Refleksi 2020

oleh -20 views

Oleh S.Habib Democracy Watch

JAKARTA – Dipenghujung tahun 2020 ini tentunya banyak harapan dan keinginan yang membuncah di situasi dan kondisi seperti yang ada saat ini, begitu banyak berbagai isu yang berseliweran baik di kanal media mainstream dan di social media, dunia ini seperti sedang mengalami sebuah kondisi yang sangat kacau (chaotic) tak terkecuali Indonesia. Namun pada tulisan kali ini marilah kita mencoba merefleksikan dan melihat hal-hal yang positif yang ada pada bangsa Indonesia khusunya dan dunia pada umumnya.

Penemuan Vaksin.

Kita ketahui bersama bahwa untuk keluar dari krisis kesehatan ini harus adanya sebuah kekebalan pada diri manusia (Imunitas), setelah menyebarnya virus covid -19 ke hampir seluruh dunia, semua Negara berlomba-lomba untuk menemukan vaksin dari virus covid-19 tersebut tak terkecuali Indonesia yang sedang mengembangkan vaksin MeraPutih.

Dalam hal pengadaan vaksin pemerintah Indonesia telah memesan dari beberapa produsen pengembang vaksin seperti Sinovac, Novavax, AstraZaneca dan Pfizer, dan tentunya vaksin MerahPutih yang dikembangkan oleh Eijkman. langkah gerak cepat pemerintah dibawah komando Airlangga Hartarto sebagai ketua KPCPEN ini tentu memberikan sentiment positif, karena vaksin adalah metode yang sangat tepat dalam mengendalikan penyebaran virus covid-19.

Dengan adanya ketersediaan vaksin ini di sambut oleh berbagai kalangan, tentunya sektor kesehatan dan ekonomi yang selama ini paling merasakan dampak dari penyebaran wabah ini menyambut gembira, lembaga ekonomi dunia seperti Jp morgan memprediksikan Indonesia merupakan Negara yang tumbuh positif di tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh di angka 4 %, sedangkan lembaga International Monetary Fund (IMF) pada bulan oktober mengeluarkan rilis nya dimana angka pertumbuhan Indonesia tidak tanggung-tanggung di angka 6, 1 %. Tentunya angka-angka tersebut bukan karena sebab melainkan karena kerja-kerja pemerintah, seperti ketersediaan vaksin dan yang terakhir Undang-undang Omnibus Law tentunya memberikan efek positif, terhadap kondisi kedepannya.

Terjaganya Momentum Demokrasi

Pada bulan dipenghujung tahun ini juga kita menyelenggarakan sebuah pesta demokrasi, yang pada awalnya mendapat tuaian kritik keras dari berbagai kalangan seperti tokoh Masyarakat, tokoh Agama, Budayawan dan kelompok civil society yang mempertanyakan kebijakan pemerintah yang tetap ngotot untuk menggelar pesta demokrasi di tingkat daerah.

Namun pemerintah akhirnya dapat membuktikannya bahwa pesta demokrasi tetap berjalan lancar dan tetap mematuhi protokol kesehatan, meskipun ada beberapa catatan di beberapa titik yang melanggar protokol kesehatan, namun secara keseluruhan pemerintah mampu membuktikan kepada pengkritiknya bawa demokrasi di tingkat daerah dapat berjalan dengan baik.

Hal ini dapat dapat dibuktikan dengan tingginya partisipasi masyarakat dalam pilkada tahun 2020 ini, menurut rilis yang dikeluarkan oleh lembaga SMRC bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada pilkada tahun 2020 di angka 76 meskipun di bayangi oleh wabah covid-19 dan hal ini merupakan prestasi tersendiri yang di raih oleh pemerintah.

Penegakan Hukum

Di penghujung tahun ini kita dikejutkan oleh penangkapan 2 pembantu Presiden Jokowi yakni penangkapan Mentri Kelautan dan Perikanan (KKP) yakni Edhy Prabowo terkait ekspor benur lobster dan yang kedua adalah penangkapan Mentri Sosial yakni Juliari Batubara terkait korupsi paket Bantuan Sosial untuk masyarakat, ditengah menurunnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga anti rasua (KPK), penangkapan dua mentri kabinet kerja ini adalah prestasi tersendiri tentunya untuk KPK.

Kasus korupsi yang menjerat dua orang pembantu presiden ini harus dibuka seterang-terangnya kepada publik, adalah sebuah kejahatan yang sangat luar biasa (extra ordinary crime) dimana bangsa kita sedang mengalami sebuah krisi yang sangat besar, ada sekelompok elit yang menikmati penderitaan yang sedang dihadapi oleh masyarakat, hal ini merupakan perkara yang sangat sulit di terima oleh nalar.

Di bidang hukum lainya adalah terkait berlarut-larutnya kasus Habib Rizieq Shihab di awal kepulangannya ke Indonesia, pemerintah terkesan takut dan ragu dalam menangani kasus yang menimpa Habib Rizieq Shihab, hal ini lah yang menyebabkan kasus ini menjadi sulit diurai dan pada akhirnya menjadi boomerang tersendiri tehadap aparat penegak hukum dan pemerintah.

Kasus meninggalnya beberapa pemuda Laskar FPI di Cikampek adalah buah lambatnya pemerintah dalam melokalisasi kasus hukum yang menimpa Habib Rizieq Shihab dan berakibat fatal, sebagai sebuah Negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, pemerintah harus membuka kasus meninggalnya pemuda yang tergabung dalam laskar FPI secara terang benderang, karena hal ini menjadi sorotan dunia.

Dilain sisi pembubaran atas organisasi yang digawangi oleh Habib Rizieq Shihab ini adalah sebuah langkah yang patut diapresiasi, kedatangan dan kepulangan Habib Rizieq Shihab dari Arab Saudi jika diibaratkan adalah sebuah kuda troja yang membuat ramai dan menjadi perhatian semua sendi masyarakat, ketegasan pemerintah dalam pembubaran FPI ini pasti melahirkan pro dan kontra, namun kedepan kita akan lihat adanya sebuah ketenangan dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat kita.

Perang Dagang dan Covid – 19

Kita ketahui bersama bahwa tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan bagi Indonesia dan Dunia, Dunia global sudah mengalami krisi sebelum adanya wabah Covid – 19 yakni terjadinya sebuah polarisasi yang diakibatkan perang dagang antara dua raksasa besar kekuatan global Amerika vs Cina, perang dagang antara Amerika dengan Cina ini mengingatkan kita kembali perang dingin antar Amerika dengan Uni Soviet ketika itu berdampak pada polarisasi dunia yang menimbulkan ketegangan di beberapa titik seperti seperti korea yang terbelah menjadi dua Negara hingga detik ini, Perang Vietnam dan invasi yang terjadi di Teluk Babi Kuba.

Perang dagang antar Amerika dan Cina memang tidak menimbulkan perang secara pisik namun dampak yang ditimbulkan oleh perang dagan antara kedua negara tersebut menimbulkan krisis ekonomi yang berdampak pada pelambatan ekonomi dunia. Kita liat saja pertumbuhan ekonomi dunia pada akhir tahun 2019 berada pada angka 2,36 % (YoY).

Tak terkecuali Indonesia terdampak dan mengalami pelambatan pertumbuhan diangka 5,025 % (YoY) akibat perang dagang antara Amerika dengan Cina, meskipun penurunannya tidak signifikan namun secara tidak langsung berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

Momentum covid – 19 ini hendaknya menjadi momentum dunia untuk saling menurunkan tensi egositas antara kelompok dan bangsa, masyarakat global harus bahu membahu dalam menangani penyebaran covid -19 ini, dengan harapan bahwa di tahun 2021 dunia dan khusunya Indonesia menjadi lebih baik kembali. Dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat harapannya ketegangan Antara China Dan Amerika bisa mereda dan masyarakat Internasional fokus terhadap penangan Covid – 19.

Selamat Tahun Baru 2021 !