BANGGAI – Optimalisasi nilai ekonomi pertanian diakselerasi program Rural Empowerment Agricultural and Development Scaling Up Initiative (READSI) Kementan. Medianya cukup lahan sempit pekarangan di sekitar rumah. Program ini diakselerasi di Banggai, Sulawesi Tengah. Selain teknis, READSI Kementan juga melakukan penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM).
“Pertanian tidak harus dilakukan pada lahan luas, tapi bisa di pekarangan rumah. Lahan pekarangan tetap menjadi sumber pangan keluarga yang sangat potensial. Bisa menjadi penopang ketahanan pangan, apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini,” ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL).
Optimalisasi pertanian lahan sempit ditegaskan melalui kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di wilayah Banggai. Obyeknya adalah Kelompok Tani Komoditi Horti dan Pemanfaatan Pekarangan. Kegiatan ini sudah dilaksanakan pada 20 Desa. Respon dari para petani juga luar biasa. Program tersebut jadi sinergi positif antara READSI Banggai, PPL, dan Fasilitator Desa.
“Kegiatan P2L harus dioptimalkan. Dalam kondisi krisis seperti Covid-19 ini, pertanian menjadi jawaban untuk bisa survive. Jadi di pekarangan ini semua orang bisa bertani,” ujar Mentan SYL.
Menguatkan kompetensi para petani, READSI pun menggulirkan Sekolah Lapang. Jumlah pertemuan yang sudah digelar sebanyak 6 kali. Komposisi pesertanya ada 18 Kelompok Tani Pekarangan. Bergabung juga sebanyak 19 Kelompok Tani Komoditi Horti. Setelah tatap muka, beragam bantuan pun diberikan.
Bagi kelompok tani yang sudah menjalani Sekolah Lapang diberikan bantuan sarana prosksi (saprodi) pertanian. Tujuannya untuk optimalisasi pengetahuan yang sudah didapat dari Sekolah Lapang. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menjelaskan, optimalisasi lahan pekarangan membuat petani makin sejahtera.
“Lahan pekarangan memberikan nilai tambah ekonomi yang bagus. Apalagi, kalau pemanfaatannya dilakukan secara maksimal. Melalui READSI, petani semakin diberdayakan dan lahan semakin optimal mendatangkan keuntungan finansial,” jelas Dedi.
Lebih lanjut, program READSI melalui P2L juga memanfaatkan limbah rumah tangga. Limbah tersebut lalu diolah menjadi pupuk organik dan diaplikasikan pada tanaman yang ada di pekarangan. Untuk menaikan nilai komoditas, petani di Banggai mengembangkan budidaya tanaman hortikultura. Dedi menambahkan, penggunaan pupuk organik memiliki banyak manfaat.
“Petani bisa mengembangkan komoditi sayuran, lalu pupuknya memakai organik. Limbah sisa rumah tangga harus dimanfaatkan. Kalau sampah berkurang lingkungan akan sehat dan nyaman, satu sisi ada nilai ekonomi yang tinggi. Pupuk organik juga bisa dijual. Terlepas dari itu, petani bisa memanfaatkan teknologi hidroponik,” lanjut Dedi.
Memaksimalkan serapan program READSI, pendampingan pun diberikan kepada petani. Treatmentnya melalui pemantauan dan pelatihan dengan mematuhi protokol kesehatan. “Pendampingan tetap dilakukan. Sebab, inovasi dan evaluasi harus diberikan agar hasilnya maksimal. Yang pasti, kami optimistis pertanian semakin berdaya guna melalui READSI,” lanjut Dedi.
READSI Kementan sejauh ini efektif sebagai pendorong produktivitas dan kesejahteraan petani. Menjadi pilar terciptanya ketahanan pangan, READSI digulirkan di 6 provinsi dan 18 kota/kabupaten, termasuk 342 desa. Selain Sulawesi Tengah, READSI hadir di Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur.(*)





