LUWU – Produktivitas pertanian dijamin tetap tinggi di musim kemarau. Sebab, infrastruktur pengairan dibangun program Rural Empowerment Agricultural and Development Scaling Up Initiative (READSI) Kementan. Sistem yang dikembangkan berupa sukur suntik. Lokasinya berada di Bosso Timur Walenrang Utara, Luwu, Sulawesi Selatan. READSI Kementan bahkan menyiapkan kelembagaannya.
“Kebutuhan pangan selama pandemi Covid-19 harus tercukupi semuanya. Untuk itu, produktivitas pertanian harus ditingkatkan. READSI siap memfasilitasinya, termasuk membangun infrastruktur pengairannya,” ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL).
READSI disiapkan Kementan untuk menjawab permasalahan pertanian di daerah. READSI digulirkan di 6 provinsi dan 18 kota/kabupaten, termasuk 342 desa. Selain Sulawesi Selatan, READSI hadir di Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur. Melalui programnya, READSI pun mampu menghadirkan padat karya yang optimal di daerah.
“Melalui READSI, berbagai potensi bisa dioptimalkan. Produksi pertanian tidak boleh turun agar petani sejahtera. Ketahanan pangan harus tercapai dan dipercepat. Lebih penting lagi, READSI membuka peluang besar padat karya. Dengan begitu, ada lapangan kerja dan serapan pengangguran di desa yang optimal,” terang SYL.
Produktivitas pertanian daerah menunjukan performa positif. Peningkatan produktivitas ditunjukan Luwu melalui komoditi padi. Luwu mampu memproduksi padi 405.055,58 Ton pada 2020. Naik 4,11% dari 2019 yang hanya menghasilkan produktivitas padi 389.056,32 Ton. Luwu juga sentra komoditi jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar.
“Pertanian tetap menjadi garda terdepan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat terutama di masa pandemi Covid-19. Apalagi, pangan menjadi agen efektif untuk melawan Covid-19. Dengan READSI, berbagai target dan sasaran pertanian secara menyeluruh akan tercapai,” jelas Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Dedi Nursyamsi.
Mendukung program utama pertanian dalam memenuhi kebutuhan pangan, READSI mendukung pembangunan infrastruktur kelompok tani sasaran di Luwu. Berfungsi juga sebagai fasilitator rapat musyawarah pembentukan Pokmas Bosso Timur. Tugasnya sebagai tim pelaksana kegiatan pembangunan infrastruktur desa yang dilaksanakan secara swakelola.
Pokmas yang sudah dibentuk tersebut akan melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur desa berupa sumur suntik. Pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat mengairi sawah petani yang rawan kekeringan dimusim kemarau. Kegiatan ini tentu membutuhka tenaga kerja yang tidak sedikit sehingga optimal sebagai pemberdayaan padat karya.
Menjadi media padat karya, pertemuan pembentukan Pokmas dihadiri oleh perwakilan kelompok READSI, kelompok masyarakat, dan aparat desa. Sinergi semakin lengkap dengan kehadiran Kepala Desa Bosso Timur, Pimpinan BPP, Penyuluh, dan Fasilitator Desa. Selain pembentukan Pokmas, pertemuan ini menghasilkan penandatanganan berita acara oleh pengurus dan anggota.
“Kolaborasi harus dilakukan untuk mendukung program READSI. Dengan sinergi kuat, pertanian semakin optimal memberi kesejahteraan. READSI juga membangun infrastruktur pertanian, termasuk irigasinya. Program lainnya adalah fasilitas pembiayaan, infrastruktur, alat dan mesin pertanian (alsintan), kredit usaha rakyat (KUR ) dan lainnya,” tutup Dedi.(*)





