Kemenparekraf Dorong ISI Yogyakarta Kembangkan Seni Teater Jadi Atraksi Wisata Budaya

oleh -909 views

JAKARTA – Dalam rangka program Praktisi Mengajar yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, direspon gercep oleh Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan mengadakan kuliah umum yang mendatangkan praktisi profesional di bidang Seni Teater dan Pariwisata Budaya. Kuliah umum ini berlangsung pada hari Kamis tanggal 29/09/2022 di Auditorium Teater, ISI Yogyakarta yang dihadiri oleh mahasiswa/i dari berbagai fakultas dan jurusan di ISI Yogyakarta.

Program Praktisi Mengajar di ISI Yogyakarta sudah berlangsung dalam 1 bulan terakhir yang berlangsung secara daring, namun pada puncaknya mengadakan kuliah umum secara luring dengan menghadirkan beberapa narasumber yang merupakan maestro Seni Teater yaitu Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno, dan Sari Madjid dari Teater Koma Jakarta. Lalu pada bidang pariwisata budaya menghadirkan Wawan Gunawan, Direktur Pengembangan Destinasi I, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang juga merupakan seorang maestro Dalang Wayang Ajen.

Program Praktisi Mengajar dihadirkan agar lulusan perguruan tinggi lebih siap untuk masuk ke dunia kerja. Program ini mendorong kolaborasi aktif praktisi ahli dengan dosen juara agar tercipta pertukaran ilmu dan keahlian yang mendalam dan bermakna antar sivitas akademika di perguruan tinggi dan profesional di dunia kerja. Kolaborasi ini dilakukan dalam mata kuliah yang disampaikan di ruang kelas baik secara luring maupun daring.

Nano Riantiarno mengatakan kunci konsistensi dalam berkarya aTeater Koma yaitu Kerja Keras. “Kuncinya adalah Kerja Keras, jika tidak bisa bekerja keras jangan hidup di teater.” Ungkap Nano. Selama 1,5 tahun terakhir beliau telah membuat 18 pementasan yang sebagian besar ia tulis naskahnya. Dan sekarang ketika pandemi ada 5 naskah yang ia tulis namun belum semua dipentaskan salah satunya Roro Jongrang yang akan dipentaskan pada 14-16 Oktober 2022 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dalam perjalanannya Nano telah mengeliling Indonesia untuk meriset seni teater yang berada di berbagai daerah, dengan kearifan lokal di Indonesia hal ini menjadi potensi besar dalam pengembangan naskah yang ia buat.

Perjalanan kariernya Nano Riantiarno telah berteater sejak 1965 di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1968, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Dia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater Populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977, dia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini.

Manajer Produksi Teater Koma, Ratna Riantiarno mengungkapkan kedisiplinan para seniman menjadi kunci dalam keberhasilan pertunjukan Teater Koma hingga saat ini. “Menjadi Manager Produksi dalam suatu pertunjukan harus fleksibel menghadapi segala macam tantangan dan masalah bisa baik bisa juga keras” Ungkap Ratna. Pada penerapannya di Teater Koma managemen harus sanggup membantu para seniman untuk sampai pada pencapaian mutu artistiknya, bukan malah sebaliknya menjadi penghambat.

Selain berkiprah di Teater Koma, Ratna juga merupakan seorang aktris film yang masih aktif hingga saat ini. Ia telah menerima banyak penghargaan, termasuk nominasi untuk satu Piala Citra Festival Film Indonesia. Sejak tahun 1981, Ratna memulai berkiprah di film “Jangan Ambil Nyawaku” lalu beliau juga memerankan tokoh Ibu Ardiwilaga atau Ibunya Sadam di film “Petualangan Sherina” pada tahun 2000. Lalu pada tahun 2022 ada 5 film yang telah ia perankan yaitu “Pelangi Tanpa Warna”, “Baby Blues”, “Mencuri Raden Saleh”, dan “Nokta Merah Perkawinan”

Sari Madjid, Manajer Panggung Teater Koma memberikan tips dalam membangun tim yang solid. Ia mengatakan menjadi stage manager itu harus sabar. yang paling penting adalah mengambil kesempatan untuk semua merasa nyaman di pertemuan pertama. Banyak yang merasa menjadi stage manager itu adalah yang berkuasa di panggung namun bagaimana ia menguasai seluruh panggung itu dengan hati yang riang dan gembira, para seniman harus senang dan bahagia. Setiap orang yang terlibat harus dihargai untuk membentuk tim yang solid agar semua menjadi nyaman berada di atas panggung.

Sejak usia 10 tahun Sari telah terjun ke dunia drama. Pada tahun 1978 ia menjadi anggota Teater Koma. Sari hampir tidak pernah absen dari setiap pementasan Teater Koma. Salah satu peranannya yang paling terkenal adalah sebagai Engtay dalam sandiwara “Sampek Engtay”. Sejak 1980, Sari juga merangkap sebagai manajer panggung. Selain menangani Teater Koma, ia juga mengelola berbagai pertunjukan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional, antara lain untuk David Copperfield dan Lear, sebuah pertunjukan oleh Yayasan Jepang yang melibatkan pekerja seni dari berbagai negara.

Dalam paparannya Direktur Pengembangan Destinasi I, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wawan Gunawan memberikan materi yaitu “Menggali Potensi Seni Sebagai Atraksi Wisata Budaya”.

Ia mengatakan arah pandang seni sebagai atraksi wisata budaya harus diwujudkan sebagai atraksi wisata budaya yang inovatif, adaptif dan kolaboratif dalam meningkatkan daya tarik wisata indonesia yang berkualitas, terintegrasi dan berkelanjutan. Seni sangat penting untuk dijadikan Atraksi Wisata Budaya hal ini berdasarkan Undang-undang (UU) tentang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017. Selain itu Seni bisa menjadi Daya Tarik Wisata Budaya yang Inovatif, Adaptif, dan Kolaboratif dan upaya pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan. Dalam membentuk ini ada 7 (tujuh) unsur pesona yang harus diwujudkan bagi terciptanya lingkungan yang kondusif dan ideal bagi berkembangnya kegiatan Kepariwisataan di suatu tempat yang mendorong tumbuhnya minat wisatawan untuk berkunjung yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, kenangan. Sejalan dengan arah pandang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno kunci keberhasilan dalam pengembangan atraksi wisata budaya yaitu dengan Inovasi, Adaptasi dan Kolaborasi dengan semangat Gercep, Geber, dan Gaspol.

Menurut Wawan ada 3 isu strategis potensi seni sebagai atraksi wisata budaya yaitu Kebudayaan sebagai Daya Tarik Wisata, Membaca Tradisi Dengan Cara Modern dan Budaya Semakin Dilestarikan Semakin Mensejahterakan. Hal ini akan berdampak besar ketika Seni Sebagai Atraksi Wisata Budaya dan akan memberikan dampak positif terhadap pembangunan indonesia dan membuka peluang lapangan kerja. Wawan berpesan pada mahasiswa “Tantangan dan hambatan bukan menjadi hal yang menakutkan, tantangan dan hambatan adalah sebuah peluang. Semuanya bisa menjadi peluang. Jika kita bijaksana menyikapi sebuah tantangan dan hambatan yang tadi Pak Nano sudah jelaskan yaitu Kerja Keras. saya tambahkan Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas dan Kerja Ikhlas. Bagaimana mengemas seni teater bisa menjadi atraksi wisata budaya. Saya kira potensi seni teater luar biasa.” Ucap Wawan.

Wawan membuat teori ada semangat 7 Nilai yang dinamakan Spirit Sapta Ajen yang dapat di implementasikan dalam Pengemasan Seni sebagai Atraksi Wisata Budaya Rumus Jitu yaitu Nilai spiritual, Nilai budaya, Nilai kreatif, Nilai ekonomi, Nilai komunikasi, Nilai komitmen, dan Nilai kontinyu / keberlanjutan. Selain itu ada 5W Wiraga, Wirasa, Wirahma, Wirupa, Wiwaha dan 4R Raga Rasa Rasio Ruh yang harus diimplementasikan untuk membuat seni menjadi atraksi wisata budaya. Nilai-nilai ini sudah diterapkan di Wayang Ajen dan berbagai event nasional.

Selain menjadi Direktur Pengembangan Destinasi I di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, perjalanan karier Wawan di dunia seni pertunjukan sudah tidak diragukan lagi, terbukti sejak tahun 2000 lebih dari 50 kali bolak balik ke berbagai negara ia telah sambangi bersama Wayang Ajen. Wayang Ajen merupakan wayang kontemporer yang inspirasinya bersumber dari Wayang Golek dan Ragam Wayang lainnya. Ajen artinya nilai, yang menghargai nilai-nilai kearifan lokal yang digali dan ditafsir secara kreatif. Disajikan dengan kreativitas artistik bergandeng dengan teknologi. Fleksibel dalam Ruang Waktu Peristiwa. Bisa memainkan lakon apa saja. Mengabdi untuk negeri melalui Seni Budaya di kancah nasional dan internasional.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif siap mendorong dan mendampingi ISI Yogyakarta untuk pengembangan seni sebagai atraksi wisata budaya. Mahasiswa/i ISI Yogyakarta sebagai agen perubahan yang bisa mengembangkan dan membawa pariwisata khususnya Atraksi Wisata Budaya menjadi lebih baik di masa depan. Mahasiswa termasuk dalam unsur Pentahelix Pariwisata (akademisi). Mahasiswa harus memiliki pemahaman terhadap pentingnya pengembangan pariwisata Indonesia kedepan (Atraksi Wisata Budaya). Mahasiswa dapat memberikan peran kepada masyarakat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sehingga memberikan manfaat ekonomi dan nilai tambah kepada masyarakat lokal.***

No More Posts Available.

No more pages to load.