Jakarta – Untuk memaksimalkan kegiatan Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP) di Nusa Tenggara Barat, dilakukan Workshop di Angkringan De Began Loteng, Rabu-Kamis (17-18/3/2021). Kegiatan ini diikuti 30 orang peserta dari unsur staf lapangan, Penyuluh Pertanian Lapangan dan penyuluh swadaya
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pertanian harus dimaksimalkan untuk mendukung ketahanan pangan.
“Dalam pandemi Covid-19, pertanian menjadi sektor yang sangat penting. Karena, pertanian harus menyediakan pangan. Kita juga akan menggenjot produktivitas agar ketahanan pangan bisa terjaga,” katanya.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSMDP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan peningkatan produktivitas membutuhkan SDM yang handal.
“Faktor utama pengungkit produktivitas pertanian adalah SDM. Jadi, jika ingin membangun pertanian maka yang harus dibangun terlebih dahulu adalah SDM pertanian,” katanya.
Dedi Nursyamsi mengatakan, melalui IPDMIP kemampuan, kualitas dan kapasitas SDM akan turut ditingkatkan.
“Sebab IPDMIP akan menggelar berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan SDM pertanian. Siapa itu SDM pertanian, yaitu penyuluh, petani, termasuk juga poktan, gapoktan, dan petani milenial,” katanya.
Kegiatan workshop sendiri dilakukan untuk menggali potensi serta merancang strategi untuk mencapai hasil.
Koordinator Konsultan NTB dan NTT, Sukmawati, menyampaikan workshop menjelaskan tentang rancangan komponen 4 dan kedudukannya dalam IPDMIP secara keseluruhan. Termasuk cara mengawal dan mengimplementasikan ketiga komponen, serta mendiskusikan isu-isu penting untuk pelaksanaan proyek IPDMIP dan membahas upaya-upaya pemecahan secara bersama
“Adapun outcome agar kegiatan proyek IPDMIP efektif, efisien dan sesuai sasaran. Acara tersebut juga untuk persiapan kegiatan pelatihan refresher, kegiatan pelatihan new staff dan kegiatan pelatihan rantai nilai. Serta menggali potensi dan masalah serta peluang di lokasi IPDMIP di Lombok Tengah tahun 2021,” tutur Sukmawati.
Dijelaskannya, hasil workshop diantaranya daya dukung dan masalah wilayah daerah Irigasi (DI ) Intervensi Tahun 2021.
Dari 40 Kriteria yang dipergunakan untuk mengukur daya dukung, 12 kriteria untuk mengukur kendala/masalah daya dukung. Sebanyak 34% memberikan dukungan tinggi dalam usaha tani, dan 9% tidak atau belum memberikan dukungan pada usaha tani.
“Sedangkan yang memberikan dukungan sangat tinggi sebesar 8%. Artinya, sejumlah faktor baik sedang maupun rendah dapat didorong agar memberikan dukungan tinggi,” katanya.
Sedangkan kendala, tidak teridentifikasi kendala yang sangat tinggi. Faktor kendala tinggi umumnya gangguan hama penyakit dan akses permodalan usaha tani, yang nantinya dalam implementasi IPDMIP diharapkan dapat dilakukan penguatan pada pemetaan dan pengembangan Rantai nilai (value change).
Adapun rancangan strategi yang bisa diambil diantaranya Penguatan peran pelaku/pelaksana IPDMIP, yaitu PPL, Pendamping, Konsultan, Penyuluh Swadaya, dan Pengurus Kelompok. Kemudian perubahan pendekatan dalam pelaksanaan SL dari berorientasi produksi menjadi agribisnis, khususnya DI intervensi Kabupaten (lokasi lama) melalui perubahan kurikulum pembelajaran SL, replikasi, dan penyebarluasan informasi SL.
“Dan terakhir adalah Integrasi IPDMIP dalam pembangunan pertanian, khususnya program kelembagaan penyuluh pertanian,” Sukmawati menambahkan.
Yulia TS, PIC kegiatan IPDMIP Provinsi NTB dan NTT, menambahkan agar para pendamping IPDMIP dalam pelaksanaan kegiatan selalu buat perencanaan yang detail apa yang akan dilakukan dan dapat bersinergi dengan petugas lainnya.
“Tentunya cara ini akan menghasilkan yang lebih baik. Dan perlu diingat orientasi kedepan tidak hanya produksi saja yang ingin dicapai, tetapi juga nilai tambah yang bisa lebih menguntungkan, tentu saja disesuaikan peluang pasar,” tambahnya.(YTS/EZ)





