Kemenparekraf: Peluncuran Calender of Event 2021 dan Aceh Travel Mart Kunci Kebangkitan Pariwisata Indonesia

oleh -52 views

BANDA ACEH – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendukung penuh peluncuran Calender of Event (CoE) 2021 dan Aceh Travel Mart 2.0. Soft launching CoE Aceh 2021 akan dilakukan bersamaan dengan pembukaan Aceh Travel Mart (ATM) 2.0, sebuah pertemuan buyer dan seller dalam penjualan paket wisata Aceh mengusung tema “The Quantum Energy of Indonesia Tourism” tanggal 21-25 Maret 2021 di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh.

 

 

Peluncuran CoE Aceh 2021 dan ATM 2.0 bertujuan untuk memantapkan branding “The Light of Aceh” atau “Cahaya Aceh” kepada wisatawan di era adaptasi kebiasaan baru, memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata halal nasional dan internasional dan menjual ragam paket wisata Aceh melalui pertemuan seller dan buyer. Ini juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan perkembangan industri pariwisata Aceh di era Covid-19 melalui reaktivasi industri pariwisata lokal dengan tagline #DiIndonesiaAja, #AyoJalanJalanDiAceh, #DiAcehSaja dan #AyoPakaiMasker.

 

 

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya menuturkan, saat ini sarana infrastruktur di Aceh cukup memadai dalam menopang bergeraknya sektor pariwisata. Dari pantauannya di sejumlah destinasi wisata, Nia menilai Aceh telah siap memulai destinasi wisata secara offline.

 

 

“Apresiasi luar biasa kepada ASPPI dan Pemda Aceh yang memulai pariwisata offline. Suatu komitmen yang penuh keberanian dan wujud dari kebangkitan sektor pariwisata. Tapi pesan kami jangan tinggalkan protokol kesehatan, karena kalau ini berhasil, kita juga akan sukses akan menghadapi situasi baru,” ujar Nia, Senin (22/3/2021).

 

 

Bergeraknya kembali pariwisata Aceh menurut Nia telah mengimplementasikan apa yang disebut oleh Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno sebagai upaya adaptif, inovatif dan kolaboratif. “Kegiatan ini lebih mendorong untuk berwisata sesuai tagline yang kami pelopori yakni tagar #DiIndonesiaAja, #DiAcehAja. Hari ini tren pariwisata dunia adalah penerapan dan penegakan protokol kesehatan menjadi kunci sebuah indeks destinasi pariwisata,” ujarnya.

 

 

Imunitas, Nia melanjutkan, membangun kepercayaan diri dari semua pihak, tak hanya wisatawan, tetapi juga pelaku pariwisata. Menurut Nia, membangkitkan optimisme sektor pariwisata bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua.

 

 

Di sisi lain, dalam rangka menggenjot promosi Nia menyebut saat ini telah ada Jaringan Pariwisata Hub (JPH) yang dibangun oleh Bakti Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) sebagai ruang promosi digital bagi destinasi wisata di seluruh Indonesia. Adapun website Indonesia.travel sebagai front end dari JPH.

 

“JPH ini dibangun oleh Bakti Kominfo yang merupakan sebuah wadah sosialisasi atraksi pariwisata dalam satu platform. Kita akan masukkan seluruh atraksi di Aceh ke dalam JPH. Website Indonesia.travel sebagai front end dari JPH. Platform itu bisa dimanfaatkan dalam konteks pariwisata. Konten silakan diisi materinya dari daerah, nanti dikurasi,” papar dia.

 

 

Dalam hal pengembangan ekonomi kreatif, Nia menegaskan jika pihaknya berupaya dan mendorong agar produk-produk UMKM ekonomi kreatif bisa dipasarkan di e-Commerse. “Penjualan produk UMKM ekonomi kreatif naik sebesar 20 persen dan menyerap 2.700 tenaga kerja. Tahun ini kami mendapat tugas dari Kemenko Marves, kami mulai memasukkan produk itu ke dalam e-Commerse. Ini oportunity yang harus dimanfaatkan dan dikembangkan,” demikian Nia.(***)