Furnitur Indonesia Baru Kuasai 4 Persen Pasar AS, Peluang Ekspor Masih Terbuka Lebar

oleh -0 views
oleh

JAKARTA — Pasar Amerika Serikat masih menjadi salah satu peluang terbesar bagi industri furnitur Indonesia. Dengan nilai impor furnitur yang mencapai sekitar US$ 52 miliar pada 2025, ekspor Indonesia ke pasar tersebut baru sekitar US$ 1,57 miliar atau kurang lebih 4 persen dari total impor furnitur Amerika Serikat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa produk furnitur Indonesia sebenarnya telah memiliki tempat di pasar Amerika, namun ruang untuk meningkatkan pangsa pasar masih sangat terbuka. Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan daring yang digelar KBRI Washington, DC, Kamis, 20 Agustus 2026, bertajuk “Navigating The United States Furniture Market: Market Access, Regulations, and Doing Business With US Buyers”.

Forum tersebut diikuti 112 produsen furnitur Indonesia, termasuk pengurus Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) serta Asosiasi Industri Permebelan Indonesia (ASMINDO).

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan bahwa Amerika Serikat merupakan pasar strategis bagi pengembangan industri furnitur nasional. Besarnya pasar Amerika dinilai dapat menjadi pendorong penting bagi peningkatan ekspor Indonesia sekaligus memberikan dampak terhadap industri pengolahan kayu, perajin, hingga usaha kecil dan menengah di berbagai daerah.

“Peningkatan pangsa pasar ke Amerika dapat memberi dorongan besar bagi ekspor nasional, industri pengolahan kayu, perajin, dan usaha kecil menengah di berbagai daerah,” ujar Indroyono.

Data perdagangan menunjukkan, ekspor furnitur Indonesia ke seluruh dunia untuk kelompok HS 94 pada 2023 mencapai US$`2,28 miliar. Sementara itu, besarnya pasar Amerika memperlihatkan peluang yang jauh lebih luas, terutama untuk produk-produk furnitur dengan karakter, desain dan kualitas yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen Amerika.

Atase Perdagangan KBRI Washington, DC, Ranitya Kusumadewi, mengingatkan produsen Indonesia agar tidak hanya mengejar volume ekspor. Menurutnya, strategi yang lebih penting adalah masuk ke segmen bernilai tinggi dengan mengandalkan desain yang menarik, kualitas yang konsisten, penggunaan kayu legal dan bersertifikat, serta penguatan pemasaran digital dengan dukungan mitra lokal di Amerika Serikat.

Indonesia memiliki keunggulan dari kekayaan material dan karakter produknya. Furnitur berbahan rotan, bambu, kayu jati dan berbagai produk anyaman kayu memiliki daya tarik tersendiri di tengah meningkatnya minat konsumen Amerika terhadap furnitur alami, berkelanjutan dan memiliki ciri khas.

Sejumlah kategori produk juga memiliki pasar yang besar. Untuk meja makan, furnitur kabinet, meja konsol, rak, sideboard dan furnitur ruang keluarga, nilai impor Amerika Serikat pada 2025 mencapai sekitar US`$6,42 miliar. Sementara impor untuk kategori kursi makan, kursi ruang tamu, kursi goyang dan rangka sofa mencapai sekitar US$7,38 miliar.

Namun, besarnya peluang tersebut juga diikuti tuntutan kesiapan yang tidak ringan. Eksportir Indonesia perlu memahami perubahan tren desain, standar mutu, pola belanja konsumen melalui ritel digital serta berbagai regulasi perdagangan Amerika Serikat, termasuk kebijakan Section 232 dan Section 301.

Selain aspek regulasi, faktor biaya logistik yang meningkat dan tingginya bunga kredit perumahan di Amerika juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan oleh pelaku usaha dalam menyusun strategi penetrasi pasar.

Karena itu, penguatan industri furnitur nasional, khususnya pelaku UKM, menjadi sangat penting. Pengembangan klaster ekspor yang dilengkapi fasilitas pengeringan kayu, pengujian mutu, pengembangan desain, manajemen pesanan hingga fasilitas ekspor dapat membantu produsen Indonesia meningkatkan daya saing dan memenuhi kebutuhan pasar global.

Jika kreativitas dan kekuatan desain para perajin Indonesia dapat dipadukan dengan kapasitas produksi yang konsisten serta sistem ekspor yang semakin kuat, target HIMKI untuk mendorong ekspor furnitur Indonesia hingga US$3 miliar, bahkan US$4 miliar pada 2030, bukan sesuatu yang mustahil.

Amerika Serikat dengan ukuran pasarnya yang sangat besar dapat menjadi salah satu tujuan utama untuk mencapai target tersebut. Tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana produk furnitur Indonesia masuk ke Amerika, tetapi bagaimana produk tersebut mampu naik kelas, memperluas pangsa pasar dan membangun posisi yang kuat dalam rantai perdagangan furnitur global.

No More Posts Available.

No more pages to load.