BANDUNG, 1 September 2026 — Sejarah modernisasi Kavaleri TNI Angkatan Darat memiliki satu tonggak penting yang lahir dari kebutuhan Indonesia membangun kekuatan pertahanan yang sesuai dengan karakter medan dan pengalaman tempur nasional. Tonggak tersebut adalah Rangka Organisasi Kavaleri 1960 (ROK’60), yang menjadi bagian penting dalam pembentukan doktrin dan pengembangan kemampuan kavaleri modern Indonesia.
Jejak sejarah tersebut kembali diabadikan melalui penyerahan miniatur sejumlah kendaraan tempur bersejarah kepada Museum Kavaleri TNI-AD di Bandung, Selasa (1/9/2026). Miniatur yang diserahkan terdiri atas tank ringan AMX-13 serta panser Ferret, Saracen, dan Saladin, yang merepresentasikan fase penting modernisasi persenjataan Kavaleri TNI-AD pada periode setelah kemerdekaan.
Penyerahan dilakukan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, kepada Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI-AD yang diwakili Wakil Komandan Pussenkav, Brigjen Rayen Obersyl. Hadir pula Direktur Pembinaan Kesenjataan Pussenkav Brigjen Dani Wardhana dan Inspektur Pussenkav Brigjen Asep Ridwan.
Keberadaan koleksi tersebut tidak sekadar memperkaya museum, tetapi juga menjadi pengingat mengenai perjalanan panjang Kavaleri TNI-AD dalam membangun kemampuan yang menggabungkan daya gerak, daya tembak dan daya kejut.
Sejarah itu bermula sejak masa perjuangan kemerdekaan. Dalam berbagai pertempuran pada 1945, termasuk Pertempuran Surabaya, para pejuang Indonesia telah memanfaatkan kendaraan tempur hasil rampasan, antara lain panser Marmon-Herrington dan tank ringan CTLS yang sebelumnya menjadi aset tentara Jepang dan Belanda.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada November 1949, sekitar 100-an tank dan panser peninggalan Belanda menjadi bagian dari fondasi awal kemampuan Korps Kavaleri TNI Angkatan Darat. Kendaraan-kendaraan tersebut kemudian digunakan dalam berbagai operasi pada awal 1950-an, termasuk menghadapi pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan, PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi, Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku, serta DI/TII di Jawa Barat.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kavaleri tidak semata-mata bertumpu pada kepemilikan kendaraan tempur, tetapi membutuhkan doktrin, organisasi, taktik dan sistem persenjataan yang terintegrasi.
Kesadaran tersebut mendorong pimpinan TNI-AD pada akhir 1950-an mengambil langkah strategis. Pada 7 Februari 1959, Kepala Staf Angkatan Darat Brigjen Abdul Haris Nasution menugasi Inspektorat Kavaleri TNI-AD untuk menyusun doktrin kavaleri sendiri sebagai bagian dari program modernisasi.
Melalui Keputusan Inspektorat Kavaleri No. 3/2/Th.1959, Komandan Inspektorat Kavaleri Mayor Soebagjo Sajid membentuk Panitia Doktrin Kavaleri Sendiri. Panitia tersebut dipimpin Kapten Soesilo Soedarman dengan anggota Kapten Basuki, Kapten Manopo, Kapten Darmodjo, Kapten Hamidi, Kapten Karpoean, Letnan Satu Sahoentoeng, Letnan Satu Rinto Salikan, dan Letnan Dua Harjono P.
Para perwira tersebut memiliki pengalaman pendidikan kavaleri modern di luar negeri. Pengetahuan yang mereka peroleh kemudian dipadukan dengan pengalaman dan kebutuhan pertahanan Indonesia. Dari proses itulah lahir ROK’60, yang tidak hanya memuat struktur organisasi, tetapi juga menjadi cetak biru kebutuhan sistem persenjataan, taktik dan pengembangan satuan kavaleri.
ROK’60 kemudian membuka jalan bagi pengadaan persenjataan kavaleri modern, antara lain panser Ferret, Saladin dan Saracen dari Inggris serta tank ringan AMX-13 dari Prancis. Armada tersebut hadir menjelang Operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat pada 1961–1962 dan selanjutnya digunakan dalam berbagai operasi lainnya, termasuk pada 1965.
Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana Kavaleri TNI-AD berusaha mengintegrasikan teknologi dan pengalaman militer modern dengan doktrin serta kondisi geografis Indonesia. Pengalaman para perwira yang memperoleh pendidikan di Amersfoort, Belanda, dan Fort Knox, Kentucky, Amerika Serikat, menjadi salah satu bagian dari proses pembentukan kemampuan tersebut.
Wakil Komandan Pussenkav Brigjen Rayen Obersyl menyampaikan apresiasi atas upaya keluarga besar senior Korps Kavaleri dalam mendokumentasikan dan mengabadikan peninggalan sejarah modernisasi tersebut.
“Ini merupakan bagian penting dari sejarah Kavaleri TNI-AD yang harus terus dirawat dan diwariskan, sehingga generasi prajurit berikutnya maupun masyarakat dapat memahami perjalanan dan perkembangan korps kavaleri,” ujar Rayen.
Dengan ditempatkannya miniatur AMX-13, Ferret, Saracen dan Saladin di Museum Kavaleri TNI-AD Bandung, memori mengenai ROK’60 dan fase awal modernisasi kavaleri Indonesia kini memiliki ruang dokumentasi yang lebih permanen.
Museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai perjalanan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia—dari pemanfaatan kendaraan tempur hasil rampasan pada masa perjuangan, hingga lahirnya doktrin dan organisasi kavaleri yang lebih modern.
Pengabadian sejarah ROK’60 sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan pertahanan Indonesia merupakan proses panjang yang dibentuk oleh pengalaman, pendidikan, adaptasi teknologi dan kebutuhan nasional. Nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai bagian dari pembelajaran bagi generasi prajurit dan masyarakat Indonesia dalam memahami sejarah pertahanan negara.





