KAHYANGAN.NET//JAWA TIMUR – Perkembangan pertanian di Jawa Timur, khususnya di daerah yang menjadi lokasi IPDMIP, terus dikawal. Bahkan, Tim DPIU IPDMIP Tuban, terjun langsung ke lapangan untuk memantau perkembangan pertanian.
Kunjungan Tim DPIU Kabupaten Tuban dilakukan dalam kegiatan Kunjungan Antar Desa, atau Cross Village Visits. Timnya meninjau perkembangan pertanian di Daerah Irigasi Deker, Kecamatan Soko.
Tidak itu saja, Tim DPIU IPDMIP Kabupaten Tuban juga melakukan pertemuan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tambakboyo. Hadir dalam kegiatan ini Petani Peserta SLP, Petani DI Deker, Penyuluh Pertanian Kecamatan, Staf Lapangan dan Tim IPDMIP Kabupaten.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi, Kunjungan Antar Desa mempunyai sejumlah manfaat.
“Pertama, dengan kunjungan ini Tim DPIU bisa menyaksikan langsung perkembangan pertanian di daerah irigasi yang merupakan daerah IPDMIP. Serta bisa memantau bagaimana penerapan ilmu oleh petani yang mengikuti berbagai kegiatan IPDMIP,” tuturnya, Rabu (11/11/2020).
Dedi Nursyamsi menambahkan, kunjungan merupakan salah satu metode penyuluhan yang dinilai efektif.
“Karena petani dapat melihat hasil dan mendengar penjelasan secara langsung dari petani yang telah berhasil setelah menerapkan teknologi yang direkomendasikan di desa yang dikunjungi,” katanya.
Sementara, Tim DPIU Kabupaten Tuba menambahkan, dengan kegiatan kunjungan ini, terjalin interaksi antar petani sehingga petani juga dapat memperoleh wawasan dan belajar dari pengalaman petani lain apabila tidak menerapkan teknologi yang direkomendasikan.
Dari kunjungan ini didapat informasi jika pola tanam petani klutuk selama setahun adalah padi-padi-jagung. Jadi, dalam satu tahun bisa tanam tiga kali. Pada musim kemarau ini di pilih komoditas Jagung karena memiliki keuntungan lebih besar.
Budidaya jagung yang dilakukan masih menggunakan cara konvensional dengan jarak tanam 40x40x60 dengan jumlah benih 2 benih/lubang. Jagung yang ditanam oleh petani klutuk adalah jagung Perkasa karena tahan penyakit bulai.
Mulai dari tanam sampai panen pengairan dilakukan sebanyak 6-7 kali. Pengairan menggunakan pompa air. Untuk pemupukan dilakukan menggunakan sistem kocor. Hasil yang diperoleh dari satu kilogram bibit bisa menghasilkan 5-6 KW jagung pipil kering.
Petani klutuk sudah mulai banyak yang menggunakan POC dan Pestisida nabati. Selain murah, juga ramah lingkungan. Tahap awal adalah membuat MOL untuk bahan membuat POC dan Pestisida Nabati. Bahan – bahan pembuatan mol diantaranya : 2,5 kg Bonggol pisang; 5 botol Air kelapa; 5 botol Air cucian beras; 2,5 botol Tetes tebu dan 2-3 buah Pisang yang hampir busuk.
Selanjutnya membuat pestisida nabati + POC menggunakan bahan bahan : 40 kg buah mojo dihancurkan/diselep; 20 botol tetes tebu; 20 botol mol dan 40 liter urin sapi.
Petani DI Deker juga diajak untuk kunjungan lapang ke lahan petani SLP yang tanam jagung. Dari pelaksanaan Kunjungan Antar Desa di Daerah Irigasi Nganget Kecamatan Tambakboyo di peroleh kesimpulan bahwa melalui Kunjungan Antar Desa dapat mengetahui pengolahan tanah sampai pasca panen, biar tidak hanya melihat lahan di daerah setempat saja dan dapat membandingkan antara Soko dan Tambakboyo guna dapat menambah ilmu dan berbagi pengalaman.(EZ)




