Gerakan BISA dan Bimtek Fotografi Perkuat Desa Wisata Kerobokan Bali

oleh -107 views

TABANAN – Kemenparekraf/Baparekraf kembali menggulirkan Gerakan Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA) dan Bimbingan Teknis (Bimtek) SDM Ekonomi Kreatif Fotografi di Bali.

Kali ini, program yang digelar Direktorat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, dilakukan di Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (4/12/2020).

Kegiatan ini diikuti 100 peserta yang terdiri dari pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di sekitar Tabanan.

Analis Koordinator Edukasi II/Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenparekraf, Jemmy Alexander, mengatakan Gerakan BISA menjadi jaminan berdenyutya kembali ekonomi di destinasi wisata.

“Kami yakin, tingkat kepercayaan pasar terhadap destinasi akan tinggi. Dengan beragam potensi dan dukungan yang ada, industri pariwisata di Desa Kerobokan akan pulih lebih cepat. Semua stakeholder punya komitmen yang sama untuk mewujudkannya,” kata Jemmy.

Dijelaskannya, Program BISA adalah kegiatan padat karya. Dan ada insentif yang diberikan melalui program ini.

“Kami memang memiliki komitmen kuat untuk mengembalikan perekonomian di destinasi wisata. Pariwisata harus terus memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.

Sementara Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Prof I Gde Pitana, mengungkapkan kesiapan Desa wisata Kerobokan di era new normal.

Menurutnya kesiapan masyarakat dan Desa Wisata Kerobokan dapat dilihat pada saat mengikuti Bimtek ini.

“Kita juga ingatkan mereka untuk menerapkan protokol kesehatan, minimal yang 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan  menjaga jarak diterapkan. Jika diterapkan, masyarakat dan destinasi siap menerima wisatawan dengan new normal dengan tatanan kehidupan baru,” kata Pitana

Pitana menilai pariwisata Indonesia harus Benchmarking dengan dunia luar. Karena semua negara mengalami hal yang sama dengan Indonesia.

“Tetapi jangan lupa Indonesia mempunyai bench market pasar nusantara yang luar biasa, dan inilah yang harus digerakan. Untuk 6 bulan kedepan, saya tidak  terlalu optimis dengan wisatawan mancanegara. Karena apa? Yang pertama ribet, yang kedua persyaratanya ketat, yang ketiga mereka dilarang keluar negeri oleh negaranya, yang keempat kita melarang mereka masuk dengan memberlakukan visa yang berat, yang kelima ekonomi mereka kacau,” ujarnya.

Ditambahkannya, pariwisata Indonesia bisa maju dengan menggerakan pariwisata nusantara dan pariwisata lokal di pulau sendiri.

“Jadi kita masih sangat mungkin menghidupkan pariwisata itu sendiri tetapi dengan pangsa pasar fokus pada nusantara. Saya berharap segera pulih dan saya yakin pariwisata kita akan segera pulih, baik secara makro maupun mikro,” tutup I Gde Pitana.(*)