Satu Tahun Asta Cita Prabowo-Gibran, BACenter Gelar Diskusi Membangun

oleh -48 views

JAKARTA – Sejumlah pakar di bawah komando BACenter memeriahkan diskusi Satu Tahun Asta Cita Prabowo-Gibran di Markas Dewan Pakar Prabowo Gibran, Hang Tuah Jakarta, Senin (20/10/2025). Para pakar ini mengomentari raihan program kerja dan target pemerintah selama setahun.

Salah satu program yang dikomentari adalah Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Salah satu yang dievaluasi adalah MBG (Makan Bergizi Gratis, Red). Ini padahal program bagus, tapi harus diimplementasikan dengan baik di lapangan, program ini harus terus bertahan sampai 100 tahun ke depan,” kata Ekonom yang pernah menjadi pasukan IMF, Paul Soetopo Tjokronegoro.

Menurutnya, perlu peran kementerian dan lembaga lain agar program MBG ini sukses.

“Terutama mengatur agar tepat sasaran. Jadi jangan sampai salah, sekolah yang isinya orang kaya malah mendapatkan MBG. Ini harus diatur lagi dengan baik di lapangan,” ujar Paul.

Sementara salah seorang pengurus BACenter, Mahatma Gandhi, membahas mengenai konektivitas koperasi, BGN, dan perumahan.

“Koperasi kan bisa support perumahan, koneksinya harusnya begitu. Jangan koperasi didirikan karena mini market tidak bisa masuk ke desa terus pakai tameng koperasi. Tinggal konektivitas ini harus dibentuk,” katanya.

Gandhi menambahkan, harus ada satu orang leader yang bisa mengkoneksikan tiga program tersebut.

“Kalau kita hari ini mau mengeluarkan rekomendasi, salah satunya itu. Tiga program besar ini dileaderkan satu orang leader yang mengkoneksikan ini jadi satu kesatuan besar. Kita mengerucut saja, bagaimana mengkoneksikan koperasi, BGN dan perumahan supaya peran BACenter semakin kuat,” katanya.

Sedangkan Frans BM Dabukke dengan tegas menyatakan pemerintah saat ini sudah on the track.

“We are on the track, kita harus optimis karena ini maraton bukan sprint. Kapal induk ini melewati ombak yang tinggi itu, tapi ternyata ombaknya memang lebih tinggi,” ujarnya.

Diskusi ini ditutup oleh Ekonom Burhanuddin Abdullah yang menilai pemerintahan Prabowo-Gibran sampai sejauh ini telah menjalankan sebuah istilah, yaitu ‘1000 Teman Terlalu Sedikit, Satu Musuh Terlalu Banyak’.

“Pernyataan tentang ‘Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak’ adalah sesuatu yang betul-betul dilaksanakan oleh beliau,” katanya.

Hanya saja, mantan Gubernur Bank Indonesia ini menilai belum semua menjadi teman Prabowo-Gibran.

“Tetapi kelihatannya belum selesai itu. Belum selesai semua itu jadi teman. Masih ada yang tertunda-tunda. Secara makro politik, ada sesuatu yang masih harus dikerjakan. Itu satu poin dari satu tahun ini,” katanya.

Pendiri BACenter ini juga menilai strategic move yang dilakukan sudah sangat bagus dan mendasar.

“Pemerintahan ini mengubah semua perspektif yang dilakukan oleh presiden sebelumnya. Tidak ada itu pikiran mengenai makan bergizi gratis di zaman lalu. Namun Prabowo sudah bicara sejak 2008 tentang hal itu dan dilaksanakan,” tukasnya.

Ia juga menyinggung mengenai program rumah 3 juta. “Itu kan kolosal. Sesuatu yang sudah disadari setiap tahun bahwa ada backlog sekian juta, kemudian dihitung-hitung harus 3 juta,” ujarnya.

Dijelaskannya, yang belakangan ini muncul ke permukaan adalah mengenai 80.000 koperasi.

“Dua minggu sebelum pengumuman kebijakan koperasi itu, di sini ada diskusi. Dihadiri oleh Pak Robi Tulus dari ICA dari Kanada. Dia mengatakan, koperasi di Indonesia terlalu banyak, ada 127.000. Kalau bisa dikurangi saja menjadi tinggal 20.000, supaya besar-besar dengan cara merger dan akuisisi,” terangnya.

Menurut Burhanuddin, pengurangan jumlah koperasi itu cukup logis.

“Karena 127.000 itu pangsanya atau sumbangannya terhadap PDB kurang dari 2%. Hampir negligible. Kalau diperkecil jumlahnya tetapi dibesarkan kekuatannya, akan semakin besar koperasi itu,” ucapnya.

Tapi dua minggu kemudian diumumkan untuk membangun 80.000 koperasi di setiap desa.

“Ini kan satu pikiran yang berbeda. Kemudian saya mencoba mematut-matut juga pikiran itu. Ternyata argumennya pas. Jadi, kita yang punya 127.000 koperasi itu, ternyata jumlah penduduk Indonesia yang jadi anggota koperasi hanya 28 juta. Kurang dari 10% lah pokoknya,” ujarnya.

Meski demikian, Burhanuddin setuju jika koperasi harus turut berperan untuk membangun rumah dan untuk MBG [Makan Bergizi Gratis]. Dalam penilaiannya, Burhanuddin menyebut pemerintahan sekarang ini secara ideologis yang paling jelas dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

“Bahkan dengan pemerintahan Soekarno, Soeharto, kemudian sampai Jokowi, ini yang paling jelas, paling jelas memilih. Ini adalah Pancasila, ini adalah Sosialis, ini adalah Konstitusi, jelas. Kalau yang dulu ya ke mana saja anginnya gitu,” terangnya.

Meski demikian, ia menilai kejelasan itu juga belum selesai. Menurutnya, garapan ke depan masih sangat banyak.

“Misalnya, ada semacam policy mismatch. Betapapun agresifnya Purbaya, menabur 200 triliun di bank, kalau pelaksanaannya hanya untuk UMKM, hanya untuk konsumsi, kecil dampaknya juga,” ujarnya.

Burhanuddin juga menyebut salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah rumitnya permasalahan Amdal.

“Ada berapa ribu Amdal yang tidak selesai-selesai. Penyelesaian Amdal itu antara 6 bulan, 1 tahun sampai 2 tahun dengan ongkos yang besar,” katanya.

Ia lalu mencontohkan sebuah pembangkit di daerah Karimun sana.

“Sudah berdiri? Sudah. Mau di-deliver? Sudah. Jalan? Sudah. Commissioning?. Tapi Amdal-nya belum selesai itu. Akhirnya perusahaan yang sudah ada di situ, di kawasan ekonomis situ, lari ke Vietnam. Kita harus menunggu 2 tahun lagi,” ungkapnya

Menurutnya, hal-hal inilah yang harus dibantu supaya policy mismatch agresif di keuangan tapi juga agresif di perizinan, di Amdal dan sebagainya.

“Dan waktu masih cukup saya kira, 4 tahun ke depan. Kita akan bisa berperan di situ dengan cara kita masing-masing,” katanya.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.