PHOENIX, ARIZONA— Masa depan industri tambang Indonesia di Papua tidak lagi hanya berbicara soal cadangan tembaga dan emas terbesar dunia. Di balik peningkatan kepemilikan saham Indonesia di PT Freeport Indonesia, tersimpan agenda yang jauh lebih strategis: alih teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan lahirnya talenta unggul Papua di sektor pertambangan modern.
Mulai 2041, porsi kepemilikan Indonesia di PT Freeport Indonesia akan meningkat dari 51,23 persen menjadi 63 persen. Kenaikan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan perpanjangan izin operasi hingga 2061 yang dicapai pada Februari 2026 antara pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan.
Langkah itu mempertegas perubahan besar yang telah berlangsung sejak divestasi bersejarah tahun 2018, ketika kepemilikan Indonesia melalui MIND ID melonjak dari 9,36 persen menjadi mayoritas. Kini, transformasi itu tidak hanya menyangkut kepemilikan aset, tetapi juga penguasaan teknologi dan pembangunan kapasitas manusia Indonesia.
Dari sekitar 27 ribu pekerja di PT Freeport Indonesia, lebih dari 40 persen merupakan Orang Asli Papua dan 97 persen karyawan berstatus Warga Negara Indonesia. Profesional Indonesia kini juga mendominasi posisi strategis perusahaan, termasuk sembilan kursi direksi dan lebih dari 100 posisi manajerial. PT Freeport Indonesia saat ini dipimpin Presiden Direktur Tony Wenas.
Dalam pertemuan antara Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, dengan CEO Freeport-McMoRan, Kathleen Quirk, di kantor pusat Freeport di Phoenix, Arizona, kemitraan jangka panjang Indonesia dan perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu ditegaskan semakin setara.
“Yang terpenting bukan hanya peningkatan kepemilikan saham Indonesia, tetapi bagaimana Papua dan Indonesia memperoleh kemampuan teknologi, sumber daya manusia unggul, serta kesempatan mengelola tambang modern secara mandiri di masa depan,” ujar Indroyono Soesilo.
Salah satu fokus utama yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah penguatan alih teknologi pertambangan berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Freeport saat ini tengah mengembangkan sistem AI bernama TROI (Throughput, Recovery, Optimization, Intelligence), teknologi yang mampu membaca data dari ribuan sensor operasional tambang dan pabrik pengolahan secara real time.
Sistem tersebut menganalisis hubungan antara karakteristik bijih, pembacaan sensor pabrik, laju penggilingan, hingga tingkat pemulihan tembaga. Dalam hitungan detik, data dikirim ke pusat pemrosesan dan menghasilkan rekomendasi pengaturan operasi untuk memaksimalkan produksi.
TROI mampu mengidentifikasi jenis bijih yang sedang diproses saat itu juga, lalu memberikan rekomendasi pengaturan kontrol pabrik setiap satu hingga tiga jam.
Algoritma sistem terus disempurnakan melalui pembelajaran berbasis AI.
Teknologi ini telah diterapkan di tambang tembaga Freeport di Amerika Serikat dan terbukti meningkatkan produksi tembaga hingga 5 persen tanpa investasi modal besar. Uji coba juga telah dilakukan di tambang Freeport di Peru, Amerika Latin.
Ke depan, teknologi serupa direncanakan diterapkan di Papua. Kehadiran sistem berbasis AI itu dinilai dapat menjadi pintu masuk alih teknologi yang lebih substantif bagi Indonesia, sekaligus mendorong lahirnya ilmuwan data, metalurgis, dan insinyur pertambangan asal Papua yang mampu mengelola industri tambang modern secara mandiri.
Selain itu, Freeport juga membuka peluang bagi lulusan universitas di Amerika Serikat asal Indonesia untuk mengikuti program magang di industri pertambangan global tersebut. Program ini diharapkan memperkuat transfer pengetahuan dan memperluas akses talenta muda Indonesia terhadap teknologi pertambangan mutakhir.
Hampir sembilan dekade sejak geolog Belanda Jean Jacques Dozy menemukan “gunung bijih” Ertsberg pada 1936, Papua kini memasuki fase baru: bukan lagi sekadar wilayah penghasil tembaga dan emas, melainkan pusat pertumbuhan kapasitas teknologi dan sumber daya manusia Indonesia di sektor pertambangan global.(*)







