Diaspora Indonesia di Netflix, Jembatan Baru Industri Kreatif Nasional

oleh -0 views
oleh

LOS ANGELES, 17 Agustus 2026 — Peluang Indonesia untuk memperluas pengaruh budaya dan industri kreatif ke panggung dunia semakin terbuka. Salah satunya terlihat dalam kunjungan para Duta Besar negara-negara ASEAN di Amerika Serikat ke kantor pusat Netflix di Los Angeles, California, pada 13 Agustus 2026 dalam rangkaian US-ABC Ambassador Tour 2026.

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat lebih jauh perkembangan industri hiburan digital sekaligus menjajaki peluang bagi Indonesia dalam memperkuat ekosistem industri kreatif nasional. Di tengah pertemuan itu, muncul fakta yang membanggakan: dua eksekutif Netflix yang menyambut para duta besar ASEAN merupakan diaspora Indonesia, yakni Ruben Hattari, Director of Global Affairs Southeast Asia Netflix, dan Ryan Rahardjo, Director of Public Affairs Asia Pacific Netflix.

Kehadiran dua talenta Indonesia tersebut memperlihatkan bahwa sumber daya manusia Indonesia telah mampu menempati posisi strategis dalam pengambilan kebijakan di salah satu perusahaan hiburan digital terbesar dunia.

“Diaspora Indonesia yang berada di posisi strategis perusahaan global seperti Netflix dapat menjadi jembatan penting bagi industri kreatif nasional. Kita ingin membuka lebih banyak ruang agar cerita, talenta, teknologi produksi, dan kekayaan intelektual Indonesia tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi mampu berkembang dan bersaing di pasar global,” ujar Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo.

Netflix merupakan layanan hiburan berbasis langganan yang menawarkan film, serial, dokumenter, gim, hingga program langsung melalui internet. Pada tahun fiskal 2025, pendapatan perusahaan tersebut mencapai sekitar US$45,18 miliar, dengan laba bersih hampir US$11 miliar. Pada 2024, jumlah pelanggannya mencapai sekitar 302 juta, menjadikannya salah satu jalur distribusi audiovisual paling berpengaruh di dunia.

Indonesia sendiri menjadi pasar yang sangat menjanjikan. Pada 2025, pelanggan layanan video-on-demand premium nasional diperkirakan mencapai 26,9 juta. Di Asia Tenggara, Netflix memimpin dari sisi pelanggan, pengguna aktif, dan jam tonton, meskipun berhadapan dengan persaingan ketat dari Vidio, Viu, iQIYI, Disney+, serta berbagai platform lainnya.

Potensi tersebut semakin kuat karena penonton Indonesia menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap karya dalam negeri. Sepanjang 2025, lebih dari 90 persen pelanggan Netflix Indonesia menonton konten lokal. Pada kuartal IV 2025, pangsa penayangan konten Indonesia di Asia Tenggara bahkan mencapai sekitar 30 persen, menyamai pangsa konten Korea.

Hingga awal 2026, sebanyak 35 judul film Indonesia telah masuk daftar Global Top 10 Netflix. Abadi Nan Jaya atau The Elixir, misalnya, mencatat lebih dari 11 juta penayangan hanya dalam beberapa hari setelah dirilis pada Oktober 2025. Film horor-zombie tersebut menjadi nomor satu kategori film nonbahasa Inggris Netflix di lima negara dan masuk Top 10 di 75 negara.

Film The Shadow Strays juga berhasil masuk Top 10 di 85 negara. Sementara The Big 4 menunjukkan bahwa karya Indonesia dalam genre aksi-komedi pun memiliki daya saing dan daya tarik bagi penonton internasional.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa karya kreatif Indonesia memiliki potensi pasar global yang besar. Tantangannya kini adalah membangun ekosistem yang mampu mengembangkan ide dan cerita sejak tahap awal hingga menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing internasional.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas rintisan peluang kerja sama antara Indonesia dan Netflix dalam sejumlah bidang, mulai dari pengembangan naskah, riset cerita, proyek perdana sineas daerah, pelatihan produksi, animasi, efek visual, produksi virtual, hingga pemasaran internasional.

Peluang kerja sama juga terbuka untuk produksi dokumenter yang mengangkat kekayaan dan pengalaman Indonesia, seperti konservasi laut, transisi energi, warisan budaya, kesehatan, serta inovasi. Berbagai isu tersebut dapat menjadi sumber cerita yang mempertemukan kekayaan lokal dengan perspektif global.

Karena itu, ambisi Indonesia tidak seharusnya berhenti pada bertambahnya jumlah film nasional yang masuk ke Netflix. Target yang lebih besar adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi dan pengembangan intellectual property (IP) kreatif Asia Tenggara.

Dengan kekayaan budaya dan keberagaman cerita yang dimiliki, Indonesia memiliki modal untuk menciptakan karya khas Nusantara yang bernilai global. Ekosistem tersebut juga berpotensi membuka pekerjaan berkualitas, menggerakkan pelaku usaha kecil dalam rantai produksi, memperkuat talenta daerah, serta membawa identitas Indonesia kepada jutaan layar di berbagai belahan dunia.

Dalam konteks itu, keberadaan diaspora Indonesia di perusahaan global seperti Netflix memiliki arti strategis. Mereka dapat menjadi penghubung antara talenta dan kreativitas Indonesia dengan ekosistem industri internasional, sekaligus membuka jalan bagi semakin banyak karya Indonesia untuk hadir dan diperhitungkan di panggung dunia.

No More Posts Available.

No more pages to load.