaligus mengembalikan perekonomian masyarakat, Kemenparekraf/Baparekraf menggelar program We Love Bali, sekaligus memanfaatkan momentum akhir tahun 2020 dan meramaikan kembali pariwisata Bali mulai 2021,” beber Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, Minggu (6/12/2020).
“Tapi tidak hanya itu, melalui We Love Bali, kita sekaligus memperkenalkan dan mengedukasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment friendly (ramah lingkungan),” imbuhnya.
We Love Bali menjadi bukti komitmen besar Kemenparekraf/Baparekraf.

Menaikan lagi branding-nya, eksplorasi masif digulirkan melalui ‘We Love Bali’. 10 Program Famtrip yang telah dilaksanakan selama selama 2 bulan terakhir kini memasuki pengujung dan dilaksanakan pada 6-8 Desember 2020.

Program We Love Bali jadi penegas implementasi CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability). Kemasannya melalui Familiarization Trip (Famtrip) media nasional dengan zonasi 5 destinasi utama Pulau Dewata. Secara keseluruhan program ini telah melibatkan 409 pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, 8.421 tenaga kerja serta 4.800 peserta dari masyarakat umum yang berasal dari Provinsi Bali.

Dijelaskan pihak Kemenparekraf/Baparekraf bahwa implementasi penerapan CHSE melalui program ‘We Love Bali’ ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk hotel, usaha perjalanan wisata, usaha transportasi, pemandu wisata, restoran, daerah tujuan wisata, UMKM, dan lainnya.

Program ini melibatkan 13 Professional Conference Organizers (PCO) dan 26 Biro Perjalanan Wisata yang bernaung dibawah ASITA Bali (Association of Indonesian Travel Agents/ Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia), 30 guide yang bernaung dibawah HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia),
sejumlah hotel dan restoran yang bernaung dibawah PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), sejumlah perusahaan transportasi yang bernaung dibawah PAWIBA (Persatuan Angkutan Pariwisata Bali) dan daya tarik wisata yang bernaung dibawah PUTRI (Asosiasi Pengelola Obyek Wisata).

We Love Bali juga melibatkan sekitar 4.750 peserta untuk melakukan trip keliling Bali selama 3 hari 2 malam dan menginap secara bergiliran di kawasan-kawasan pariwisata yang ada di Bali.

“Seluruh biaya perjalanan seperti akomodasi, transportasi, atraksi wisata, makan dan minum selama mengikuti program ditanggung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Peserta direkrut oleh Tim Percepatan Pemulihan Pariwisata Provinsi Bali dengan menyebarkan undangan ke berbagai instansi baik pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan sekolah tinggi,” urai Rizki Handayani.
Adapun syarat peserta antara lain hanya dapat mengikuti satu kali kegiatan, aktif sebagai pengguna media sosial minimal salah satu dari platform; Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, ataupun Tiktok, memiliki kegemaran aktivitas diluar ruangan seperti berenang, snorkeling, trekking, hiking, bersepeda, dsb, serta memahami dan mampu menerapkan protokol kesehatan.

Peserta juga dituntut mempublikasikan aktivitas yang dilakukan selama mengikuti kegiatan dalam bentuk foto, video, ataupun artikel yang mengedepankan norma kesopanan dan menerapkan protokol kesehatan dan bersedia apabila digunakan oleh Kemenparekraf untuk materi promosi pariwisata.

“Protokol kesehatan tetap diterapkan. Peserta wajib menunjukan hasil rapid test non reaktif yang dilakukan 1-3 hari sebelum kegiatan. Peserta juga wajib menandatangani pakta integritas akan menerapkan protokol kesehatan, serta wajib menjaga dan mentaati tata tertib dan kearifan lokal,” jelas Rizki Handayani lagi.
Adapun peserta dibagi menjadi kelompok perjalanan (trip) dimana setiap kelompok terdiri dari 40 orang. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan 2 kendaraan bus, masing-masing bus kapasitas 40 kursi hanya berisi maksimal 20 penumpang yang melalui 1 rute perjalanan. Destinasi wisata yang dikunjungi adalah destinasi wisata yang sudah populer maupun yang merupakan destinasi baru di seluruh penjuru Bali.

No More Posts Available.

No more pages to load.