Dorong Industrialisasi, Kementan Sosialisasi KUR Pertanian di Batang

oleh -66 views

BATANG – Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Sektor Pertanian di Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng). Penyaluran KUR di Batang ini guna mendorong pertanian menuju Industrialisasi dengan sasaran pasar ekspor.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong para pengusaha khususnya di lini bisnis pertanian dapat mengembangkan produknya agar berorientasi ekspor sehingga bisa bersaing dengan negara lain di pasar dunia.

“Saat ini Kementan terus berinovasi untuk menghasilkan produk yang sesuai standar negara tujuan ekspor sehingga target gerakan tiga kali ekspor (gratieks) bisa terealisasi dengan segera,” kata Mentan SYL, Sabtu (13/2).

Kementan, lanjut Mentan SYL, mendorong agar perusahaan yang menggarap pertanian, tidak hanya berpikir bagaimana ketahanan nasional, tetapi bahkan produk-produk ekspor harus mampu berkompetisi dan bersaing dengan negara-negara lain.

“Para pengusaha khususnya yang berada di Jawa Tengah harus mencari dan mau mengembangkan produk turunan dari satu komoditi pertanian yang bisa diekspor lebih bervariasi, sehingga turut menambah daya tarik konsumen mancanegara,” tuturnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menyebutkan, dana KUR bisa digunakan petani untuk mengembangkan budidaya ataupun mengerjakan bisnis lainnya yang berkaitan di bidang pertanian.

“Penyaluran KUR telah dinikmati petani di berbagai sektor yakni tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kombinasi pertanian/perkebunan dengan peternakan, serta jasa pertanian, perkebunan, dan peternakan,” sebut Sarwo Edhy.

Adapun, latar belakang perumusan KUR Pertanian ini dilandasi kebutuhan petani pada KUR untuk melanjutkan usaha taninya. Dirinya mengakui masalah pembiayaan masih menjadi kendala karena petani sedikit mengalami kesulitan ketika akan meminjam ke bank.

“Biasanya yang menjadi kendala dalam pembiayaan tersebut keharusan adanya agunan atau jaminan dan angsurannya yang cukup besar. Karena usaha tani ini berbeda dengan usaha-usaha lainnya, pastinya petani akan kesulitan mendapatkan permodalan,” jelas Sarwo Edhy.

Untuk informasi, saat ini penyaluran KUR per 12 Februari 2021 sudah mencapai Rp 5,4 triliun. Serapan KUR tertinggi terjadi untuk sektor perkebunan yang mencapai Rp 1,9 triliun atau 35,53% dengan 38.762 debitur.

Selain perkebunan, serapan KUR tersalurkan untuk tanaman pangan Rp 1,3 triliun, hortikultura Rp 739 miliar, peternakan Rp 1 triliun, jasa pertanian Rp 68 miliar, dan kombinasi pertanian Rp 325 miliar.

Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan Indah Megahwati menyampaikan, alokasi KUR di tahun 2021 ini naik dari tahun sebelumnya, dimana pada 2020 alokasi KUR untuk sektor pertanian sebesar 50 triliun, sekarang menjadi 70 triliun. Sehingga lebih banyak sektor petani yang akan dibiayai. Indah juga menyarankan agar mengambil KUR Super Mikro.

“Kalau bisa ambil KUR yang super mikro, selain tanpa agunan produk ini juga bunga nya nol persen. Jadi pinjam 10 juta, ya kembalikannya juga 10 juta,” ucap Indah.

Indah berharap Kabupaten Batang dapat menjadi role model dan percontohan untuk daerah-daerah lain, dengan pola koperasi tersebut.

“Harapannya, koperasi tani yang ada di Kabupaten Batang ini, mendapatkan permodalan. Kemudian karena konsep koperasi ini adalah gotong royong, fasilitas permodalan yang nanti didapat dapat di kelola bersama untuk industrialisasi di sektor pertanian.” pungkas Indah.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh beberapa kelompok tani yang berbentuk koperasi, perwakilan Bank BRI, serta para offtaker. Pada kegiatan tersebut dilaksanakan penandatanganan MoU antara koperasi dan offtaker tentang pemasaran komoditas hasil panen yang dibudidaya petani-petani yang tergabung dalam koperasi tersebut. Ada 9 komoditas yang nantinya akan dipasarkan oleh offtaker.

Ke-9 komoditas tersebut antara lain Nilam, Sereh wanig, Kakao, Ubi jalar, Jagung, Jahe, Bawang merah, Bawang putih dan Edamame.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Susilo Heru W menyatakan, beberapa komoditas tersebut bahkan sudah ada yang memenuhi standar pasar internasional, sehingga harapannya dengan adanya MoU ini, produk pertanian dari Batang dapat menembus pasar luar negeri.

Dia menyampaikan, 60% penduduk Kabupaten Batang bergerak di sektor pertanian. Selama ini petani tidak pernah mendapatkan jaminan pasca panen. Maka offtaker tidak hanya membeli secara lepas hasil produksi petani, tetapi harus melakukan pendampingan dan mengajarkan petani-petani Batang agar dapat melek pasar.

“Pola yang akan kami bangun adalah dengan mendorong koperasi untuk diberikan permodalan melalui KUR, selanjutnya permodalan tersebut akan dikelola bersama melalui koperasi. Pengelolaan dana tersebut diperuntukkan untuk pembangunan sektor pertanian dari hulu sampai ke hilir. Seperti penyediaan sarana produksi pertanian, sampai dengan pembangunan rice mill, gudang, pabrik dan sebagainya. Sehingga kemudian kedepannya petani-petani kita dapat mandiri,” tutur Heru.(*)