Inovasi Pengusir Hama Burung di Areal Sawah dengan Replika Predator

oleh -2,017 views

Hama burung merupakan salah satu faktor pembatas dalam kegiatan budidaya tanaman padi. Di Indonesia, terdapat 3 jenis burung yang menjadi hama pada kegiatan bercocok tanam padi sawah di lapangan, yaitu (1) bondol jawa / Lonchura leucogastoides, (2) bondol haji / Lonchura maja, dan (3) bondol peking / Lonchura punchtulata. Ketiga jenis burung tersebut, dalam ilmu taksonomi, semuanya termasuk ke dalam ordo Passeriformes, kelas Aves dalam kingdom Animalia.

Hama burung bondol menyerang tanaman padi pada stadia generatif, yaitu saat padi mulai tumbuh malai hingga saat panen. Sedangkan, pada saat penjemuran, biasanya hama burung yang menyerang adalah spesies burung gereja / Passer domesticus. Potensi kehilangan hasil tertinggi akibat serangan burung dapat mencapai 50%. Kehilangan tersebut, selain akibat bulir padinya dikonsumsi secara langsung, juga dapat rontok akibat aktifitas pergerakan hama burung tersebut di areal persawahan. Setiap ekor burung bondol, rata-rata mampu mengonsumsi bulir padi sebanyak 5 gram per hari atau 10% dari berat badannya. Hama burung bondol ini menyerang areal tanaman padi pada saat cuaca teduh di pagi dan sore hari secara bergerombol.

Cara pengendalian hama burung yang dapat dilakukan antara lain (1) cara kimia, dengan menggunakan bahan kimia yang dapat meracuni atau mengusir hama burung, (2) cara biologi, dengan memfaatkan predator atau musuh alami hama burung, (3) cara fisik mekanik, dengan menggunakan perangkap, jaring, pita mengkilap, orang-orangan sawah ataupun alat penghasil suara yang dapat mengusir burung, (4) cara kultur teknis, dengan mengatur waktu dan pola tanam, dan lain sebagainya. Di Indonesia, biasanya petani sangat mengandalkan orang-orangan sawah atau bebegig dalam mengendalikan hama burung bondol ini. Namun pemanfaatan bebegig ini memiliki beberapa kendala dan kelemahan yaitu antara lain: saat ini, burung sudah mulai beradaptasi dan tidak takut dengan orang-orangan sawah tersebut; serta pengoperasian alat tersebut merepotkan petani karena harus digerakan secara manual, sehingga petani harus berada di sawah sepanjang hari.

Staff peneliti Laboratorium Hama Tanaman, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, melakukan kajian inovasi pengendalian hama burung dengan menggunakan replika pemangsa atau predator (Gambar 1). Kegiatan dempot dan disiminasi telah dilakukan di beberapa sentra pertanaman padi di Jawa Barat. Replika predator tersebut telah terbukti efektif dalam melindungi areal sawah dari serangan hama burung bondol yang memakan bulir dan merusak malai tanaman padi pada stadia generatif.

Replika predator tersebut terbuat dari bahan yang mengkilap, tahan air, tidak mudah rusak dan dibentuk sedemikian rupa, sehingga menyerupai predator hama burung bondol, yaitu antara lain berbentuk ular (Gambar 1a), burung elang (Gambar 1b), dan burung hantu (Gambar 1c). Warna yang mengkilap seperti hologram, menyebabkan replika tersebut mudah terlihat oleh hama burung, sehingga hama burung akan menganggap replika tersebut sebagai potensi ancaman. Replika predator tersebut terbuat dari material tahan air dan tidak mudah rusak, sehingga efektif dan efisien walau diaplikasikan di tengah lapangan yang seringkali terjadi hujan, tertiup angin kencang ataupun cuaca panas. Sedangkan bentuk yang menyerupai predator, dimaksudkan untuk memancing karakter anti-predator yang dimiliki hama burung sehingga hama tersebut melakukan gerak menjauh atau menghindar.

Aplikasi di areal sawah, beberapa replika predator tersebut ditempatkan di tengah-tengah areal persawahan, digantungkan pada bambu yang melengkung, dengan ketinggian sekitar 1 sampai 2 meter, dan dengan jarak sekitar 10-meter antara replika predator satu dengan yang lainnya (Gambar 2). Secara otonom, replika tersebut akan bergerak akibat tiupan angin dan memantulkan cahaya matahari yang menyebabkan hama burung bondol tidak berani mendekat ke areal sawah yang diaplikasikan replika predator tersebut. Jika dibandingkan dengan cara pengendalian hama burung lainnya, pemanfaatan replika predator ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu lebih mudah, murah, efektif, efisien dan ramah lingkungan. Setidaknya, petani tidak perlu lagi berada di sawah sepanjang hari untuk mengerak-gerakan orang-orangan sawah.

No More Posts Available.

No more pages to load.