Penyuluh Kostratani Jember Siap Ikut ToT CSA SIMURP

oleh -58 views
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

KAHYANGAN.NET//JEMBER – Para petani dan penyuluh di Kabupaten Jember akan mendapatkan pengetahuan cara mengendalikan hama melalui kegiatan pertanian cerdas iklim (CSA) proyek Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, lokasi SIMURP berada dua daerah irigasi (DI) yaitu DI Talang dan DI Pondok Waluh. Dari kegiatan SIMURP diharapkan dapat meningkatkan Intensitas Pertanaman (IP) melalui kegiatan Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA).

Kegiatan ini mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap dampak perubahan iklim. sehingga meningkatkan produksi dan produktivitas, mengurangi gagal panen, mengurang/menurunkan Gas Rumah Kaca (GRK) yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani khususnya di Daerah Irigasi Proyek SIMURP.

Untuk itu, perlu disiapkan penyuluh pertanian yang paham CSA. Rencananya, Agustus ini Jember akan melaksanakan Training of Trainer (ToT) CSA Proyek SIMURP. Selain untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan penyuluh tentang CSA sekaligus untuk mempersiapkan mereka sebagai fasilitator dalam pelatihan bagi petani penerima manfaat.

Salah satu materi penting yang akan disampaikan pengajar dalam ToT adalah bagaimana menerapkan pengendalian hama terpadu ramah lingkungan.

Sejauh ini petani Jember telah menerapkan dengan baik melalui Gerdal (Gerakan Pengendalian Hama) secara terpadu khususnya pada tanaman padi mengingat saat ini padi di Jember terkena serangan wereng. Upaya peningkatan produksi padi diarahkan untuk mencapai swasembada beras secara berkelanjutan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penyuluh harus cerdas. bila penyuluh pertaniannya cerdas, dapat dipastikan para petaninya juga cerdas.

“Dengan kompetensi penyuluh yang mumpuni menguasai pengetahuan hulu sampai hilir dengan baik maka petaninya juga akan menerapkan budidaya, penanganan pasca panen dan pemasaran yang baik pula,” katanya, Selasa (04/08/2020).

Menteri Pertanian juga mengatakan sektor pertanian tergolong sektor yang tangguh, terbukti kondisi pangan kita cukup survive. Ini tentunya peran para penyuluh dan petani yang terus bekerja tidak pernah berhenti mski pandemic Covid-19 belum berakhir.

Sedangkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, berharap dengan CSA hama wereng bisa dikendalikan.

“Dengan teknologi pertanian cerdas iklim atau CSA, kia berharap hama bisa terkendali dengan baik. Dan dengan CSA produksi bisa meningkat dan namun alam tetap terjaga dengan baik,” tutur Dedi Nursyamsi.

Berdasarkan Undang – Undang No. 12 tahun 1992, dan adanya Peraturan Pemerintah No.6 tahun 1995, pelaksanaan pengendalian hama dilakukan dengan menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu ( PHT ) dengan menggunakan pestisida hayati yang pada dasarnya adalah pemanfaatan agens hayati untuk mengendalikan kepadatan populasi OPT yang merugikan.

Meningkatnya populasi OPT mengakibatkan kerugian petani yang disebabkan kondisi lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi agens hayati untuk menjalankan fungsi alaminya. Prinsip PHT adalah cara pendekatan pengendalian organisme pengganggu tanaman ( OPT ) yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan ekonomi melalui pengelolaan agro-ekosistem yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Prinsip PHT adalah budidaya menghasilkan tanaman yang sehat, pelestarian musuh alami, melakukan pengamatan secara rutin, ekosistim terjaga dan Petani ahli dalam pengamatan.

Seperti yang telah dilakukan para petani dan penyuluh yang telah melakukan Gerdal secara bersama-sama seperti yang dilakukan Kelompok Tani Ngudi Barokah, Desa Sabrang Ambulu, KelompokTani Tegal Ajung II.

Demikian juga Gerdal OPT tanaman padi dilakukan didesa Tegalsari dan Karanganyar Kecamatan Ambulu, secara serentak sekaligus melibatkan empat kelompok tani. Lain dengan kegiatan petani Ambulu, petani Desa Klompangan Kecamatan Ajung Jember untuk mengurangi penggunaan pestisida selain menanam tanaman refugia, petani secara swadaya membuat “rubuha” (rumah burung hantu) untuk mengusir hama tikus.

Hampir semua wilayah di empat BPP lokasi SIMURP telah menerapkan pengendalian hama secara terpadu dan ramah lingkungan.

Penyuluh di Kabupaten Jember, Yunus, juga menyampaikan bahwa untuk menanggulangi blast dapat menggunakan agens hayati seperti bakteri merah maupun agens hayati lainnya.

“Kita juga menganjurkan agar petani juga menerapkan cara bercocok tanam yang baik dan benar dengan menerapkan pertanian cerdas iklim yang dapat disiasati dengan penggunaan varitas yang tahan OPT dan sistim pengairan yang baik,” katanya.

Sesuai pedoman PHT, Kecamatan Jelbuk dalam melakukan Gerdal dilaksanakan melalui kegiatan padat karya di Desa Sukowiryo dengan menggunakan pestisida nabati dan menggunakan agen hayati trichoderma untuk memberantas hama jagung dan cabe. Hal ini juga dilakukan di Desa Kertosari, Sumber Pinang, Jatian dan Pakusari di Kecamatan Pekusari dengan padatkarya juga petani menggunakan bioinsektida. (SP/NF/EZ)