Indonesia–AS Perkuat Kolaborasi Inovasi dan Industri Masa Depan Bersama East-West Center

oleh -0 views
oleh

WASHINGTON DC – Indonesia dan Amerika Serikat terus memperluas kemitraan strategis di bidang ekonomi dengan fokus pada pengembangan inovasi, teknologi, serta penguatan industri masa depan. Upaya tersebut menjadi pokok pembahasan dalam pertemuan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat dengan President East-West Center, Celeste A. Connors, di Honolulu, Hawaii, pada 9 Juli 2026.

Pertemuan tersebut menandai komitmen kedua pihak untuk memperkuat kolaborasi yang tidak lagi terbatas pada perdagangan dan investasi, tetapi juga mencakup sektor-sektor strategis yang akan menentukan daya saing ekonomi global di masa depan, seperti mineral kritis, logam tanah jarang (rare earth elements), dan industri semikonduktor.

Berdiri sejak 1960 di kampus University of Hawaii at Manoa, East-West Center merupakan salah satu lembaga terkemuka yang mendorong dialog kebijakan, riset, dan kerja sama antara Amerika Serikat, Asia, dan kawasan Pasifik. Hingga kini, lebih dari 3.750 alumni Indonesia telah menjadi bagian dari jejaring East-West Center dan berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, akademisi, dunia usaha, media, hingga seni.

East-West Center juga secara konsisten melakukan kajian mengenai perkembangan Indonesia. Data lembaga tersebut menunjukkan nilai transaksi pembayaran digital Indonesia mencapai sekitar US$404 miliar pada 2024 atau setara 36 persen dari total transaksi digital ASEAN. Selain itu, Indonesia tercatat memiliki 86 pusat data pada Juni 2025, terbanyak di Asia Tenggara, sementara terdapat 443 perusahaan Amerika Serikat yang beroperasi di Indonesia hingga Juli 2025. Hubungan antarmasyarakat juga terus berkembang dengan kunjungan sekitar 418.000 wisatawan Amerika Serikat ke Indonesia pada 2023 serta 8.348 mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat pada 2024.

Kolaborasi East-West Center dengan Indonesia juga diwujudkan melalui berbagai riset lapangan, termasuk penelitian sosial dan lingkungan di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, bersama Universitas Gadjah Mada. Hal tersebut mencerminkan bahwa hubungan kedua pihak tidak hanya dibangun melalui pertukaran gagasan, tetapi juga implementasi riset yang memberikan manfaat nyata.

Dalam pertemuan di Honolulu, kedua pihak turut menjajaki peluang kerja sama berupa forum kebijakan, seminar strategis, riset bersama, serta program peningkatan kapasitas yang berfokus pada penguatan ekosistem industri berbasis teknologi tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung agenda hilirisasi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi berbasis teknologi melalui pengembangan mineral kritis, logam tanah jarang, dan semikonduktor. Kemitraan dengan East-West Center diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha sehingga kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara serta berkontribusi terhadap stabilitas dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik,” ujar Indroyono Soesilo.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam memperkuat kerja sama Indonesia–Amerika Serikat di bidang ekonomi berbasis inovasi. Dari Hawaii, kedua negara membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk membangun industri masa depan yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global melalui penguatan riset, pengembangan sumber daya manusia, serta kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.