Format 3D Arief Yahya Kunci Transformasi Digital Pasca Covid-19

oleh -135 views

JAKARTA – Arief Yahya selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat digital. Maklum ia adalah CEO Telkom Indonesia periode 2012-14. Sentuhan digital juga diberikan Arief Yahya saat memimpin Kementerian Pariwisata periode 2014-2019. Kini, Arief Yahya membagikan ilmu tentang strategi untuk bangkit, menjalankan transformasi digital, dan menjadi kompetitif di era New Normal dan Past Covid-19.

Dalam webinar yang didukung Tim MarkPlus Inc, Arief Yahya memperkenalkan konsep 3D, yaitu Digital Imperative, Decoding Economy, dan Unusual Way of Digital Transformation. Webinar yang dipimpin Hermawan Kartajaya Founder dan Chairman MarkPlus Inc. ini dihadiri oleh Johnny G. Plate, Menteri Kominfo, Siti Choiriana, Direktur Consumer Service Telkom Indonesia, dan berbagai perwakilan dari perusahaan serta asosiasi telekomunikasi Indonesia.

Menurutnya, konsep 3D ini berdasarkan situasi industri telekomunikasi saat ini, khususnya dalam upaya mewujudkan transformasi digital. Dijelaskannya, ada tiga hal yang menjadi catatan. Pertama, pelaku industri telekomunikasi sudah seharusnya memahami pentingnya digitalisasi.

Kedua, decoding economy berarti kemampuan perusahaan untuk melihat peluang bisnis yang ada meskipun di tengah krisis. Ketiga, pelaku industri telekomunikasi perlu melakukan transformasi digital secara merata dan kuat.

“Dalam menyambut era new normal, perusahaan wajib menyesuaikan peraturan pemerintah yang berlaku untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pelanggan dan karyawannya. Perusahaan juga perlu menyiapkan strategi digital, karena pelanggan sudah mulai terbiasa dengan digitalisasi,” jelasnya.

Arief mencontohkan framework untuk menghadapi COVID-19 dari MarkPlus, yaitu Surviving Preparing dan Actualizing (SPA). Mengacu hal itu, perusahaan dapat melakukan langkah-langkah seperti strategi surviving, yaitu merupakan reaksi perusahaan untuk bertahan ditengah krisis terutama jika perusahaan dalam keadaan yang kritis.

“Strategi lainnya adalah servicing, atau keadaan dimana perusahaan masih mendapat keuntungan. Kedua kondisi tersebut sebaiknya dilanjutkan dengan strategi preparing dengan memanfaatkan kesempatan bisnis. Preparing merupakan masa transisi setelah perusahaan mampu bertahan di era krisis dengan decoding the economics,” jelasnya.

Langkah yang perlu dilakukan adalah dengan merubah posisi bisnis dari potential loser menjadi potential winner. Salah satu contohnya adalah dengan secara kreatif merubah business process dengan memperhatikan core business, seperti industri kuliner yang berubah menjadi bisnis food processing, dan industri baja menjadi baja tower untuk kebutuhan ICT.

Arief Yahya juga mengimbau perusahaan untuk mempersiapkan Positioning Differentiation dan Branding (PDB) yang kuat.

“Setelah memiliki PDB yang kuat, selanjutnya perusahaan dapat meningkatkan jangkauan produk dan juga servis yang ditawarkan sesuai dengan keadaan eksternal dan peluang yang tersedia. Dalam melakukan strategi ini, proses bisnis dituntut untuk lebih agile dan bold,” jelasnya.

Jika memang suatu perusahan sulit untuk melakukan digitalisasi, Arief menilai solusi terbaik adalah melakukan kolaborasi dengan perusahaan lain. Khususnya yang sudah lebih dulu melakukan digital transformasi. Hal ini bertujuan agar proses digitalisasi bisa berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

“Namun, harus diperhatikan bahwa setiap industri tentu akan memiliki strategi digitalisasi yang berbeda. Sehingga, diperlukan diagnostic tool untuk menilai kesiapan strategi digitalisasi dari masing-masing industri seperti mengacu pada model lain yang dapat dipakai untuk menghadapi situasi karena COvid-19,” jelasnya.

Menurutnya, penilaiannya harus melihat dari dua sisi, supply maupun demand. Supply, adalah kesediaan dan kemauan dari perusahaan untuk mendigitalisasi bisnis prosesnya. Langkah selanjutnya adalah menilai dari sisi demand, apakah pasar siap dan ingin untuk lebih memiliki digital touch points. Setelah menentukan posisi dari masing-masing industri, perusahaan dapat menentukan strategi yang bisa diambil.

Pria asal Banyuwangi ini mengatakan, perusahan telekomunikasi pada masa pandemi Covid-19 cenderung stabil jika dibandingkan dengan industri lain. Perusahaan telekomunikasi pun disebut untung besar.

“Namun, hal itu justru membuat perusahaan telekomunikasi terlena. Di samping itu, pandemi Covid-19 membuat industri bergerak ke arah yang lebih digital. Ini adalah sebuah momentum yang harus diambil oleh perusahaan telekomunikasi. Sehingga perusahaan telekomunikasi harus bertransformasi ke digital telco dan mengambil peran sebagai enabler digital transformasi bagi industri yang lain. Digital transformation bagi industri yang lain dipercaya akan tetap berjalan pada masa yang akan datang,” tuturnya.

Dijelaskannya, dalam transformasi untuk menjadi digital telekomunikasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Infrastructure As a Service. Ini merupakan langkah yang sudah semestinya menjadi keharusan di industri telco. Misalnya, pembangunan 5G dan 6G, membuat jaringan yang secara biaya dapat lebih efisien, pembangunan digital business menjadi lebih efektif dengan big data, dsb.

Kedua Platform As a Service, dengan membuat data analytic, digital ads, AI, OS. Ketiga adalah Software As a Service, dengan pengembangan digital services seperti aplikasi dan digital content yang dapat langsung dinikmati oleh end user. Jika perusahaan telekomunikasi dapat melakukan investasi di ketiga hal tersebut, maka perusahaan telekomunikasi juga dapat menjadi enabler bagi industri yang lain.

“Pada era digital, banyak industri yang semakin mendekat ke digital vortex. Sehingga, lanskap kompetisi pun berubah. Perusahaan tidak lagi hanya berkompetisi dengan perusahaan yang sejenis di ranah yang sama tapi perusahaan juga berkompetisi dengan pemain lain yang menawarkan layanan Over the Top (OTT), contohnya adalah Netflix, WhatsApp dan lain lain. Kehadiran dari pemain baru ini menciptakan situasi yang disebut “Value Vampires”,” paparnya.

Menurutnya, value vampire adalah situasi dimana para perusahaan yang menawarkan layanan OTT tersebut melemahkan para pemain lama dengan cara menawarkan penawaran yang lebih menarik, biasanya dengan biayanya sangat rendah atau bahkan gratis dan dengan pengalaman yang hampir sama baiknya.

Konsekuensinya, value vampire memaksa pemain lama dalam industri tersebut untuk mencari pasar baru secara terus menerus jika ingin tetap survive dalam pasar.

“Untuk dapat berkompetisi dengan para raksasa global, saya menawarkan framework 3C agar perusahaan mengetahui rules of the game. Rules of the game-nya meliputi tiga hal yaitu Confront, Compete, dan Collaboration,” tuturnya.

AY menjelaskan, terdapat dua fokus besar saat ingin melakukan transformasi digital, yaitu digital leadership dan digital capability.

“Kenapa saya menyebutkan digital leadership terlebih dahulu? Karena banyak perusahaan yang sering tidak memperhatikan aspek tersebut. Padahal, aspek tersebut yang paling penting sebelum melakukan inisiatif digital lainnya,” katanya.

Ditambahkannya, yang dimaksud dengan digital leadership adalah bagaimana peran C-levels untuk membentuk visi tentang transformasi digital di setiap karyawan dalam perusahaan tanpa terkecuali karena digitalisasi bukan hanya soal membentuk produk digital tetapi juga bagaimana seluruh anggota tim mempunyai mindset yang sama tentang transformasi digital dan tujuannya ke depan.

Menurutnya, pemahaman yang keliru selanjutnya adalah dalam melakukan peningkatan digital capability. Banyak perusahaan dalam melakukan transformasi digital hanya terbatas pada sebagian fungsi perusahaan.

“Ketika saya berbicara dengan para pemimpin tentang apa yang mereka maksud dengan digital, beberapa melihatnya sebagai peningkatan pada fungsi teknologi informasi mereka. Lainnya fokus pada pemasaran digital atau penjualan. Tetapi sangat sedikit yang memiliki pandangan luas dan holistik tentang apa arti digital sesungguhnya. Padahal, penerapan digitalisasi semestinya diaplikasikan secara menyeluruh dalam proses bisnis perusahaan baik marketing maupun supply-chain. Selain itu, intinya, digitalisasi harus dijalankan secara merata dan kuat (bolder),” katanya.(*)