Diplomasi Sains dan Teknologi Indonesia–AS, ITB Jadi Simpul Kerja Sama Riset

oleh -3 views
oleh

BANDUNG (HALUANPOS.COM)—Diplomasi Indonesia dan Amerika Serikat tidak hanya dibangun melalui hubungan politik dan ekonomi, tetapi juga semakin penting diperkuat lewat kerja sama sains dan teknologi. Hal tersebut mengemuka dalam Studium Generale Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menghadirkan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, pada 2 September 2026.

Mengangkat tema “Diplomasi Sains & Teknologi Indonesia–Amerika Serikat”, kuliah umum tersebut diikuti lebih dari 1.100 mahasiswa dan dihadiri Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, para wakil rektor, guru besar serta staf pengajar.

Indroyono, yang juga merupakan alumnus ITB, mengajak mahasiswa melihat hubungan Indonesia–Amerika Serikat dalam perspektif yang lebih panjang. Amerika Serikat memiliki peran dalam sejumlah momentum penting perjalanan diplomasi Indonesia, mulai dari Perundingan Linggarjati pada 1946, Perjanjian Renville pada 1948, hingga Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Amerika Serikat kemudian secara resmi mengakui Indonesia pada 28 Desember 1949.

Di hadapan sivitas akademika ITB, ia juga menjelaskan bahwa politik luar negeri Indonesia berlandaskan prinsip bebas dan aktif. Prinsip tersebut menempatkan Indonesia untuk tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu sekaligus tetap aktif berkontribusi dalam penyelesaian persoalan internasional dan menjaga perdamaian dunia.

Sebagai representasi Presiden RI di Amerika Serikat, diplomasi yang dijalankan juga mencakup penguatan kerja sama politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, hingga hubungan antarmasyarakat serta perlindungan warga negara Indonesia di Amerika Serikat.

Hubungan kedua negara kini diperkuat melalui Indonesia–US Comprehensive Strategic Partnership dengan Plan of Action 2024–2028. Kerangka tersebut mencakup perdagangan yang adil dan berimbang, energi, teknologi, pertahanan, keamanan regional, mineral kritis, keamanan maritim dan ekonomi digital.

Dalam konteks sains dan teknologi, peluang kerja sama semakin terbuka. Amerika Serikat memiliki ekosistem riset yang kuat dengan anggaran penelitian dan pengembangan mencapai USD 940 miliar pada 2023, ditopang universitas riset, laboratorium nasional dan sektor swasta yang aktif mengubah hasil penelitian menjadi produk.

Sementara bagi Indonesia, ruang kolaborasi terbuka pada pengembangan talenta STEM dan riset bersama, kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), data center dan komputasi canggih, semikonduktor serta manufaktur elektronik, kesehatan, iklim, energi dan kelautan.

“Kerja sama terbaik seperti ini akan membuat Indonesia lebih kuat secara kapasitas, sekaligus memberi AS mitra inovasi yang stabil di kawasan Indo-Pasifik,” ujar Indroyono dalam kuliah umum tersebut.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui sejumlah langkah konkret, mulai dari pembentukan komite bersama RI–AS untuk diplomasi sains dan teknologi, penentuan sektor prioritas seperti semikonduktor, energi, kesehatan, pertanian, maritim, AI dan manufaktur maju, hingga identifikasi kementerian, lembaga riset, universitas, kawasan industri dan perusahaan yang dapat terlibat.

Kerja sama juga diarahkan pada proyek percontohan yang cepat menghasilkan manfaat, disertai mekanisme pembiayaan, jalur pengembangan dan mobilitas talenta, serta aturan mengenai Intellectual Property (IP), data dan keamanan. Orientasinya adalah memastikan riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi terhubung dengan kebutuhan industri.

Antusiasme lebih dari 1.100 mahasiswa yang hadir menjadi gambaran kuat bahwa diplomasi sains dan teknologi memiliki ruang besar untuk melibatkan generasi muda. ITB, sebagai salah satu pusat pengembangan sains dan teknologi di Indonesia, dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi simpul penguatan jejaring riset dengan Amerika Serikat.

Pada kesempatan tersebut, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara juga menyerahkan Sertifikat Apresiasi Studium Generale ITB kepada Indroyono Soesilo di Aula Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.