Gaya Komunikasi Ratu Tisha di PSSI Dikeluhkan

oleh -125 views

Jakarta – Salah satu legenda sepak bola Indonesia, Risdianto, punya kesan tersendiri terhadap mantan Sekjen PSSI Ratu Tisha.

Menurutnya Tisha kurang menghargai mantan pemain, khususnya para legenda.

Buktinya selama Tisha menjabat sebagai Sekjen PSSI 2017-2020, komunikasi antara dirinya dan banyak legenda sepak bola nasional tidak terjalin dengan baik.

”Kami ini punya organisasi (Indonesia Football Ambassador/ IFA) yang dipimpin David Sulaksmono. Seharusnya kami ini diajak diskusi, diajak ngobrol. Ingat lo kami ini mantan pemain nasional yang punya banyak pengalaman. Pengalaman ini yang sebetulnya ingin kami bagikan. Tetapi, sekjen (Ratu Tisha) seakan menutup pintu,” kata Risdianto.

Selain Risdianto, di IFA juga berkumpul banyak pemain hebat di masanya. Sebut saja Tan Liang Houw alias LH Tanoto, Ronny Paslah, Yudo Hadianto, Bob Hippy, Risdianto, Hadi Ismanto, Marsely Tambayong, Oyong Liza, Wahyu Hidayat, Tumsila, Dede Sulaiman, Berty Tutuarima, Hery Kiswanto, Rully Nere, Ricky Yakobi, Bambang Nurdiansyah, Mohamad Zein Alhadad, Patar Tambunan, Marzuki Nyak Mad, Tias Tano Taufik, Aun Harhara, Azhari Rangkuty, Aji Ridwan Mas, Nasir Salasa, Mundari Karya, Kamarudin Betay, dan Rocky Putiray.

Risdianto berharap, ke depan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan dapat menunjuk Sekjen PSSI yang mempuni dalam segala bidang. Selain cakap berorganisasi, juga harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan segala lapisan termasuk dengan mantan pemain.

”Kami ini tidak mengharap apa-apa. Yang kami butuhkan hanya perhatian dan kalau bisa sesekali juga bisa diajak berdiskusi soal sepak bola nasional,” imbuh Risdianto yang lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 3 Januari 1950 itu.

Risdianto adalah pemain Indonesia pertama yang dikontrak selama satu musim oleh Mackinnons FC, salah satu tim Divisi Utama Hong Kong (1974-1975). Ia pemain sepak bola Indonesia kedua yang dipinang klub luar negeri, setelah Iswadi Idris. Dia meninggalkan Hong Kong untuk bergabung dengan tim nasional Pra-Olimpiade 1976, yang saat itu langkah tim nasional dihentikan Korea Utara lewat drama adu penalti.

Mundurnya Ratu Tisha, selain Risdianto juga mendapat tanggapan dari Ketua Komite Sepak Bola Wanita Papat Yunisal. Baginya keputusan yang diambil Tisha sudah tepat.

“Menurut saya dia adalah wanita hebat, sebagai seorang wanita pertama yang menjadi sekjen di organisasi sebesar PSSI.

Tentunya keputusan yang diambil Tisha wajib kita hormati, karena memang tak gampang menjalankan organisasi” ungkap wanita yang saat ini menjadi dosen di sebuah universitas.

Menurut Papat Yunisal apa yang dilakukan Tisha sudah bagus. ”Cuma saya mengingatkan bahwa hasil yang dicapai adalah proses kerja bersama” ujarnya.

Senada dengan Papat Yunisal, salah satu penggiat sepak bola wanita Esti Puji Lestari mengungkapkan.

“Menurut saya pengunduran Tisha yang tentang hasil sepakbola wanita itu saya maklumi sebagai curhat saja, bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan” ungkapnya.

“Saya juga berharap ke depannya, Pak Iwan Bule (Ketum PSSI) untuk mempertimbangkan sekjen yang baru dari kaum wanita, karena saat ini wanita Indonesia juga sudah banyak berkiprah di sepak bola nasional,” ujarnya.