JAKARTA — Anggota DPD RI/MPR RI Dapil DKI Jakarta, Achmad Azran atau yang akrab disapa Bang Azran, mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang mulai mendorong gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber, termasuk target penerapan pengelolaan sampah mandiri di 153 pasar di Jakarta.
Program tersebut diarahkan untuk mengurangi beban TPST Bantargebang melalui pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair maupun kompos.
Menurut Bang Azran, kebijakan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa persoalan sampah Jakarta tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pola “angkut-buang” seperti selama ini.
“Saya melihat ada keberanian politik yang mulai dibangun oleh Pak Gubernur untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah Jakarta. Ini langkah yang baik dan patut diapresiasi. Karena Jakarta memang harus bergerak menuju pengelolaan sampah modern berbasis pemilahan dari sumber,” ujar Bang Azran di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Namun demikian, Bang Azran mengingatkan bahwa persoalan sampah Jakarta adalah persoalan struktural dan membutuhkan konsistensi kebijakan, bukan sekadar program yang ramai di awal lalu melemah di pelaksanaan.
Pria asli Betawi itu menilai target pengelolaan sampah di 153 pasar harus dibarengi dengan kesiapan teknologi, sumber daya manusia, edukasi masyarakat, hingga pengawasan yang ketat agar tidak berhenti sebagai proyek seremonial.
“Jangan sampai semangatnya besar di publikasi, tetapi lemah di implementasi. Pengolahan sampah 24 jam, produksi kompos, hingga pengurangan kiriman ke Bantargebang harus punya indikator yang jelas dan transparan. Publik perlu tahu berapa ton sampah yang benar-benar berhasil dikurangi setiap harinya,” tegas Bang Azran.
Bang Azran juga menyoroti pentingnya melibatkan masyarakat secara nyata, khususnya pedagang pasar, komunitas lingkungan, RT/RW, dan sektor usaha seperti hotel, restoran, dan kafe yang juga menghasilkan volume sampah besar. Ia menilai keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah daerah.
“Kunci utamanya adalah membangun budaya disiplin memilah sampah. Kalau masyarakat tidak dilibatkan sebagai subjek perubahan, maka fasilitas secanggih apa pun akan sulit berhasil dalam jangka panjang,” katanya.
Lebih lanjut, Bang Azran mendorong Pemprov DKI Jakarta agar menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari ekonomi sirkular yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga.
Menurutnya, sampah organik dapat menjadi sumber energi dan pupuk, sementara sampah anorganik dapat membuka peluang industri daur ulang dan lapangan kerja hijau bagi masyarakat perkotaan.
“Sampah jangan lagi dipandang sebagai beban semata. Kalau dikelola serius, sampah bisa menjadi sumber ekonomi baru, membuka lapangan kerja, bahkan memperkuat ketahanan lingkungan Jakarta di masa depan,” ujarnya.
Bang Azran juga meminta agar Pemprov DKI memperkuat koordinasi lintas wilayah dengan pemerintah daerah penyangga, mengingat persoalan sampah Jakarta memiliki dampak regional yang luas.
Ia berharap program yang sedang dijalankan saat ini benar-benar menjadi momentum pembenahan total tata kelola sampah ibu kota.
“Jakarta membutuhkan kebijakan lingkungan yang berani, konsisten, dan berkelanjutan. Saya optimistis Jakarta bisa menjadi kota modern yang bersih dan sehat, asalkan semua pihak bekerja serius dan tidak sekadar mengejar pencitraan jangka pendek,” tutup Bang Azran.







