Pasca Kemenangan Biden

oleh -214 views

Oleh Ari Bahari Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik UNAS

JAKARTA – Akhirnya pemilu presiden Amerika Serikat telah melahirkan pemimpin baru untuk kepemimpinan rakyat Amerika 4 tahun kedepan, adalah Joe Biden presiden yang diusung oleh Partai Demokrat yang menurut penghitungan terakhir telah mengalahkan Calon Incumbent dari partai Republik yakni Donald Trump, kita ketahui bersama bahwa Biden adalah mantan Wakil Presiden Amerika di era kepemimpinan Barak Obama.

Pilpres Amerika kali ini berbeda dari pilpres sebelum-sebelumnya karena diadakan dalam suasana pandemi covid-19, dunia pun secara seksama memperhatikan proses pergantian tampuk kepemimpinan Amerika, yang mana pada masa pemerintahan Trump terjadi sebuah polarisasi akibat kebijakan-kebijakan luar negri Amerika dibawah kepemimpinan Donald Trump tersebut.

Dengan kebijakan American First nya, Trump mengatakan, American First adalah sebuah kebijakan yang mencoba untuk mendahulukan kepentingan nasional Amerika Serikat dibandingkan dengan kepentingan asing. ada beberapa kebijakan yang memang cukup kontrofersial yang diambil oleh Donald Trump yang menjadi sorotan dunia, salahsatunya adalah kebijakan perang dagang yang dilakukannya dengan Cina, perang dagang ini membuat suasana ketidak setabilan ekonomi dunia, pada tahun 2019 ekonomi dunia tumbuh melambat 2,465 (YoY) akibat perang dangang yang dilakukan oleh kedua Negara.

Dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat, hampir sebagian komunitas internasional melihat adanya sebuah harapan baru terhadap kondisi global yang terjadi saat ini, namun sebagain juga melihat pestimistis terhadap terpilihnya Biden dan menganggapnya, kebijakan yang diambil oleh Biden akan sama saja.

Timur Tengah, Cina dan Keamanan Dunia
Sejarah panjang konfilk Timur Tengah dan lahirnya nasionalisme Arab pasca perjanjian Sykes – Picot setelah berakhirnya Perang Dunia I mebuat kawasan Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat tidak stabil, konflik dan perang yang berkepanjangan meporaporandakan kawasan yang dimana dahulunya adalah tempat lahirnya peradaban-perdaban agung.

Amerika Serikat sebagai salah satu Negara Sekutu yang memenangi Perang Dunia Ke –II dan mengklaim sebagai Polisi Dunia memegang peranan kunci di wilayah Timur Tengah. Berbagai kebijakan politik luar negri Amerika Serikat sangat berpengaruh besar terhadap wajah dan potret keadaan wilayah Timur Tengah saat ini.

Tentunya kebijakan luar negri Amerika Serikat ini banyak di pengaruhi oleh kondisi politik dalam negri Amrika Serikat sendiri, kita ketahui bersama bahwa kebijakan lura negri Amerika khususnya Timur Tengah banyak dipengaruhi oleh Interest Group (kelompok kepentingan) yang melakukan berbagai lobi keberbagai lembaga pemerintahan dari Kongres hingga Gedung Putih. Interest Group Seperti IPAC dan ADL mempunya pengaruh yang sangat kuat dalam pemerintahan Amerika Serikat khususnya kebijakan luar negri Amerika di Timur Tengah.

Saya pernah membuat sebuah penelitian yang mencoba membadingkan Gorge W Bush dan Barack Obama terkait kebijakan luar negri Amerika Serikat di Timur Tengah, yang mana pada penelitian saya tersebut pada sebuah kesimpulan, bahwa dua orang yang di usung dari latar belakang yang berbeda Bush Republik dan Obama Demokrat memiliki kebijkan yang hampir sama, yang membedakan adalah dalam sisi penekananya, tentunya Obama yang diusung oleh Demokrat lebih moderat dalam melakukan kebijakanya.

Bagi sebagian Negra dunia mungkin terpilihnya Biden sebagai sebuah angin segar baru, namun untuk sebagian Negara-negar Timur Tengah mereka pesimis atas langkah-langkah yang kongkrit terkait situasi Timur Tengah yang akan dilakukan oleh Biden, sampai detik ini baik presiden yang di usung oleh Demokrat maupun oleh Republik belum memberikan dampak yang signifikan atas perdamaian di Timur Tengah.

Lain Timur Tengah Lain dengan Cina, Cina sebagai sebuah raksasa baru yang terbangun dari tidur panjangnya banyak memberikan persaingan atas eksistensi Amerika di dunia Internasional, Barat dan Amerika khusunya, merasa kehadiran Cina di panggung Internasional banyak mengganggu kepentingan-kepentingan mereka.

Barat yang dipimpin oleh Amerika melalui Donald Trump melakukan berbagai manufer seperti memboikot produk 5 G yang dikembangkan oleh cina dan yang terakhir adalah menuduh cina sebagai dalang dibalik wabah Covid -19, dalam statement-statement yang dikeluarkan oleh Trump melabeli virus Covid–19 dengan nama virus Cina Ketegangan yang terjadi tentunya sangat berdampak terhadap kondisi dunia secara keseluruhan, hal ini sangat dirasakan oleh Negara–Negara kecil tentunya, ibarat sebuah pepatah bahwa ketika dua gajah sedang berkelahi yang menjadi korban adalah para semut, Trade War dan Wabah Covid-19 meluluh lantakan kondisi dunia saat ini.

Joe Biden yang digadang-gadang sebagai harapan baru bisa merealisasikannya, dunia yang saat ini sedang terpolrasiasi, Gap antara Negara yang kaya dan miskin semakin melebar, Konflik Timur Tengah dan Afrika yang berkepanjangan dan Tentunya permasalahan perubahan Iklim yang sangat krusial untuk di antisipasi oleh komunitas internasional menjadi agenda-agenda yang akan di hadapi oleh Joe Biden di perhelatan Internasional Indonesia Hubungan antara Indonesia dan Amerika mengalami pasang surut, namun pada tulisan kali ini berkaca di dua periode terakhir kepemimpinan Amerika Serikat era Obama dan Trump, pada era kepemimpinan Obama kita banyak di suguhkan dengan nostalgia Obama dengan masa kecilnya yang dihabiskan di Indonesia, namun dalam skala kebijakan yang memiliki dampak terhadap hubungan kedua negara yakni prihal kerjasama penanganan perubahan iklim dan yang kedua adalah penambahan kuota beasiswa bagi pelajar yang ingin melanjutkan studinya di kampus–kampus terkemuka di Amerika.

Selebihnya selama dua periode kepemimpinan Obama kita banyak disajikan oleh romantisme Obama dengan masa kehidupan kecilnya di Indonesia, selanjutnya dengan Donald Trump secara garis besar juga tidak ada sebuah keputusan-keputusan yang signifikan yang berdampak terhadap hubungan kedua Negara, bahkan pemerintahan Trump baru melihat posisi strategis Indonesia diakhir-akhir masa jabatanya saat ini, dimana pemerintahan Donald Trump mengirimkan delegasi Mentri Luar Negri mereka ke Indonesia untuk membahas berbagai isu terkait Laut Cina Setalan dan perdamaian di Timur Tengah khususnya Palestina. Namun pengiriman delegasi di ujung masa pemerintahannya tersebut terkesan terlambat karena akan digantikan lagi oleh Presiden baru Joe Biden.

Kita akan lihat kedepan bagaimana Presiden terpilih Amerika Serika Joe Biden melalukan peranya di kawasan Asia Pasifik, Indonesia Sebagai sebuah negara yang memiliki penduduk yang hampir 250 jt lebih, berpenduduk muslim terbesar di Dunia, dan secara posisi geografis memiliki letak yang strategis, akan dipandang sebagai mitra strategis baik untuk ekonomi dan geopolitik di kawasan Asia Pasifik.

Dengan memanasnya hubungan Amerika dengan Cina, dengan kepentingan Amerika membendungn Invasi Cina dikawasan ASEAN dan Pasifik harapanya Indonesia bisa menjadi Backbone bagi koalisi yang sedang dibangun oleh mereka QUAD, hal ini bisa dilihat dengan adanya isu proposal Amerika untuk membangun pangkalan militer di Indonesia. Dengan politik luar negri Indonesia yang bebas dan aktif, seharusnya Indonesia mampu mengambil peranan dan keuntungan dari situasi yang sedang terjadi.
Terakhir, kita akan liat dengan kepemimpinan baru Amerika Serikat (Joe Biden) Ini, apakah mampu memberikan dampak yang baik terhadap kehidupan dunia yang sedang terpolarisasi saat ini.(***)