Terkait Video Viral di Jakarta Timur, Bang Azran: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Premanisme

oleh -9 views
oleh

JAKARTA — Anggota DPD RI/MPR RI, Achmad Azran, mengecam keras aksi premanisme yang viral di media sosial, di mana seorang pedagang kaki lima menjadi korban penganiayaan di kawasan Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur.

‎Pria yang biasa disapa Bang Azran ini menegaskan bahwa kekerasan terhadap pedagang kecil merupakan bentuk kejahatan serius yang mencederai rasa keadilan masyarakat.

‎“Negara tidak boleh kalah oleh premanisme. Kekerasan terhadap pedagang kecil adalah tindakan biadab dan melanggar hukum,” tegas Bang Azran dalam keterangannya kepada media.

‎Menurut pria asli Betawi yang mengemban amanah sebagai anggota DPD RI Komisi I, praktik pungutan liar yang disertai intimidasi menunjukkan masih lemahnya pengawasan di lapangan. Ia menilai aparat penegak hukum harus bertindak cepat dan tegas agar kejadian serupa tidak terus berulang.

‎“Aparat sudah sangat bagus hadir dan bertindak tegas. Jangan biarkan ruang publik dikuasai oleh preman yang meresahkan rakyat. Terima kasih kepolisian preman-preman itu sudah dipenjara,” ujar Achmad Azran.

‎Lebih lanjut, ayah dari empat anak ini menekankan bahwa pedagang kaki lima adalah tulang punggung ekonomi rakyat kecil. Melindungi mereka berarti menjaga keberlangsungan hidup banyak keluarga yang menggantungkan nafkah dari sektor informal.

‎“Pedagang kaki lima itu mencari nafkah secara halal. Mereka harus dilindungi, bukan diperas atau dianiaya,” kata ayah empat anak tersebut.

‎Sebagai pria yang dikenal dekat dengan ulama dan tokoh masyarakat, Bang Azran mengingatkan bahwa premanisme bertentangan dengan nilai agama, moral, dan budaya bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial.

‎“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan pemerasan dan kekerasan. Premanisme adalah penyakit sosial yang wajib kita lawan bersama,” tutur pria Betawi yang dekat dengan ulama ini.

‎Anggota DPD RI Komisi I tersebut juga mendorong pemerintah daerah serta aparat keamanan untuk mengevaluasi sistem pengamanan kawasan publik, khususnya di wilayah rawan pungutan liar, agar pedagang kecil dapat beraktivitas dengan aman.

‎“Penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu. Siapa pun yang melanggar hukum harus ditindak,” tegas Achmad Azran.

‎Sebagai latar belakang, pria yang akrab disapa Bang Azran ini menanggapi kasus yang bermula dari beredarnya video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang preman menganiaya pedagang kaki lima di kawasan Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur. Insiden tersebut terjadi setelah korban menolak memberikan uang pungutan yang diminta secara paksa.

‎Video itu memicu kecaman publik dan diskusi luas mengenai maraknya pungutan liar, keamanan pedagang kaki lima, serta efektivitas penegakan hukum di wilayah Jakarta Timur. Achmad Azran menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum bagi negara untuk hadir secara tegas melindungi rakyat kecil dari premanisme.

No More Posts Available.

No more pages to load.