Efek Kegiatan RJIT, Produktivitas Padi di Morowali Meningkat

oleh -34 views

MOROWALI – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), melakukan kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) di Desa Bahomotefe, Kecamatan, Bungku Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Dukungan ini diharapkan mendukung peningkatan produktivitas.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL), kegiatan RJIT dilakukan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan air di lahan persawahan.

“Air adalah faktor yang sangat menentukan dalam pertanian. Dengan air yang terpenuhi, tanaman bisa maksimal. Melalui kegiatan RJIT, kita memastikan hal itu. Kita pastikan air di saluran irigasi bisa memenuhi kebutuhan di lahan persawahan,” kata Mentan SYL, Senin (23/11).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, kegiatan RJIT adalah bagian dari water management.

“Kegiatan RJIT dilakukan bukan hanya untuk memperbaiki atau membenahi saluran irigasi. Tetapi juga memaksimalkan fungsi saluran irigasi agar luas areal tanam bertambah, begitu juga indeks pertanaman dan produktivitas,” kata Sarwo Edhy.

Dijelaskan Sarwo Edhy, kegiatan RJIT di Desa Bahomotefe, Kecamatan, Bungku Timur, Morowali, dilakukan P3A Lengkono yang diketuai Adadia dilakukan karena kondisi saluran irigasi awalnya berupa saluran tanah. Kondisi ini membuat distribusi air ke lahan sawah kurang lancar dan sering kehilangan air akibat tanah yang porus.

“Kita perbaiki kondisi itu dengan RJIT. Dan agar fungsinya lebih maksimal, saluran irigasi ini kita buat permanen menggunakan konstruksi pasangan batu dengan dua sisi saluran,” tuturnya.

Hasilnya, luas layanan irigasi bertambah. Luas Layanan Irigasi sebelum dilakukan Perbaikan saluran seluas 10 Ha, setelah dilakukan perbaikan saluran layanan bertambah seluas 25 Ha.

Ketua P3A Lengkono Adadia mengatakan, produktivitas sebelumnya hanya 3 ton/ha, namun setelah saluran di rehab mengalami kenaikan menjadi 3,5 ton/ha. Pada lokasi ini intensitas pertanaman (IP) 200 atau 2 kali tanam dalam 1 tahun.

“Dampak lain dari rehabilitasi saluran ini adalah dapat dilakukannya percepatan tanam. Karena kebutuhan air terdistribusi dengan lancar,” kata Adadia.