JAKARTA – Buruknya kualitas udara Jakarta mendapatkan perhatian serius dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jakarta, Achmad Azran. Menurutnya, Jakarta harus memiliki solusi tegas untuk menyelesaikan masalah ini.
Data buruknya kualitas udara Jakarta dikeluarkan situs pemantau udara, iqair.com, yang menyebut Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta, Senin (30/6/2025), pukul 06.00 WIB, berada di angka 158 dengan kategori tidak sehat.
Jakarta berada pada peringkat 2 kota dengan kualitas udara terburuk dunia. Sedangkan kota dengan kualitas udara terburuk dunia menurut IQAir adalah Kampala, Uganda dengan AQI 173.
Pada rutan ke-3 Kinshasa, Kongo di angka 153, urutan ke-4 Medan, Indonesia dengan angka 139, dan urutan ke-5 adalah Dubai, UEA dengan angka 139.
Achmad Azran yang biasa disapa Bang Azran, berharap hal ini tidak diabaikan begitu saja.
“Jangan abaikan masalah kesehatan. Ini dampaknya tentu ke masyarakat terutama mereka yang termasuk dalam kelompok yang sensitif atau rentan akan penyakit,” katanya, usai bertemu Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balaikota, Rabu (2/7/2025).
Ditambahkannya, fakta ini bisa menimbulkan kekhawatiran warga untuk beraktivitas di luar ruangan.
“Karena warga tentu tidak mau terdampak akibat hal ini. Makanya kita berharap ada solusi tegas untuk bisa mengurangi masalah udara yang tidak sehat ini,” katanya.
Putra asli Betawi ini menilai kendaraan bermotor menjadi penyumbang utama dalam polusi di Jakarta.
“Emisi kendaraan bermotor adalah kontributor utama polusi udara di Jakarta. Jumlah kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya memperburuk kondisi ini, terutama pada jam-jam sibuk,” katanya.
Namun, sambungnya, kendaraan bukan satu-satunya masalah yang dihadapi.
“Emisi kendaraan bermotor bukan satu-satunya penyumbang polutan pm 2,5, karena di saat libur pun angka polusi udara masih tinggi. Faktor lain juga mesti dicermati, termasuk perubahan iklim yang RUU-nya masuk prolegnas prioritas di DPR, sehingga solusi dan kebijakan yang diambil dapat tepat sasaran,” tukasnya.
Bang Azran menambahkan, faktor lain yang bisa membuat udara Jakarta semakin buruk aktivitas industri berupa asap dan limbah industri yang tidak terkontrol, serta faktor cuaca yang kering dan kurangnya curah hujan.
Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan yang bisa mengembalikan kualitas udara Jakarta.
“Kebijakan yang diambil bisa berupa memaksimalkan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Atau memberikan insentif bagi pengguna kendaraan listrik yang ramah lingkungan,” katanya.
Bang Azran menambahkan, pemerintah juga melakukan penghijauan kota dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam program penanaman pohon.






