Menikmati Hangatnya Mentari Pagi dan Birunya Api Abadi Kawah Ijen

oleh -121 views

BANYUWANGI – Siapa yang tak kenal Kawah Ijen? Meski belum pernah berkunjung, namun kita familiar dengan destinasi wisata yang terletak di tiga kabupaten itu yakni Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso. Namun pintu utama masuk Kawah Ijen berada di Banyuwangi. Kawah Ijen terkenal dengan sunrise atau mentari paginya yang begitu indah. Selain itu, api biru abadi Kawah Ijen juga menjadi pemikat tak hanya wisatawan dalam negeri, namun juga mancanegara. Jika ingin melihat sunrise dan api biru atau blue fire Kawah Ijen, kita harus menyiapkan diri dengan maksimal. Sebab, butuh waktu dua jam untuk mencapai lokasi puncak kawah. Jalannya cukup terjal, sesekali datar. Untuk mendapatkan momen yang pas, kita harus bersiap menuju lokasi pada dinihari. Sebab, tiket masuk Kawah Ijen dibuka pada pukul 03.00 WIB.

 

Tenang saja, pengelola menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Meski pandemi COVID-19 belum usai, namun pesona Kawah Ijen tak menghentikan kunjungan wisatawan untuk melihat lebih dekat destinasi wisata dunia tersebut. Di pintu masuk pengecekan tiket, pengelola selalu mengingatkan untuk menjaga jarak. Peralatan seperti masker sudah pasti dibawa pengunjung oleh karena aroma belerang yang cukup kuat di kawah.

Sabtu dinihari, rombongan Kemenparekraf/Baparekraf yang bekerjasama dengan Garuda Indonesia mengunjungi Kawah Ijen pada kegiatan famtrip “Perjalanan Wisata Pengenalan Destinasi Prioritas Pasar Domestik/Nusantara”. Dengan hastag #TerbangAman dan #DiIndonesiaAja, Kemenparekraf/Baparekraf dan Garuda Indonesia mendorong penerapan protokol kesehatan secara disiplin agar perjalanan wisata berlangsung aman, nyaman dan bebas dari paparan COVID-19.

Perjalanan menuju Kawah Ijen cukup menantang adrenaline. Betapa tidak, jalan sempit bebatuan nan terjal adalah medan yang harus dilintasi. Jarak tempuh yang dilalui sejauh 35 kilometer dengan waktu tempuh paling cepat dua jam. Namun jika Anda tak memiliki banyak tenaga, bisa menyewa troli yang didorong dan ditarik oleh masyarakat yang banyak menawarkan jasanya.

Dari atas tebing Gunung Ijen, pesona blue fire sudah terlihat. Blue fire merupakan proses penguapan belerang yang terlihat berwarna biru terang saat malam hari. Pemandangan indah inilah yang mengundang banyak wisatawan untuk datang dan mengagumi fenomena yang hanya ada di Indonesia ini.

Setelah hari mulai terang, sayup-sayup warna blue fire memudar. Namun bukan berarti pesona Ijen menghilang. Di bagian lain akan terlihat Kawah ijen yang menawan berwarna hijau toska. Kawah Ijen bersifat asam dan memiliki kedalaman danau hingga 200 meter. Kawah Ijen memiliki luas mencapai 5.466 hektar merupakan kawah alami akibat letusan Gunung Ijen dan diyakini sebagai salah satu gunung berapi yang masih aktif.

Bukan tanpa alasan Kemenparekraf/Baparekraf dan Garuda Indonesia memilih Kawah Ijen sebagai salah satu destinasi yang dipilih pada kegiatan yang berlangsung pada 27-30 November 2020. Koordinator Pemasaran Area 2 Regional 1 Kemenparekraf/Baparekraf, Nailis Sa’adah menuturkan, secara keseluruhan destinasi dan akomodasi wisata di Kabupaten Banyuwangi telah menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Penggunaan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak adalah protokol kesehatan standar sebagaimana dianjurkan pemerintah pada masa pandemi COVID-19 ini. Edukasi protokol kesehatan adalah hal utama yang ingin dicapai pada event ini. “Famtrip ini bertujuan mengedukasi sekaligus mensosialisasikan protokol kesehatan di destinasi wisata yang kita kunjungi kepada masyarakat,” kata Nailis, Sabtu (28/11/2020).

Menurut Nailis, COVID-19 mengubah kebutuhan dan pola perilaku wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata. Salah satu hal yang mereka perhatikan betul apakah destinasi wisata menerapkan protokol kesehatan dengan baik. “Kalau dulu informasi yang dicari wisatawan terhadap destinasi wisata itu berkisar pada tiga hal yakni atraksi, aksesibilitas dan amenitas. Tapi pandemi ini tiga hal itu saja tak cukup. Aspek kesehatan juga adalah hal utama yang mereka butuhkan saat berada di destinasi wisata,” ujarnya.

Di sisi lain, Nailis menegaskan event ini diselenggarakan dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat destinasi yang sudah memenuhi standar protokol kesehatan dengan baik. Katanya, pandemi saat ini membuat kita harus beradaptasi dengan kebiasaan baru seperti mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Destinasi yang dikunjungi pada famtrip ini, Nailis melanjutkan, telah memenuhi standar protokol kesehatan yang baik dan diterapkan secara disiplin.

“Melalui kegiatan ini kami hendak mempromosikan destinasi yang telah menerapkan standar protokol kesehatan dengan baik kepada masyarakat, sehingga bisa menjadi tempat pilihan berlibur ketika pandemi usai,” kata Nailis.

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1, Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu menambahkan, famtrip ini sebagai upaya pemerintah mempersiapkan destinasi wisata untuk dapat dikunjungi kembali ketika pandemi berakhir. Melalui kegiatan Kemenparekraf/Baparekraf ingin memastikan kebutuhan wisatawan dapat terpenuhi pada obyek-obyek wisata di Indonesia, khususnya di Kabupaten Banyuwangi. “Kami ingin memastikan jika protokol kesehatan telah berjalan dengan baik agar dapat tersampaikan kepada masyarakat,” ujar Vinsensius.

Jauh sebelum tiba di Banyuwangi, suasana aman dan nyaman dirasakan mulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang juga menerapkan standar protokol kesehatan cukup ketat. Antrean pengguna jasa tertata baik dengan panduan jarak minimal 1,5 meter. Di counter Garuda Indonesia pun sama. Jarak aman diatur dengan baik. Pun halnya dengan kru maskapai yang menerapkan standar protokol kesehatan dengan penggunaan face shield dan sarung tangan.

Di kelas ekonomi, meski dalam satu baris terdiri dari tiga kursi, namun Garuda Indonesia mengosongkan kursi tengah. Sirkulasi udara juga HEPA (High Efficiency Particulate Air) Filter. “HEPA (High Efficiency Particulate Air) Filter merupakan sistem penyaringan udara di kabin pesawat di mana teknologi ini dapat menyaring partikel terkecil di udara seperti virus, bakteri dan kontaminan lainnya hingga 99,97 persen. Kami juga rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada pesawat kami,” kata Gita Indriyani Savitri perwakilan Garuda Indonesia. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.