Manfaatkan Media Tanam Barang Bekas, Kementan Apresiasi Poktan KWT Melati

oleh -597 views

Bone Bolango – Pandemi Covid-19 membuat Kementerian Pertanian mendorong agar Kelompok Wanita Tani (KWT) dapat memaksimalkan lahan pekarangan.

KWT diajak memanfaatkan lahan sempit tapi produktif. Sehingga mampu mengasah kreativitas penanam untuk menciptakan media baru yang lebih sederhana dan dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi yang maksimal tapi dengan low budget.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dalam kondisi apa pun pertanian tidak boleh berhenti.

“Dalam suasana pandemi ini, bisa jadi krisis ekonomi berlangsung lama dan pertanian adalah tumpuan perekonomian kita, untuk itu harus selalu didorong jangan sampai berhenti,” jelas Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan pentingnya membangun SDM pertanian.

“KIta harus membangun SDM pertanian yang berkualitas, kreatif dan memiliki jiwa berdaya saing. Sehingga pembangunan pertanian bisa berjalan cepat,” kata Dedi.

Kreatifitas tanpa batas pantas disematkan kepada salah satu anggota kelompok tani KWT Melati, Sarlota Bijuni. Tidak perlu menggunakan peralatan canggih, dengan memanfaatkan barang bekas tetap bisa melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat dan memperindah lahan pekarangan.

Bahan yang digunakan seperti ban mobil/motor, kaleng susu, botol air mineral, bekas kemasan sabun detergen dapat dibuat sebagai pengganti polybag.

“Dengan luas lahan 10×15 m di samping rumahnya dimanfaatkan untuk kreatifitas dalam mengolah lahan pekarangan yang sempit,” ucap Fetra, Fasilitator Desa yang mendampingi Kelompok Melati  Desa ilohuuwa, Kecamatan Bone Kabupaten Bone Bolango.

Di usianya yang menginjak 41 tahun dan memiliki 3 orang anak namun tidak mengurangi semangatnya.

KWT  Melati termasuk dalam Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI) merupakan inisiasi perluasan Proyek Rural Empowerment and Agricultural Development (READ) yang dilaksanakan pada tahun 2008 sampai dengan 2014 di 5 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah dengan pendanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) dari International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Disamping  itu, beliau juga tidak ketinggalan informasi terutama tentang perkembangan teknologi pertanian. Hal ini terlihat dari pengaplikasian prinsip sistem vertikultur dan terasering pada  tanaman kangkung darat dan bawang batang.

Uniknya semua bahan dasar pembuatan sistem teknologi ini terbuat dari bahan bekas, seperti bambu, kayu, pipa bekas serta bekas botol air mineral.

Selain dapat dijadikan media tanam, pemanfaatan botol bekas juga dapat mengurangi sampah rumah tangga serta mampu menjadikan nilai ekonomis, sebab jika menggunakan barang bekas  tidak perlu membeli bahannya karena dapat diperoleh secara gratis.

“saya bersyukur ada Program READSI seperti ini di Desa Ilohuuwa, sebab ini sangat membantu kami para ibu rumah tangga dalam mengakses berbagai informasi tentang pertanian serta cara memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan,” ujar Sarlota Bijuni.

Ditambahkannya, Fasilitator Desa dan Penyuluh juga sangat maksimal dalam mendampingi, terutama untuk memberi berbagai informasi tersebut.

Ia menjelaskan, pemanfaatan botol bekas untuk media tanam juga berguna untuk mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan yang mengurangi keindahan lingkungan itu sendiri.

“Apalagi sampah plastik ini tidak dapat diurai oleh mikroba pengurai sehingga sangatlah sulit untuk membusuk, jika memilih untuk membakarnya justru akan mencemari udara dan apabila terhirup dapat membahayakan kesehatan tubuh penghirup termasuk manusia,” jelasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.