Kapasitas SDM Pertanian di Lombok Tengah Ditingkatkan Lewat SL IPDMIP

oleh -54 views

LOMBOK TENGAH – Kementerian Pertanian memanfaatkan Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) untuk meningkatkan kapasitas SDM pertanian di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tidak itu saja, melalui kegiatan Sekolah Lapang IPDMIP, produksi padi Kelompok Tani Penjon Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, meningkatkan 11.7%.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi hal tersebut.

“IPDMIP merupakan program pemerintah di bidang irigasi yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Khususnya, di daerah irigasi,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

“IPDMIP adalah proyek pemerintah yang dilaksanakan di daerah irigasi. Salah satu tujuannya adalah untuk mendukung terwujudnya ketahanan pangan dengan mengedepankan pertanian berkelanjutan,” katanya.

Ditambahkan Dedi Nursyamsi, peningkatan produktivitas yang dilakukan IPDMIP, diantaranya melalui peningkatan kualitas dan kapasitas SDM pertanian, baik petani, penyuluh, petani milenial, poktan, maupun gapoktan.

Menurut Dedi, IPDMIP memberikan sejumlah pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM.

“Cara IPDMIP untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui pelatihan, bimtek, penyuluhan, termasuk juga sekolah lapang,” jelasnya.

Sejumlah paket teknologi yang diterapkan dalam SL tersebut antara lain: penanaman jajar legowo, pemupukan berimbang, penggunaan pupuk organik, pengamatan rutin hama penyakit tanaman, pengatra air irigasi hingga pemurnian rouging, yaitu tindakan permurnian dari biji gulma, varietas lain dan pertumbuhan tidak seragam.

Mardin SP. Sampaikan, Ketua Kelompok Tani Penjon, mengaku sangat bersyukur produksinya meningkat. Menurutnya kunci utama peningkatan produksi dilahannya adalah penerapan jajar legowo (jarwo).

Menurutnya, dengan teknik tanam jajar legowo pemeliharaan mudah seperti penyiangan, penyemprotan dan pemupukan. Selain itu  anakan jauh lebih banyak, antar 40-60 anakan.

“Rempung (rumpun) padi saya jauh lebih banyak dari biasanya sampai ndak cukup sekali genggam,” jelas Mardin yang juga Kepala dusun ini sumringah.

Mardin berencana tahun depan lebih intensif lagi menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama mengikuti Sekolah lapang, termasuk melakukan pergiliran varietas.

Penyuluh Lapangan Desa Durian, Junaidi SP menambahkan teknik pengubinan yang dilakukan bersama peserta SL.

“Berat rata-rata hasil ubinan 4,9 kg, jika  dikonversi maka 4,9×10000/6,25 m² = 7.840 kg/Ha. Hasil panen mendekati 8 ton GKP per hektar ini termasuk luar biasa dilokasi ini, apalagi musim tanam kedua,” urainya.

Ditambahkannya, sebelumnya hasil panen ditempat tersebut berkisar 6,5-6,8 ton per hektar.

“Saya bangga jadi PPL dapat membantu meningkatkan hasil panen hampir 1 ton,” tutur Junaidi.

Lokasi SL dialiri oleh Daerah Irigasi (DI) Renggung yang termasuk DI kewenangan provinsi. Peserta SL sebanyak 25 orang dengan 9 orang diantaranya perempuan. Menurut pantauan pendamping lapangan IPDMIP, Lalu Masturiadi, sekitar  50% petani peserta SL sudah menerapkan jajar legowo, dan petani lain juga optimis hasilnya meningkat.

Sementara itu drh. Adjar Sapto  Utomo, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Lombok Tengah, yang juga penanggungjawab IPDMIP Lombok Tengah, memberikan komentar singkat.

“Hasil penen 7,8 ton di tempat tersebut tergolong tinggi,” katanya.(YTS/EZ)

No More Posts Available.

No more pages to load.